Pada awalnya, kita telah sepakat untuk mengakhiri hubungan yang selama ini terjalin. Kata-kata perpisahan pun terucap, seiring dengan derai air mata yang mengucur deras.

Ya, kita sama-sama menyadari. Perpisahan adalah keputusan terbaik. Dan sejak saat itulah, di hati masing-masing, kita sama-sama berjanji, untuk memulai episode hidup yang baru.

Namun, seiring waktu yang berjalan detik demi detik, aku tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwasanya rasa itu kembali muncul. Kenangan tentangmu pecah bertaburan di segenap penjuru kamar. Dada ini sesak, sesak karena rindu.

Rindu menghajarku hingga babak belur. Aku yang tidak tahan memutuskan untuk mengucap kata maaf dan mengajakmu kembali. Akan tetapi, sebuah kabar menyakitkan hinggap di telinga: kamu telah bertemu orang baru.

 

1. Sementara aku masih meratapi kepergian, kamu telah sepenuhnya berdamai dengan masa lalu

Kamu telah sepenuhnya berdamai dengan masa lalu

Kamu telah sepenuhnya berdamai dengan masa lalu via http://unsplash.com

Kiranya bertemu orang baru dan memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya, telah membuktikan bahwasanya kamu sudah sepenuhnya berdamai dengan masa lalumu. Karenanya, teriakanku untuk mengajakmu kembali adalah sebuah kesia-siaan.

2. Karena kata-kata perpisahan yang terucap terlanjur mencipta luka, maka kesungguhan hati tidak akan pernah mampu untuk membuatmu kembali

Kesungguhan hati tidak akan pernah mampu

Kesungguhan hati tidak akan pernah mampu via http://unsplash.com

Meski hatiku bersungguh-sungguh untuk mengajakmu kembali, luka akibat perpisahan terlanjur membekas. Apalagi, pengalaman menjalin hubungan denganku telah memberimu sebuah pelajaran berharga, bahwasanya kamu bukan orang bodoh yang ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.

3. Mungkin pada akhirnya, aku harus mau menerima kenyataan, bahwasanya aku dan kamu punya dunia yang tidak lagi sama

Aku dan kamu punya dunia yang tak lagi sama

Aku dan kamu punya dunia yang tak lagi sama via http://unsplash.com

Kisah masa lalu beserta luka yang menyertainya telah kamu kubur dalam-dalam. Kamu seolah berkata, "Tidak baik untuk terus memaksa serta menyakiti diri. Karenanya, berlapang dada adalah sebuah keputusan terbaik. Betapapun sakitnya, betapapun perihnya."

4. Karena hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. Mau tidak mau, aku harus belajar untuk merelakan

Mau tidak mau, aku harus belajar untuk merelakan

Mau tidak mau, aku harus belajar untuk merelakan via http://unsplash.com

Sampai kapanpun, penyesalan tidak akan pernah mampu untuk mengubah keadaan. Kamu seolah berkata, "Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan, bukan? Karenanya, daripada menghabiskan waktu untuk terus-terusan menyesal, bukankah lebih baik jika belajar untuk merelakan? Yakinlah, suatu saat, ada bahagia yang bisa kita temukan di tempat lain."

5. Jika memang tidak ada harapan yang tersisa, kiranya sang waktu bisa menjadi obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka

Hidup harus terus berlanjut, bukan?

Hidup harus terus berlanjut, bukan? via http://unsplash.com

Kamu telah menutup pintu untuk kembali. Karenanya, tidak ada lagi harapan yang tersisa. Kamu seolah berkata, "Hidup harus terus berlanjut, bukan? Percaya saja pada sang waktu. Ia punya obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Yakinlah, suatu saat, akan ada orang baru yang muncul dengan cara tidak terduga."