Aku ingat sebuah peribahasa lama, “Intan tetaplah intan, sekalipun di Mulut Anjing”. Sayangnya aku bukan Intan. Dan lingkunganku juga tak seperti mulut anjing.

Usaha mencari sesuap nasi yang halal dan berkah itu susah. Kadang kita harus berpura-pura menjadi orang lain terlebih dahulu. Kolektor topeng lebih tepatnya. Kita harus mengeluarkan topeng ini dan itu dalam semua kondisi. 

1. Salahkah jika orang dengan kemampuan biasa, ingin lebih sempurna?

wanna be beautiful? via http://lovelytoday.com

Menariknya, orang lain selalu melihat atas apa yang terlihat sempurna. Apa yang tampak dari mata luar seolah menjadi patokan bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik. Orang-orang akan berusaha tampil cantik, tampan, ingin selalu terlihat pintar dan kaya.

Lantas untuk apa? Untuk membuat orang lain terkesan? Come on, just for that? Seriously? Aku pun mungkin juga demikian.

Memang salah ya? Tidak sepenuhnya kalau menurutku. Tapi, apakah semua improvement dalam diri kita harus selalu didasari “apa kata orang lain?" sungguh terlalu dangkal jika itu adalah alasan sesungguhnya. Harusnya kita ingat bahwa kita tidak hidup untuk orang lain. Kita hidup untuk diri kita sendiri dan Tuhan, jadi mengapa kita terpesona dengan pujian dan selalu gamang dengan cacian?

2. Cari muka kepada orang lain, apakah salah?

Sibuk cari muka? via http://blogspot.com

Advertisement

Ada yang bilang, lebih baik edit muka via photoshop daripada sibuk bermuka dua atau sibuk cari muka. Entahlah, kalimat tersebut hanya gurauan meme yang sekarang lagi happening. Tapi coba resapi lebih dalam tentang kalimat dalam meme tersebut. Cari muka, bermuka dua atau whatever. Mari kita tanyakan pada diri kita terdalam, kita masuk dalam tipe orang bermuka dua? Orang yang cari muka? Atau orang yang apa adanya tapi sebenarnya ada apanya?

Sekali lagi, hal ini tidak sepenuhnya salah, juga bukan hal yang sepenuhnya dapat dibenarkan. Apa yang ingin kita cari dari aktivitas tersebut? Pujian? Kepercayaan? Persahabatan?

Menurutku, tidak ada hal yang baik abadi (pujian, kepercayaan, dan persahabatan) yang akan diperoleh dari cara yang ‘agak’ kurang terpuji. This is just my version. Tampil apa adanya dan jadilah baik.

3. Terlihat pandai tapi sebenarnya kosong

Tong kosong nyaring bunyinya. via http://blogspot.com

Tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang banyak bicara, namun malas dalam bekerja. Aku tidak sedang menyindir siapapun, namun sejujurnya hampir dimanapun kita berada akan selalu dihadapkan pada kondisi ini. Entah kita sebagai objek atau bahkan subjeknya. 

4. Penuh politik, ambisi dan skenario, apakah menjadikan berkah?

Politik? via http://blogspot.com

Politik berhubungan dengan berpikir, bertindak dan mengeluarkan pendapat, baik dalam urusan negara, maupun bidang lainnya seperti pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya. Mengapa politik dalam arti ini begitu penting? Karena sejak dahulu kala, masyarakat mengatur kehidupan kolektif dengan baik mengingat masyarakat sering menghadapi terbatasnya sumber daya alam, atau perlu dicari satu cara distribusi sumber daya agar semua warga merasa bahagia dan puas.

Ini adalah politik. Dengan demikian, kesimpulan bahwa politik dalam suatu negara (state) berkaitan dengan masalah kekuasaan (power) pengambilan keputusan (decision making), kebijakan publik (public policy), dan alokasi atau distribusi. Luas banget ya cakupannya.

Dalam sebuah organisasi ilmu politik ini diperlukan, tapi dalam penerapannya seolah banyak yang melenceng dari apa yang seharusnya. Semua menjadi melenceng karena ambisi kita yang kadang salah dan selalu ingin menjadi pemenang. Segalanya jadi terasa kotor dengan skenario-skenario itu.

5. Sikut sana, sikut sini, memangnya bisa bikin bahagia?

Sikut-sikutan via http://blogspot.com

Lirik lagu Seurieus ini silakan dinikmati:

Jaman susah pikiran resah

Persaingan ketat butuh toleransi tinggi

Cari pacar atau cari kerja

Sama-sama berat terlalu banyak syarat

Sama-sama cari makan

Gak perlu sikut-sikutan

Kita semua pingin senang

Bukan pingin cari keributan

Sama-sama cari makan

Gak perlu sikut-sikutan

Kita semua pingin senang

Bukan pingin sikut-sikutan

Daripada pake emosi hilang akal sehat

Tapi tetep aja melarat

Lebih baik kita pake otak

'tuk tetep usaha biar cepet kaya

Ngapain coba saling menyerang dan sikut-sikutan, bukannya Tuhan Maha Kaya?

6. Jadilah jujur dan apa adanya

Jadilah jujur dan apa adanya via http://blogspot.com

Faktor agar kita mau dan sanggup buat jujur adalah atas kesadaran dari dalam hati. Kalau kita memang sudah yakin dan sudah siap menanggung semua resikonya, tentu kita tidak akan pernah ragu untuk berkata jujur. Kejujuran memang suatu kunci dalam kehidupan, just imagine! Kalau di dunia ini tidak ada manusia yang jujur? Semuanya berbohong, tentu takkan lama dunia ini akan hancur.

Sikap jujur itu mahal dan kepercayaan itu merupakan bonus dari kejujuran. Kalau kita sudah terkenal suka berbohong, tentu banyak orang yang akan ragu hilang kepercayaan. Efeknya, kemungkinan kita merasa tersisih, terpinggir, dan terasingkan.