Jangan pernah menyesal, Sayang. Cinta kita tak salah. Cinta kita tak ada bedanya dengan mereka yang cara berdoanya sama. Kuatlah dalam rintangan! Cinta kita juga berasal dari Sang Cinta. Hapuslah air matamu, Sayang. Jika orang tua kita tak merestuinya, ini hanya masalah waktu saja. Kelak mereka juga tahu kalau cinta anaknya sama dengan cinta mereka berdua.

Sayang, kamu tahu kan apa yang kita lakukan jika kita sama-sama tak berdaya? Tak ada salahnya kita mengadu kepada Sang Cinta dan memohon kekuatan dari-Nya. Marilah kita berdoa dengan cara kita masing-masing. Aku yakin Dia tak menutup telinga hanya karena cara berdoa kita tak sama.

1. Tuhan yang kami panggil dengan berbagai nama, yang kami sembah dengan berbagai cara, yang kami kenal dengan berbagai agama.

Cara doa yang tak sama via http://3.bp.blogspot.com

Tuhan yang kami panggil dengan berbagai nama, yang kami sembah dengan berbagai cara, yang kami kenal dengan berbagai agama.,

Terimakasih atas cinta yang telah Kau curahkan kepada kami. Cinta yang mampu menembus sekat-sekat perbedaan. Cinta yang menghiraukan perbedaan dan mensyukuri keragamaman. Engkaulah Sang Cinta, yang tak henti-hentinya melimpahkan rasa cintanya kepada manusia-manusia ini. Engkau tidak ada pilih kasih. Kepada siapa pun, Engkau menganugerahkan cintamu.

Engkau mengizinkan kami untuk saling mencintai, walau banyak manusia yang menghujat ikatan ini. Kami banyak belajar akan cintamu yang universal, yang tetap menyelip masuk melalui celah-celah keragaman. Termasuk keragaman agama kami ini.

2. Engkau pasti melihat tubuh kami saling mendekap untuk saling menguatkan. Air mata kami tercurah bebas karena tak mampu membendung kesedihan.

Advertisement

Pelukanmu menenangkan hati via https://aws-dist.brta.in

Sang Cinta, salahkah kami merajut cinta yang berasal dariMu? Salahkah kami menjaga satu sama lain dalam ikatan cinta ini? Kami yakin Engkau tidak buta. Engkau tidak tuli. Engkau pasti menyadari apa yang kami berdua alami. Engkau pasti melihat ketika tubuh kami saling mendekap dan saling menguatkan. Air mata kami tercurah bebas karena tak mampu membendung kesedihan.

Engkau pun pasti mendengar bentakan dari kedua orang tua yang menghujat jalinan cinta ini. Sindiran mereka yang menghakimi kami. Begitu najiskah cinta kami?

3. Jika salah satu dari kami pindah agama karena ingin menikah, kami sepakat lebih baik tidak menikah.

Cinta tapi beda via http://cdn.klimg.com

Jika salah satu dari kami bersedia pindah agama, mungkin saja kami akan lebih mudah menikah. Kami berdua sadar, memang itu pilihan yang praktis. Tetapi pilihan tersebut sangat bertentangan dengan pemahaman kami. Kami tidak mau pindah agama hanya karena mempercepat keinginan kami untuk menikah. Itu sama saja dengan mempermainkan keyakinan yang kami anut.

Jika salah satu dari kami pindah agama hanya karena alasan ingin menikah, kami sepakat tidak menikah. Kami berdua yakin bahwa cinta ini tidak salah hanya karena berbeda keyakinan. Jika cinta kami ini salah, Engkau seharusnya hanya mencintai salah satu dari agama kami ini. Jika cinta kami ini salah, maka Engkau tidak akan mencintai manusia-manusia yang berbeda keyakinan selain keyakinan yang Kau anggap itu.

4. Hal yang selalu Engkau tuntut ialah komitmen di antara kami.

Komitmen memperteguh cinta via https://andytri.files.wordpress.com

Kami yakin yang Engkau permasalahkan bukanlah perbedaan keyakinan kami. Melainkan komitmen di antara kami dalam jalinan cinta. Itulah yang kami percaya sampai saat ini. Apakah kami selalu setia? Apakah kami selalu menghargai? Apakah kami selalu membuka diri untuk memperbaiki diri satu sama lain? Bukankah Engkau ingin cinta yang dari pada-Mu, melahirkan kebahagiaan bukan kesengsaraan?

Itulah yang kami percaya. Karena Engkau, Sang Cinta ingin membagi cinta kepada kami agar dapat merasakan kebahagiaan yang Engkau rasakan itu.

5. Kami berdua bukanlah anak yang tak tahu apa yang diperbuat dan tidak mau mempertanggungjawabkan tindakannya.

Melangkah berdua via http://solarphotographers.com

Kami sadar bahwa cinta itu penuh pengorbanan. Kami juga sadar bahwa pengorbanan itu menjadikan kami sebagai manusia yang sangat menghargai cinta. Kami berdua sepakat untuk mengambil resiko itu. Memang keputusan kami sedikit gila atau memang gila? Tapi biarlah! Kami berdua bukan anak-anak yang tidak tahu apa yang diperbuatnya dan tidak mau mempertanggungjawabkan tindakannya. Walaupun dengan kondisi seperti ini, kami berdua tetap mengucap syukur atas kekuatan, kesabaran, pengertian, dan cinta yang Kau curahkan kepada kami.

Sungguh indah yang kami rasa, ketika aku tak lagi sanggup dengan tamparan dari tangan ayahku. Kau mengadiahkan malaikat disampingku. Dia selalu menguatkanku melalui elusan tangannya di pipiku. Mulutnya melontarkan kalimat penyemangat dan senyuman indah yang menguatkan. Ketika dia menangis karena selalu dihakimi, Kau selalu menjadikan bahuku sebagai tempatnya meluapkan kesedihan dan mengadukan kepahitan hatinya kepadaku.

Inilah doa dari hamba-Mu yang saling mencintai, yang juga ingin Kau restui.

Amin.