Perjuangan di universitas kuliah sangat kecil di bandingkan dengan perjuangan di universitas kehidupan di masa depan. Wanita yang hebat akan menjadikan anak dan negara yang hebat!

 

 

1. Kuliah baru semester empat, udah ngeluh sama tugas tugas dan segala tetek bengeknya

Dedek lelah bang.

Dedek lelah bang. via http://googleimages.com

Ngampus pagi sampe sore, pulang sore langsung ngerjain tugas praktek, beres itu ngerjain tugas kelompok abis gitu pulang malem  kelarin makalah-makalah dengan deadline di depan mata. Tidur larut, bangun pagi kemudian ngampus lagi, kemudian ……..

Semuanya serasa jadi rutinitas yang bikin jengah dan lelah fisik maupun batin. Terkadang kita merasa gak sanggup dan begah dengan segala tugas dan segala macam hal lainnya. 

2. Terkadang beranggapan ‘lelah’ pun sudah teralu lelah merasa lelah

Segala sesuatu itu  pasti ada capeknya.


Kuliah capek,

Beresin rumah capek,

Ngurusin anak capek,

Liburan menyenangkan -tapi capek juga akhirnya-

Kerja yang menghasilkan uang pun capek,

Tergantung bagaimana kita menghadapi ini semua. Akankah waktu yang tersedia –yang hanya sedikit- kita gunakan untuk mengeluh ? Bandingkan jika waktu tersebut dimanfaatkan untuk hal positif. Pasti akan berbeda kan hasilnya? Manfaatkan waktu yang tersedia untuk melakukan hal-hal positif lainnya. 

3. Kenapa perempuan yang lelah dengan aktivitas kuliah nya terkadang melontarkan: ‘aku pengen nikah aja lah, capek!’ ?

Aku capek! Mau nikah aja~

Aku capek! Mau nikah aja~ via http://googleimages.com

Apakah menuntut ilmu di dunia perkuliahan sebegitu menyiksanya? Melelahkan memang. Tapi banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi padatnya waktu dan banyaknya tugas. Masih ada waktu senggang yang dapat dimanfaatkan untuk waktu lain. Waktu luang itu pakailah untuk me-refresh hati dan pikiran. Lakukan hal-hal positif yang dapat men-charge otak dan pikiran kita. Bukan mengeluh dan menggerutu. Kalau masih ada hal positif yang dapat kita lakukan kenapa kita melakukan yang negtif? J


‘Bagaimana kita mengurus rumah, suami dan anak kita jika mengurus diri sendiri saja sudah mengeluh seperi itu.?'

4. Pernikahan itu universitas kehidupan dan berlangsung seumur hidup

Pernikahan itu sakral

Pernikahan itu sakral via http://googleimages.com

Kuliah yang di perguruan tinggi dijalankan selama 3-4 tahun, sedangkan menjalani pernikahan dilakukan seumur hidup. Dalam dunia pernikahan kita akan mengalami banyak pembelajaran tentang kehidupan. Dalam perjalanan pernikahan nanti banyak lika-likunya, ada suka dukanya. Jangan sampai di perjalanan pernikahan, kita merasa lelah baik secara fisik maupun batin, merasa lelah sekali lalu dengan mudah memutuskan untuk berhenti saja. Pisah. Tidak semudah itu, apalagi bila kita sudah punya anak-anak. Yang paling penting diingat, menikah harus diniatkan sebagai ibadah. Belajar juga segala hal tentang persiapan pernikahan. Belajar bagaimana sikap menjadi istri yang taat dan ibu yang baik. Masih banyak yang harus dipelajari lagi untuk menjalani di kehidupan nyata.

5. Untuk mendapatkan suami hebat kamu gak perlu dandan berlebihan, cukup berprestasi lebih tinggi

Jodoh itu sepadan lho!

Jodoh itu sepadan lho! via http://googleimages.com

Karena lelaki sejati yang kalian idamkan tidak mau menikahi perempuan pemalas. Menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun saja malas, bagaimana mengurus rumah tangga yang seharusnya bertahan seumur hidup?
Perempuan itu harus gesit, tangguh, cekatan, rajin dan tekun.
Jadilah perempuan yang mandiri, mempunyai cita-cita tinggi dan bisa di andalkan.

Karena jodoh merupakan cerminan diri dan akan sepadan dengan kita. Maka dari itu persembahkan yang terbaik mulai dari sekarang dan mulailah dari hal-hal kecil terlebih dahulu. 

6. Karena pendidikanmu tak hanya menjadi pengetahuan belaka, seorang ibu akan jadi sekolah pertamanya bagi anak-anak

Ibu sekolah pertama untuk anak.

Ibu sekolah pertama untuk anak. via http://googleimages.com

Seorang ibu akan menjadi madrasah pertama bagi anaknya. Madrasah pertama dan utama yang akan membentuk diri dan kepribadian anaknya.

 

“Setiap anak di wariskan tingkat intelektual dari kromosom 1 gen ibunya, bukan ayahnya. Oleh karena itu carilah calon istri yang panda, bukan cantik” –Dr. Rina Masadah Sp.  PA, M.phil-

 
“Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas.”  –Dian Sastrowardoyo-

Dipuji cantik memang menyenangkan, tetapi dikagumi karena prestasi yang kita miliki jauh lebih membanggakan. Menjadi Ibu adalah kodrat wanita. Namun untuk menjadi wanita cerdas,  itu adalah pilihan!

7. Tetap semangat dan terus berjuang. Perjuanganmu masih kecil, menjelang pernikahan ada banyak yang harus kamu hadapi

Semangat dan terus berjuang!

Semangat dan terus berjuang! via http://googleimages.com

Perjuangan di dunia perkuliahan hanya secuil di bandingkan dengan perjuangan seorang wanita hebat yang patuh pada suami, mendidik anak, mengurus rumah tangga setiap hari dan segala hal yang akan menerpa di kehidupan. Pernikahan itu sakral, bukan sebatas hal ‘aku cinta padanya dan aku akan menikah dengannya’. Tapi pernikahan merupakan pemenuhan separuh agama. Melaksanakan pernikahan untuk beribadah.

Ada hadist yang mengatakan bahwa Perempuan adalah tiang negara. Apabila Perempuan itu baik, maka baik pula negaranya. Apabila Perempuannya buruk, maka buruk pula negaranya.
So, tetap semangat belajar ya! Masa depan ada di tangan kita. Tak hanya untuk anak kita, atau keluarga kita tapi untuk generasi negara selanjutnya.