Duduklah sebentar kawan. Ayunan ini ada untuk digoyangkan. Ditemani semilir angin menggulung pasir. Kiranya engkau mau berbagi tempat denganku.

Atau aku yang akan duduk di hatimu. Kita bisa lakukan apa saja di sana. Bermain gundu dan berlari mengejar masa lalu.

1. Kita dan Sekotak Masa Lalu

Duduklah di sampingku via http://www.1freewallpapers.com

Bukankah kau yang mahir melempar gaping. Lalu lihai berloncatan di lantai. Bergambar kotak-kotak bermahkota gunung. Dari sisa kapur yang kita ambil dari tempat mengaji.

Ingatkah kau kawan. Kita tertawa puas. Terpingkal-pingkal ketika gaping itu terlempar jauh keluar arena. Terpental-pental di paving yang baru rampung minggu lalu. Ahh ya… Itu aku yang melempar.

Lalu dengan pongah memanjat pagar tetangga. Melengkingkan cita-cita. Kau ingin jadi guru. Aku tergelak dan berteriak, "DOKTEERRR!!"

Advertisement

Hahaa… Sesumbarnya kita kala itu. Hingga waktu mengambil alih keadaan. Semua berbeda. Kesibukan menyita segalanya.

2. Bertemu, Menjadi Mahal Tak Terkira

Menumpuk Janji Bertemu denganmu Lebih Sulit dari yang Kukira via http://3.bp.blogspot.com

Janji-janji untuk bertemu dan melahap hari bersama seperti rongsokan di gudang tambang. Menumpuk memenuhi ruang. Hanya satu dua kali kita benar-benar memungutnya. Itu pun sudah terkoyak masa.

Dan jika waktu menghampiri. Kita seperti orang gila bertemu di pasar minggu. Hiruk pikuk. Ramai dengan celoteh tak terkendali. Sesekali melempar gulungan perkamen. Yang lapuk. Tapi tetap nikmat diurai bersama.

3. Akhirnya, Masa itu Datang Juga

Kini kau tak lagi sendiri via http://gambar88.com

Izinkan aku duduk lebih lama di hatimu kawan. Aku tak ingin kisah kita seperti novel yang habis tutup buku. Cerita ini tetap terpatri di bingkai-bingkai senyum kita. Terukir sempurna selayak purnama malam ini. Berkelopak pelangi. meski kita tak lagi di tempat yang sama.

Tempo hari, kau memberiku kabar tentang pernikahanmu. Kau tahu. Itu membuatku sesak sekali. Ada kegamangan di sudut mata. Yang berakhir buncah. Pecah.

4. Penantianmu, Berakhir Sudah

Inilah yang kau nanti di malam-malam panjangmu via http://cahayanabawiy.com

Dan ini lah bulan yang kau damba. Yang kau nanti di malam-malam panjang. Teruntai berantai-rantai dalam doa. Terlalu biasa untuk dikatakan istimewa. Karna titik waktu mengubah dirimu. Menjadi wanita seutuhnya.

Maafkan aku. Yang tersayat. Karna kesempatan harus tertumpuk lagi di gudang tambang. Perbedaan benua membuatku terdampar di dimensi berbeda. Aku tak bisa sekadar menjamahmu. Atau duduk bersandar bahumu. Aku tak mampu.

5. Berbahagialah. Aku Masih dengan Doa Terbaik Untukmu

Selamat untuk momen terindah di hidupmu via http://assets.kompas.com

Tapi jangan khawatir kawan. Aku masih disini. Bersama doa yang selalu aku titipkan padaNya. Agar kau bahagia. Selalu bahagia. Dalam naungan kuasaNya. Kita akan tetap bersama. Menertawakan masa lalu. Menantang masa depan. Menjelajah impian. Mengibarkan harapan. Merangkai puzzle kehidupan.

Purnama masih tergantung di sana. Menanti waktu menghidangkan jamuan yang kau pesan seperempat abad lalu. Disusun cantik bersama cita-cita. Di atas meja cinta.

Dan aku akan menggoyang ayunan sendiri. Tersenyum. Berkaca-kaca. Berakhir terisak-isak. Membayangkan menghambur dipelukanmu hari nanti. Di singgasana ratu sehari.

Selamat untuk moment terindah yang takkan pernah kau lupakan. Untukmu, sahabat kecil, yang selalu duduk dihatiku. Selamat menempuh hidup baru.