Hidup terkadang seperti bermain kartu remi. Meski kamu sudah merencanakan dan mengira-ngira apa yang terjadi di babak hidup berikutnya, sesekali kamu harus menghadapi “kartu” yang tak terduga. Sama halnya dengan meniti cita-cita menjadi sarjana, terkadang kamu juga harus dihadapkan dengan sandungan yang tak kamu kira sebelumnya, sehingga kamu harus bertahan lebih lama dengan status mahasiswa dibandingkan teman-temanmu yang lainnya.

Saat teman-temanmu sudah ditanya,

“Kapan nikah? Kapan punya anak? “

Kamu harus kenyang dengan pertanyaan,

“Kapan lulus?”

Advertisement

Status mahasiswa yang masih awet kamu sandang selama bertahun-tahun membuatmu merasa tertekan oleh banyak hal. Tekanan dari orangtua, hingga cita-cita yang tak kunjung harus ditunda, membuatmu makin frustrasi setiap hari.

Tapi, jangan melarikan diri. Status mahasiswamu ini harus kamu hadapi dengan berani.

Boleh jadi kamu adalah mahasiswa yang sukses menyelesaikan teori dan mengukir segudang prestasi. Tapi, kamu tak kunjung lulus hanya karena terganjal skripsi.

Kamu hanya terkendala masalah skripsi via arsip.bewara.co

Menjadi mahasiswa tidaklah semudah menjalani studi seperti di SMA. Kebebasan untuk memilih berbagai mata kuliah atau mengambil bidang yang kamu minati adalah hal yang kamu miliki. Bukan hanya itu, kamu juga disuguhi dengan beraneka macam ragam aktivitas yang membuatmu tak sekadar mendengarkan dosen ceramah atau membaca diktat. Namun, hal ini bisa menjadi bumerang jika ternyata kamu tak pandai mengukir siasat untuk lulus cepat.

Dibandingkan hanya menjadi mahasiswa biasanya, kamu justru menjadi mahasiswa istimewa yang memilih sesuatu yang berbeda. Saat kuliah belum kelar, mungkin kamu memilih untuk sibuk menjadi aktivis kampus, mengikuti pertukaran pelajar ke berbagai negara, atau mungkin justru sibuk bekerja demi menjadi mahasiwa yang mandiri. Sampai-sampai kamu tak sadar bahwa waktu berjalan begitu cepat, dan ternyata masih ada tugas akhir bernama skripsi yang masih belum kamu penuhi.

Ibarat berangkat dari rumah menuju stasiun untuk mengejar kereta. Setelah melewati lalu lintas padat dan panas, sekarang kamu sudah sampai di depan pintu gerbang. Perjuanganmu hanya tinggal menukar uang yang sudah kamu kumpulkan dengan tiket agar bisa menggunakan kereta yang sudah kamu pesan.

Sayang, uang itu tak kunjung selesai kamu tukar.

Saking lamanya waktu yang kamu butuhkan untuk “menukar uang” alias menyelesaikan skripsi, kamu tak lagi percaya akan kemampuan diri sendiri. Kamu tak merasa punya ilmu yang mumpuni untuk segera membuat naskah pendadaran. Padahal, segala keraguan itu hanya membuatmu bertambah jauh dari “keretamu”.

Kejarlah kereta itu sebelum benar-benar meninggalkan stasiun. Kamu masih punya waktu.

Kesuksesan memang harus kamu perjuangkan sendiri. Jadi, tak perlu frustrasi saat harus berada di kampus yang sudah tak familiar lagi.

kamu merasa kesepian via www.nottingham.ac.uk

Tak kunjung lulus kuliah terkadang membuatmu serba salah. Kamu dituntut untuk rajin datang ke kampus, tapi kamu justru enggan melangkahkan kaki karena kampus sudah tak lagi seasyik dulu. Banyak hal yang melatarbelakangi, mulai dari tak ada lagi sahabat dekat yang dulu selalu makan bersama sehabis kelas, teman-teman seperjuangan yang tak bisa kamu sapa saat melewati depan kelas. Dan mungkin pemandangan orang-orang asing yang sudah tak kamu kenal lagi. Bagimu, kampus serasa menjadi tempat yang asing.

Alih-alih kamu memutuskan untuk menyerah karena merasa kesepian, padahal kesuksesan itu terkadang hadir diwujudkan tak harus gerombolan. Sesekali kamu harus menjadi mandiri untuk membuat impianmu menjadi nyata. Kamu tak harus merasa sendirian atau merasa malu dilihat adik-adik angkatan, toh mau bagaimanapun mereka juga akan melakoni hal yang sama sepertimu sekarang.

Setiap mahasiswa kuliah ibarat orang-orang yang sedang mencari tiket bepergian. Lulus cepat atau lama adalah perkara siapa dulu yang mau mengantri di depan.

Kamu memang ada di barisan belakang. Tapi percayalah, kamu akan bisa maju ke depan jika bersabar, bukannya malah kabur dari antrian.

Rasa takut datang ke kampus sering membuntutimu layaknya hantu. Tapi tahukah kamu hal itu SAMA SEKALI tak membantumu?

Jangan takut pada kampus via www.huffingtonpost.co.uk

Saat status mahasiswa sudah kamu jabat melebihi waktu yang ditentukan, maka gak jarang kamu akan terserang rasa takut untuk melangkahkan kaki ke kampus. Layaknya hantu, bayang-bayang tidak menyenangkan akan menyelimuti pikiranmu sejak bangun pagi. Kamu khawatir jika semua aparat kampus akan kaget jika ternyata kamu masih menjadi mahasiswa, kamu malu jika penjaga perpus akan mempertanyakan kenapa kamu masih saja sibuk di sana. Kamu mungkin juga khawatir jika adik angkatan akan menganggapmu mahasiswa yang tak bisa menyelesaikan kuliah. Hingga dosen pembimbing yang jadi tampak mengerikan juga ada dalam pikiran saat kamu mulai membayangkan kampus yang dulu menyenangkan.

Tapi ketakutanmu itu sebenarnya ada di kepalamu sendiri. Cobalah ingat kakak-kakak kelasmu yang kelulusannya juga sempat tertunda. Apakah kamu pernah menertawai mereka? Apakah kamu pernah mendengar ibu penjaga perpus atau bapak kantin membicarakan mereka dengan nada meremehkan? Tidak, bukan? Cepat atau lama, semua orang menghargai jika kamu memang berusaha.

Boleh jadi orang-orang yang mempertanyakan kabarmu yang tak kunjung lulus menganggu pikiranmu, tapi kamu juga perlu tahu bahwa memikirkan itu terus-terusan tidak akan membantumu meraih tujuan. Satu-satunya yang akan membantu adalah papan ketik, Microsoft Word, dan tanganmu.

Rasa takut itu layaknya hantu, dia membuntutimu sampai kapanpun tanpa pernah mau membantumu menyelesaikan masalah, tapi justru membuatmu semakin menjauh dan tak menyelesaikannya. Mungkin kamu lelah, gak ada salahnya mulai sekarang kamu hadapi ketakutanmu dengan caramu. Kamu bisa mengingat senyum orang-orang yang tercinta bila lulus segera atau impian yang selama tertunda karena syarat sarjana yang belum kamu genggam.

Bukankah hidup adalah investasi? Dari pada mengutuki rasa takut, kenapa tak kamu gunakan energimu untuk menuntaskan skripsi?

Tak kunjung lulus kuliah juga menjadi beban pikiran orangtua. Gak jarang, ini membuatmu serba salah pada akhirnya. Tapi jangan mengutuki apa yang belum bisa kamu beri. Sebaliknya, hadapi hutangmu itu dengan berani.

Fokus pada pendadaran via www.huffingtonpost.com

Orangtua adalah sosok penting dibalik semua yang terjadi padamu. Saat kamu tak kunjung lulus, terkadang mereka menjadi semakin rajin menanyakan kabarmu. Beberapa mungkin akan mendapatkan dukungan, tapi beberapa mungkin justru mendapatkan hal yang sebaliknya. Hal ini kerapkali membuatmu merasa frustrasi, hingga kamu memilih untuk menutup telepon setiap kali orangtuamu menghubungi. Atau mungkin kamu memilih untuk jarang pulang karena bosan jika harus ditanya-tanya.

Tanpa harus lari dari kenyataan, akan lebih bijak jika kamu mau menghadapinya dengan berani. Bolehlah kamu merasa menyesal karena tidak mampu menepati janji untuk lulus tepat waktu, tapi bukan berarti kamu harus mengutuki itu tiap hari. Bolehlah kamu merasa tak enak hati dengan orangtua yang sedikit kecewa karena kamu tak kunjung sarjana, tapi bukan berarti kamu harus melarikan diri dari “perhatian” yang mereka berikan. Gak ada salahnya kamu mulai bangun dan sibukkan dirimu dengan apa yang bisa kamu berikan pada mereka, misalnya menyiapkan kapan kamu akan pendadaran.

Inilah saatnya kamu tunjukkan pada meraka bahwa kamu tak diam saja, tapi kamu juga berjuang sekuat tenaga.

Lulus lama itu bukan berarti kamu tak punya kemampuan untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Kamu hanya bukan orang yang menempatkannya jadi prioritas kesatu.

Maukah kamu bangun segera? via nickfalkner.com

Tak dapat dipungkiri, orang yang lulus lebih dari tenggang waktu normal akan membuatmu rela mendapatkan cap “tidak niat” atau “bodoh”. Padahal, kamu lulus lama bukan karena kamu tak mempu menyelesaikan masalah atau membuat makalah. Tapi karena kamu menempatkan studi menjadi nomor sekian. Tak seperti teman-temanmu yang lulus tepat waktu karena hanya fokus kuliah, kamu justru sibuk dengan kegiatan yang beraneka ragam.

Tanpa harus menyerah menyerah di tengah jalan, maka sekarang saatnya kamu unjuk gigi bahwa kamu juga bisa melakukan hal yang sama seperti teman-temanmu lainnya. Bagimu, lulus hanya soal waktu.

Jadi akankah kamu bangun lagi dan mengambil antrian terdepan untuk memesan kereta untuk menjemput mimpi lainnya?

Masa depanmu bukan ditentukan oleh seberapa lama kamu kuliah, namun semangatmu untuk menolak kalah. Lalu, masih mau menyerah?

Apakah kamu akan menyerah? via imgkid.com

Waktu memang tak pernah bisa diputar kembali ke belakang. Selama ini mungkin kamu merutuki nasib yang telah membuatmu terhambat untuk lulus cepat. Dosen yang tak kunjung mengoreksi skripsian, kesibukan bekerja, atau kondisi kampus selalu menjadi kambing hitam. Semua yang sudah lewat biarlah lewat, tak perlu lagi kamu pusingkan. Mulai sekarang gak ada salahnya kamu buka mata dan membuat aksi nyata dengan bergegas untuk menuntaskan kewajiban. Kamu bisa merubah keadaan jika kamu mau berjuang. Kamu bisa membuat menjadi sarjana kalau kamu mau menjadi skripsi jadi prioritas paling depan.

Tanpa harus sibuk menyesali diri, yakinlah terkadang lama tidaknya masa studi juga tidak menentukan kesuksesan di masa depan. Karena yang menentukan adalah seberapa keras kamu mau memperjuangkan meraih mimpi-mimpimu. Nah, jika menjadi sarjana adalah salah satu mimpimu, maka kenapa kamu harus menyerah dengan begitu mudah hanya karena satu kewajiban yang belum kamu tuntaskan?

Ingat, kamu sudah sejauh ini. Jangan lari. Hadapi.

Menyandang mahasiswa tua karena lulusnya lama memang beban yang tak mudah. Tanpa harus menyesali keputusan-keputusan di masa lalu yang membuatmu terjebak dalam keadaan ini, bangun dan bergegaslah melakukan aksi untuk mewujudkan mimpi menjadi sarjana. Memang tidak mudah, tapi bukan berarti kamu tak bisa.

Semoga berhasil, ya.