Artikel ini adalah bagian dari liputan khusus Hipwee seputar ‘Cagub Series Pilkada DKI Jakarta 2017’. Bukan propaganda atau analisis politik, hanya berusaha menawarkan cerita politik dari sudut pandang anak muda. Karena politik sebenarnya adalah dari, oleh, dan untuk rakyat, termasuk kamu.

Aduh ini kenapa sih kok ikut-ikutan bahas politik, justru buka Hipwee gara-gara males denger politik

Tahan dulu guys kalau kalian berpikiran gitu, ini memang bakal jadi bagian pertama dari series khusus membahas kandidat calon Gubernur untuk Pilkada DKI 2017. Cuma ingin berbagi cerita yang menurut Hipwee penting bagi anak muda, ya salah satunya politik. Bukan juga karena Hipwee dapat sogokan dari salah satu kandidat atau sok pintar ikut-ikutan bahas permasalahan negara. Mari ‘bego-bego’an bareng bahas politik. Tapi jangan sampai kamu malas atau bahkan sama sekali nggak peduli bagaimana orang-orang ‘di atas sana’ membuat keputusan untuk mengatur kita semua. Terutama kalau sebenarnya di negara demokrasi tercinta ini, kekuatan tertinggi untuk memilih siapa yang berdiri di pemerintahan tuh ya di tangan kamu semua rakyat Indonesia, idealnya.

Nah calon Gubernur DKI 2017 sudah ditetapkan. Pasangan yang bakal melenggang maju ke pemilu Gubernur DKI tahun depan adalah incumbent atau petahana Ahok – Djarot Saiful Hidayat ditantang oleh Anies Baswedan – Sandiaga Uno, dan Agus Yudhoyono – Sylviana Murni. Untuk bagian pertama kita akan bahas sosok Agus Harimurti Yudhoyono. Kenapa bahas anak SBY yang kayaknya bakal pakai ngusung nama AHY ini duluan? Jangan-jangan Hipwee dibeli petinggi Demokrat. Tenang…bukan untuk alasan berbau agenda politik gitu kok, tapi lebih alasan sarat kebosanan penulis kekinian yang mutusin tema tulisannya pakai ngitung kancing.

Harapan muluknya sih semoga liputan kali ini mendorong kamu-kamu yang muda dan penuh potensi untuk jadi pemimpin masa depan untuk lebih kritis, objektif, serta nggak apatis terhadap politik. Tapi realitasnya Hipwee sudah bersyukur kok kalau artikel ini nggak dihujat,  semoga bermanfaat ;).

Muda, gagah, dan berparas rupawan itu juga modal politik yang sah. Langsung jadi pujaan bagi yang matanya tercerahkan, atau dihujani sangsi karena tidak tampak seperti politisi kebanyakan

Sudah berasa cuplikan dari drama korea DOTS aja via www.instagram.com

Advertisement

Agus Harimurti Yudhoyono adalah seorang Mayor Infanteri TNI AD berusia 38 tahun yang tampaknya tidak hanya mewarisi nama belakang ayahnya mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tapi juga kegagahan perawakan dan wajahnya. Kalau dulu sewaktu SBY mencalonkan diri, masyarakat sering bernostalgia wah nih bapak pasti mudanya ganteng. Kalau sekarang anak sulungnya ini sih memang masih ganteng banget, jadi nggak perlu awang-awang. Bahkan nggak sedikit netizen yang menjulukinya sebagai Kapten Yoo Si Jin-nya Indonesia.

Gimana sih Hipwee katanya mau bahas politik, kok nggak mutu gini bahas ganteng-ganteng segala?

Nggak ada rumusnya kalau politisi tuh dilarang ganteng

Eits jangan salah, dalam pemilihan politik penampakan luar itu terkadang adalah segalanya. Bagaimana coba caranya menarik perhatian dan meyakinkan jutaan pemilih yang nggak bisa didatangi satu per satu, ya lewat citra yang mereka lihat di media. Banyak politisi yang punya tim khusus untuk memilih baju atau peci seperti apa yang harus dipakai untuk event apa, supaya tampil menarik di depan elektoralnya. Kalau sedari lahir sudah sedap di pandang mata, ya jelas daya tariknya makin besar. Besar dalam artian tidak hanya akan ada golongan seperti ibu-ibu arisan yang langsung klepek-klepek, tapi juga banyak kelompok pesimis yang lebih yakin sama politisi yang tua berwibawa dan telah banyak makan asam garam, mungkin juga asam lain kaya kolesterol. 

Hipwee sih nggak langsung terpesona dan bukan juga termasuk golongan yang pesimis. Dengan harapan, calon pemimpin yang mungkin memang terlahir dengan paras rupawan akan semakin terdorong untuk membuktikan kualitas dirinya. Mematahkan keraguan dari kelompok yang menuduh tidak ada substansi apapun dibalik popularitas fisik. Toh ada pemimpin ganteng yang nyatanya juga berkualitas, misalkan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau di atas.

Apalagi kalau anaknya mantan presiden. Garis keturunan masih seringkali jadi modal paling penting dalam pemilihan politik di kebanyakan negara Asia dimana budaya patron klien masih kental

Jadi pemimpin yang lebih baik dari sebelumnya via assets.kompas.com

Nama besar Yudhoyono juga tidak bisa dilepaskan kalau membahas calon kandidat yang satu ini. Banyak pendukung setia poros Cikeas yang menyambut hangat ‘putra mahkota’-nya, tapi banyak juga kelompok idealis yang langsung kecewa dengan nama belakangnya. Bagi mereka yang sudah enek dengan praktik politik Indonesia yang sarat hubungan kekeluargaan dan kedekatan personal, perlu kritis dan fokus mencari solusi jangka panjang dibanding hanya mengumpat. Ironis memang, tapi itulah realitas politik yang ada di Indonesia saat ini. Sebenarnya tidak hanya Indonesia, tapi juga negara-negara Asia pada umumnya.

Ketika hanya prosedur politik saja yang ditegakkan tanpa menjiwai semangat kebebasan demokrasi sesungguhnya, politik uang dan nepotisme sudah tentu akan cepat menjamur. Kondisi tersebut seringkali diperparah dengan kegagalan partai-partai politik, yang berhak mengajukan calon wakil rakyat, mengedepankan kepentingan rakyat sebelum kepentingan golongan. Jika sudah seperti itu, ya jadi tanggungjawab bersama terutama generasi muda yang akan mengambil alih untuk jadi kekuatan pembaharuan.

Penting artinya untuk memberikan edukasi politik sedari dini, supaya bisa lebih kritis dalam memilih. Pun bagi generasi penerus yang berani bertarung membuat perubahan dari dalam sistem, supaya idealismenya tidak akan langsung ‘tertelan’ oleh bobroknya kultur politik kita. Jadi janganlah sia-siakan suara politikmu dengan bersifat apatis hanya karena ada Yudhoyono lain yang mencalonkan diri. Tetaplah menilai tiap kandidat dengan bijak dan kritis, dengan atau tanpa nama belakangnya yang populer.

Minimnya pengalaman berpolitik, merupakan PR tersendiri bagi mayor ganteng satu ini. Tapi bukannya tidak mungkin, toh dua dari tujuh presiden kita berasal dari kalangan militer

Menanggalkan seragam militernya via www.instagram.com

Disamping nama belakangnya, minim atau bahkan nihilnya pengalaman Mayor Infanteri Agus Harimurti Yudhoyono memegang jabatan politik juga banyak dipermasalahkan. Sebenarnya kalau menurut Hipwee sih, jaman sekarang justru sulit cari politisi tulen yang cuma mengejar karier di politik. Banyakan juga pengusaha yang jadi politisi, akademisi jadi politisi, atau bahkan artis jadi politisi. Politisi dari kalangan militer justru mungkin citranya terbilang lebih positif karena sifat tegas dan disiplin yang melekat.

Tampaknya dibanding pengalaman, prinsip cari duit dan muka dulu buat modal politik itu lebih krusial. Kalau masalah muka sih bapak muda yang satu ini nggak perlu ditanya lagi, baik dalam artian muka sebenarnya atau popularitas di mata publik. Masalah duit, Hipwee yakin juga ada lah, mau dari warisan, sumbangan, atau utang. Tapi minimnya pengalaman yang perlu dikhawatirkan bukan lama menjabat jadi pejabat publik tapi bagaimana kandidat ini akan menyeimbangkan peran barunya sebagai calon gubernur yang harus melapor ke ketua partai pengusungnya, yang kebetulan adalah bapaknya sendiri. Sekarang saja banyak yang masih meragukan bahwa keputusan untuk pensiun dini dari militer dan terjun ke politik bukan sepenuhnya kemauan Agus Harimurti. Politik keluarga aja susah, ini didobel sama politik ibu kota, semangat deh mas. 

Terlepas dari siapa bapaknya atau bagaimana rupanya, kita perlu menilik kualitas kepemimpinan suami Annisa Pohan yang juga mantan ketua osis Taruna Nusantara ini tanpa bias

Rekam jejak akademis Agus cemerlang via www.instagram.com

Terlepas dari semua keraguan dan polemik pencalonan Agus Harimurti Yudhoyono di atas, jangan lupa juga untuk meluangkan waktu menilai kualitas pribadinya terutama sebagai pemimpin.

Pertama kalau lihat sejarah akademisnya, sepertinya tidak ada yang bisa menyangkal bahwa pria kelahiran Bandung, 10 Agustus 1978 ini adalah pelajar yang bertabur prestasi. Baik semasa mengenyam pendidikan dasar maupun setelah berkarier di militer. Meraih predikat terbaik di setiap jenjang pendidikan tampaknya sudah seperti makanan sehari-hari dari bapak satu anak ini. Baik dari sejak lulus dari SMA Taruna Nusantara yang tersohor itu, akademi militer, sampai menyelesaikan pendidikan masternya di tiga universitas ternama dunia.

Ambisi untuk terus belajar dan menjadi yang terbaik tentunya merupakan kualitas tersendiri yang didambakan dari seorang pemimpin. Kedua, tampaknya masyarakat juga tersihir akan kepemimpinan calon yang satu ini dalam mengepalai keluarga kecilnya. Netizen seringkali berkomentar lifegoal atau couplegoal di bawah postingan Instagram Agus atau istrinya Annisa Pohan. Bagi penggemarnya, perannya sebagai suami dan ayah merupakan proyeksi yang menjanjikan jika kelak terpilih mengepalai ibu kota. Jadi meskipun banyak yang meremehkan, sebenarnya banyak kualitas pribadi Agus Harimurti Yudhoyono yang layak untuk dipertimbangkan.

Lebih penting lagi, pilihlah program-progam terbaik untuk kemajuan ibu kota. Jangan cuma sibuk tanya kabar bapaknya atau mukanya yang menawan, uji-lah visi dan misi kepemimpinan yang dia tawarkan

Paling penting bertanya apa visi dan misinya mas dalam memimpin Jakarta? via 1.bp.blogspot.com

Tapi yang jauh lebih penting dari poin-poin di atas tentunya adalah visi, misi, dan program kerja calon satu ini dalam memimpin ibu kota. Dalam hal ini, tampaknya pasangan AHY dengan Sylviana Murni yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta memiliki start yang terlambat. Disaat dua pasangan lain sudah beradu program lewat media, Agus dan pasangannya tampak masih ‘selow’.

Yang menarik meski masih ‘selow’, pasangan Agus dan Sylviana justru melampaui dua pasangan lain dalam persentase dukungan kelompok pemilih muda. Menurut Lembaga Survei Indonesia atau LSI, pasangan Agus dan Sylviana mendapat 28,10% dari persentase dukungan pemilih usia 20-29 tahun. Tidak jelas juga apa benar-benar karena muka gantengnya yang bak Kapten Yoo Shi Jin, popularitas Agus Harimurti Yudhoyono memang terbukti tinggi.

Seharusnya kesempatan ini dimanfaatkan dengan memformulasikan program kerja yang kiranya sesuai dengan sentimen golongan muda. Namun jika program kerjanya nanti ternyata hanya kepanjangan dari agenda politik yang sudah usang, pasti popularitasnya di kalangan muda tidak akan bertahan. Pun kesempatannya untuk sukses jadi ‘kuda hitam’ dalam Pilkada Cagub DKI 2017 ini.

Terimakasih telah membaca sampai akhir ‘bego-bego’an politik ala Hipwee kali ini. Bagian kedua dari series khusus ini akan segera mengikuti. Tapi kandidat mana yang akan dibahas selanjutnya juga masih misteri karena penulis masih sibuk ngitung kancing. See you next time. 

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!