“Nak, kapan kamu mau nikah? Ibu dan Bapak sudah tua lho…”

“Gedung baru yang di sebelah terminal itu katanya akan dibuka untuk umum. Kamu nggak ingin segera nikah? Mumpung sewanya masih murah.”

Kalau sudah ‘usianya’, desakan untuk menikah pasti akan datang juga. Terutama dari Ibu, yang tidak pernah kehabisan ide untuk mendesakmu untuk segera ke pelaminan. Bosan nggak sih kalau setiap ketemu selalu ditanya mana calon menantu? Kalau kamu sudah punya pacar sih mendingan. Lha kalau masih jomblo?

Duh Ibu, biarkan aku bebas dulu. Nanti kalau sudah saatnya, kita akan beli kebaya baru.

1. Toh usiamu baru 25-an. Masih banyak cita-cita dan mimpi yang belum diwujudkan.

mimpi masih banyak yang belum terwujud via worldofvieta.tumblr.com

Kamu dan ibu jelas beda usia. Di era Ibumu dulu, usia 25 sudah sangat mendesak. Jika tidak segera menikah, kamu akan disebut perawan tua. Sementara saat ini, zaman tentu sudah berubah. Usia 25 ibaratnya hidup baru permulaan. Banyak cita-cita dan target yang ingin kamu kejar dulu. Masih banyak mimpi-mimpi yang ingin kamu wujudkan. Pernikahan adalah sesuatu yang belum kamu pikirkan.

2. Memang si ini dan si itu sudah menikah. Tapi apa kamu harus menikah hanya karena semua sudah menikah?

Advertisement

menikah bukan balapan lari via favim.com

Lalu Ibu akan mengungkit-ungkit soal teman-teman sebayamu. Ibunya si ini katanya sudah gendong cucu. Teman kamu yang itu, sudah menikah juga dan tinggal menunggu momongan. Bahkan teman kamu yang tomboy itu, kemarin juga sudah menyebar undangan. Di sini, rasanya kamu ingin bilah bahwa pernikahan kan bukan lomba makan kerupuk. Meski si ini dan si itu sudah menikah, tidak berarti kamu juga harus segera menikah.

3. Soal usia memang sudah saatnya. Tapi jiwamu yang masih sangat muda, rasanya belum siap jika harus memaksa berumah tangga segera.

masih suka main-main via fablefeed.com

Kalau dibilang muda, tentu tidak juga. Teman-temanmu yang menikah itu juga seumuran denganmu. Tapi kondisi setiap orang tentunya beda-beda. Temanmu siap dengan kehidupan rumah tangga, belum tentu kamu juga sama. Kamu bahkan merasa, jiwamu masih terlalu muda. Masih sering egois dan masih hobi main-main. Menjalani rumah tangga dengan segala konsekuensinya rasanya belum masuk ke dalam kepalamu.

4. Bukannya pilih-pilih, tapi yang klik di hati memang belum ada. Apa gunanya dipaksa, kalau memang hati belum siap menerima?

yang klik belum ada via www.tumblr.com

Alasan kamu bahwa belum ketemu jodohnya, seringkali dipatahkan dengan statement sederhana:

“Makanya nggak usah pilih-pilih. Yang penting baik dan bertanggung jawab.”

Wajar bila hatimu memberontak. Bukan pilih-pilih yang sedang kamu lakukan, tapi sebuah pernikahan lebih baik dilakukan dengan banyak pertimbangan bukan? Toh kamu juga ingin pernikahan yang selamanya. Mencari sosok yang benar-benar klik di hati adalah persoalan utama.

5. Sebenarnya, kamu masih berusaha mencari alasan yang tepat untuk menikah. Sebelum alasan itu terpikirkan, bagimu tak ada gunanya memaksakan.

masih mikir-mikir via blog.pof.com

Jiwamu yang masih muda dan masih ingin bebas meraih mimpi, seringkali mempertanyakan apa alasan untuk menikah. Saat teman seusiamu menikah, kamu akan bertanya-tanya dalam hati. Ngapain sih nikah di usia segini? Atau, hebat ya mereka sudah berani berkomitmen di usia yang masih muda. Alasan untuk menikah, adalah hal yang paling penting untukmu. Kamu tidak mau menikah hanya karena semuanya menikah. Kamu ingin menikah karena memang ingin menikah, bukan karena harus menikah.

6. Bukannya tidak ingin melihat Ibu bahagia di pesta pernikahan, tapi menikah bukan hal yang bisa diburu-buru juga.

tidak bisa buru-buru via thatsacutecouple.tumblr.com

Memang betul, usia dan kesehatan orang tua adalah alasan utama kamu didesak untuk menikah. Kamu juga bukannya tidak mau melihat Ibu dan Ayahmu tersenyum bahagia di pesta pernikahanmu kelak. Dengan jas dan kebaya yang memancarkan bahagia orang tua karena kewajibannya sudah purna. Tapi bagaimanapun juga pernikahan bukan sesuatu yang bisa diburu-buru seperti ujian. Kesiapan diri, baik mental maupun materi, adalah hal yang sedang kamu kejar.

7. Suatu saat kamu juga akan menikah, jika memang sudah waktunya. Jangan menikah jika alasannya hanya usia. “Sabar aja ya, Bu…”

nanti juga akan begini via indulgy.com

Bukannya kamu tidak ingin menikah. Hanya saja, sekarang memang belum waktunya. Masih banyak hal yang perlu kamu pelajari dan persiapkan. Jika nanti saatnya sudah tepat, kamu juga akan punya seribu alasan untuk menikah, bukan cuma hanya karena sudah usianya. Dengan begitu, kamu juga akan punya seribu alasan untuk mempertahankan rumah tangga kelak. Toh sudah bukan rahasia, bahwa menikah itu gampang. Yang penting ada calon, penghulu dan saksi. Yang berat itu menjalani kehidupan seetelahnya.

Karena semua akan menghadapi pertanyaan kapan nikah pada waktunya. Kalau sudah begini, percuma kamu beralasan panjang lebar. Lebih baik, tetap senyum dan bilang:

Sabar dulu ya, Bu. Suatu saat nanti, aku akan bawa calon mantumu, dan kita bisa sewa gedung itu.