Jodoh jelas sesuatu yang renyah sekali dibicarakan di umur kita sekarang ini. Pertanyaan, “Kapan nyusul?”, “Tunggu apalagi sih….” dan “Kok sendirian aja?” sering sekali datang. Sampai bosan menjelaskan dan menjawab dengan berbagai alternatifnya.

Ada yang bilang jodoh itu tidak perlu dicari. Toh selama kamu memantaskan diri dia akan datang sendiri. Ada pula yang berpendapat jika tidak diusahakan, ya jodoh tidak akan ditemukan. Ditengah semua pendapat, usaha — jadi benang merah yang menyatukan semua suara tentang jodoh dan pasangan masa depan.

Di tangan orang yang sudah punya calon pasangan mengusahakan jodoh berarti belajar menjaga hatinya. Tidak membuatnya badmood, berusaha membuatnya tertawa dengan cara-cara yang silly. Belajar jadi orang yang dipercaya agar kamu bisa meninggalkan perasaan tenang di hatinya.

Definisi mengusahakan jodoh untukmu yang masih sendiri juga sangat beragam maknanya. Kamu belajar berdandan sedikit-sedikit supaya lebih enak dipandang mata. Berusaha jadi orang yang lebih menyenangkan agar lebih enak diajak melakukan banyak hal bersama. Kamu memperbaiki diri supaya dia segera tiba.

Seorang kawan pernah bilang, dengan nada sedikit bercanda:

Advertisement

“Kalau kamu harus mengusahakan dia mati-matian ya bukan jodoh namanya. Jodoh itu harusnya effortless.

Bagaimana definisi usaha dalam upaya mendatangkan pasangan yang paling klik di dada? Apakah memang jodoh itu effortless seharusnya?

Jodoh itu selalu sederhana. Saat dilihat kembali perjalanannya reaksi kita akan lebih sering: “Kok bisa ya?”

Kok bisa ya? via unsplash.com

Berbeda dengan banyak plot di novel-novel fiksi, cerita soal jodoh malah lebih sering sederhana dan sangat anti klimaks. Kamu membayangkan akan bertemu di saat kalian berdua sudah sama-sama siap. Sudah bekerja, sudah mapan dan merasa tinggal berjalan.

Tapi hidup malah berkata berbeda. Kalian bertemu dan merasa siap saat malah belum punya apa-apa. Dia masih berjuang mencari penghasilan yang mapan. Kamu pun masih suka bergonta-ganti keinginan. Hari ini bilang ingin mencoba jadi penulis, besok berubah ingin lanjut kuliah MBA agar bisa jadi manager.

Jika perjalanan menemukan jodoh ditilik lebih dalam lagi biasanya reaksi, “Kok bisa ya?” akan sering sekali muncul. Kamu bertanya kenapa bisa jatuh cinta padanya. Kamu terkagum-kagum pada keisengan semesta sampai kalian bisa bertemu lalu menjalani semuanya. Semua tidak terencana. Tapi terjadi saja.

Harus cinta? Ah ternyata tidak juga….

Ternyata tidak juga… via unsplash.com

Kalau aku cinta banget sama dia kayaknya aku nggak nikah deh sama dia.”

Pendapat macam ini datang lebih dari sekali. Mulai dari pasangan yang sudah menikah lama, Ibu-ibu yang sudah punya anak dua, sampai dari dia yang baru mempersiapkan pernikahannya. Selama ini kita percaya jika kuatnya perasaanlah yang membuat kita memutuskan berjalan bersama seseorang. Pokoknya kalau sayang — pasti tenang.

Tapi logika orang dewasa kadang suka bercanda. Ternyata yang dibutuhkan bukan cuma cinta. Toh cinta pasti datang dengan sendirinya. Saat kalian sudah tinggal bersama, memperdebatkan akan belanja brokoli atau bahan sup saja untuk makan malam berdua, waktu muka setengah mengantuknya jadi hal pertama yang kamu lihat tiap membuka mata.

Cinta bisa diusahakan. Bahkan cinta pasti datang saat sudah tidak diberi kesempatan untuk menjatuhkan pilihan.

Kemampuan bekerjasama dan saling memahami justru jadi dua hal yang paling tidak bisa diakali. Dia yang visinya tidak sama, dia yang cara penyelesaian masalahnya terlalu berbeda tidak akan terasa klik di samping kita. Tak peduli seberapa pun dalamnya rasa.

Kalau dia harus diusahakan mati-matian, yakin dia memang yang tergariskan?

Kalau harus diusahakan mati-matian mungkin bukan dia via unsplash.com

Kamu, saya, kita boleh saja bangga ketika berhasil mempertahankan sesuatu yang sudah diidamkan sekian lama. Rasanya jadi champion yang sebenarnya waktu hal yang diinginkan benar-benar bisa dimiliki.

Dalam hal perasaan ini berarti membersamai dia yang paling bisa membuat kita jatuh hati. Apapun jalannya. Selama bisa bersama kita kadang lupa seberapa parah dia membuat kita galau dan gloomy hampir setiap malam. Kita lupa kalau bersamanya kita lebih banyak menangis dibanding tertawa. Kita lupa kalau seharusnya cinta adalah tangan yang memeluk kapanpun dia bisa. Bukan kesempatan memeluk diri sendiri lebih lama.

Kalau aku masih dikasih kekuatan buat sabar, berarti memang dia orangnya.”

Pembenaran macam ini sering muncul demi menenangkan hati. Selama masih bisa bertahan berarti dia memang orang yang tertakdirkan. Tapi bukankah jodoh harusnya datang dengan smooth saja? Kalau harus diusahakan sampai berdarah-darah harusnya kita menghela nafas lalu bilang sudah.

Jodoh itu effortless semestinya. Dia datang saat kita tidak mengharapkannya. Semua terasa…biasa

Semua terasa biasa via unsplash.com

Banyak orang mengaku menemukan dia yang mendampingi sampai tua di momen hatinya paling mati rasa. Biasanya setelah putus lama. Sudah tidak lagi percaya cinta.

Bertemu dengan random di sebuah seminar, teman SD yang tiba-tiba menghubungi lagi dan sekarang jadi suami, tiba-tiba memimpikan muka seorang gadis mantan teman SMP yang langsung dilamar jadi istri.

Definisi jodoh semestinya sesederhana itu. Kalau dia sampai membuatmu terlalu jatuh cinta, merasa tidak akan bisa move on, selalu memenuhi isi kepala — malah mungkin bukan dia orangnya.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!