Bagi beberapa orang, aksi demo 4 November kemarin berbuntut panjang. Salah satu dari orang tersebut adalah Ahmad Dhani. Kelompok pendukung Presiden RI, Joko Widodo, yang bernaung dalam Laskar Rakyat Joko Widodo (LRJ) dan Pro Jokowi (Projo) melaporkan pentolan Dewa 19 ini ke Polda Metro Jaya atas tuduhan pelecehan terhadap Presiden. Dalam sebuah video terlihat Ahmad Dhani memimpin orasi dengan berapi-api, diantaranya terselip kritikan terhadap sikap Presiden yang kurang menghargai umat islam dan kaum ulama.

Sayangnya, kritikan tersebut memang diikuti kata-kata kasar yang dipakai untuk menyamakan manusia dengan binatang. Kata-kata yang digunakan untuk merendahkan martabat itu mungkin seringkali terdengar di warung kopi, tapi tentunya akan jadi kontroversial jika ditujukan kepada Presiden republik ini. Ahmad Dhani memang segera berikan klarifikasi dan pembelaan diri bahwa kata-katanya telah diputarbalikkan oleh oknum tertentu. Videonya pun telah tersebar luas di dunia maya, ada baiknya masyarakat Indonesia menilai kasus ini dengan pertimbangan masing-masing.

Buntut panjang peristiwa 4 November via okezone.com

Melihat kontroversi dari sosok yang mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Bekasi itu, Hipwee jadi teringat fenomena Donald Trump yang diluar prediksi siapapun mampu memenangkan pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016. Kenapa? Mungkin belum banyak yang tahu, bahwa diantara sekian banyak kontroversi yang dibuat oleh Presiden Terpilih AS itu, satu kasus yang awalnya memberikan Trump basis dukungan setia di Partai Republik adalah ketika Trump menuduh Presiden Obama tidak lahir di AS dan bukan warga negara natural sehingga tak sah menjabat sebagai Presiden. Meski Ahmad Dhani belum mencalonkan diri sebagai presiden, menariknya Hipwee banyak kemiripan antara dua tokoh ini. Bukan tidak mungkin, fenomena Trump ini juga bisa terjadi di Indonesia.

1. Mencemooh ‘orang nomor 1’ negara secara terbuka di ruang publik, tentunya akan mengundang banyak perhatian dan pers. Meski negatif, Trump membuktikan pers negatif itu lebih baik daripada tidak mendapat perhatian sama sekali

Mempertanyakan sertifikat kelahiran Presiden Obama via bgr.com

Advertisement

Panggung politik Trump diawali sekitar lima tahun yang lalu, yaitu saat kemunculan Birther Issue . Saat itu, Trump menganggap bahwa kepresidenan Barrack Obama tidak sah karena Obama dianggap bukan warga natural Amerika Serikat. Hanya seorang Trump yang berani mengeluarkan pernyataan seperti itu. Dan sayangnya ternyata banyak pendukung garis keras Partai Republik yang notabenenya kulit putih, mendukung dan meyakini argumentasi Trump. Sejak itulah Trump mulai diperhitungkan karena popularitasnya yang meroket diantara simpatisan Partai Republik. Meski akhirnya mengakui bahwa Presiden Obama lahir di AS, Trump tidak pernah terlihat minta maaf.

Di Indonesia, Ahmad Dhani tampaknya melakukan hal yang serupa tapi tak sama. Bukan mempertanyakan keabsahan Jokowi sebagai warga negara Indonesia, tapi Ahmad Dhani ungkapkan keinginan untuk menyebut Presiden RI dengan berbagai nama binatang. Akibat kata-katanya yang dianggap menghina Presiden ini, Ahmad Dhani dipolisikan oleh banyak pihak. Bahkan Ahmad Dhani menerima tantangan untuk duel sampai mati dari seorang pria asal Kalimantan yang rela masuk bui asal bisa melenyapkan Ahmad Dhani dari NKRI. Tapi dampaknya sama seperti Trump, Ahmad Dhani juga mendapat banyak perhatian dan pers karena kasus ini. Dan mungkin juga pengikut garis keras.

2. Keduanya jelas-jelas punya ambisi politik, meski pengalaman masih nol. Nyali yang besar barangkali jadi modal politik utama bagi Donald Trump dan Ahmad Dhani

Dua orang yang tak mudah terintimidasi (Kiri, huffingtonpost.com. Kanan, kapanlagi.com)

Sementara karier politik dan pemerintahan Hillary Clinton sudah jelas, Trump lebih dikenal sebagai pebisnis sukses yang namanya terpampang di berbagai gedung pencakar langit dunia. Trump juga orang dibalik acara Miss Universe yang kita gandrungi itu. Meski berkali-kali berusaha mencalonkan diri untuk jabatan politik, Presiden adalah jabatan politik yang pertamakali diemban suami Melania Trump ini.

Sosok outsider, tak pernah menjabat sehingga citranya jauh dari kebobrokan sistem yang saat ini membuat banyak warga AS frustasi, ini justru jadi keuntungan terbesar Trump semasa kampanye. Terlebih lagi ketika akhirnya Clinton tersandung skandal korupsi, bukti lain dari kebobrokan sistem dan pejabatnya yang korup. Citra sebagai calon yang akan membawa perubahan itu diperkuat dengan nyali Trump untuk mengatakan hal-hal kontroversial, yang mungkin selama ini hanya berani digumamkan di dalam pikiran pendukungnya.

Sama seperti Trump, Ahmad Dhani yang sebelumnya tersohor sebagai musisi juga punya ambisi politik yang jelas terlihat walau belum pernah menjabat. Sebelum mencalonkan diri untuk jabatan Wakil Bupati Bekasi, Dhani juga pernah berusaha mencalonkan diri dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 meski gagal. Dari kontroversi di atas, Ahmad Dhani tampaknya juga cukup nekat dan bernyali layaknya Trump. Yang nihil atau minim pengalaman politiknya seperti kedua tokoh ini pun justru bisa diuntungkan. Jika Trump berhasil ‘menjual’ citra outsider-nya, masih belum jelas akankah statusnya yang nol pengalaman politik menguntungkan atau merugikan Dhani dalam perjalanan politiknya.

3. Tokoh-tokoh kontroversial yang sering dianggap sebagai lelucon dunia politik ini tak bisa dipandang sebelah mata. Kemenangan Trump itu bukti bahwa silent majority tak bisa diprediksi

Banyak yang berkoar mengolok, tapi banyak juga yang malu-malu mendukung Trump via www.trtworld.com

Barangkali kamu adalah salah satu yang berpikir “Hahaha serius ini Donald Trump nyalon presiden? Hahaha” ketika calon Presiden Amerika dirilis secara resmi. Berbagai olokan dan cemooh terus berdatangan, kehadiran Trump seolah hanya untuk meramaikan suasana, sementara Hillary Clinton diyakini akan menang telak. Tapi kita semua dibuat tertegun dengan hasil akhirnya. Ternyata banyak juga pemilih yang malu-malu atau secara diam-diam mendukung Trump. Entah karena malu atau takut orang lain tahu rasisme dan paranoia yang mereka miliki.

Mungkin sekarang banyak yang tampaknya mengecam tindakan Ahmad Dhani dalam orasi 4 Novermber itu, tapi siapa juga yang bisa memprediksi silent majority di Indonesia. Bisa saja mereka yang sebenarnya sepemikiran dengan Ahmad Dhani hanya mengamini dalam hati. Dan ketika hari pemilihan, tanpa basa-basi akan memberikan suara kepada Dhani. Hati manusia itu tak bisa ditebak, jadi jangan serta merta beranggapan seorang itu dibenci atau dicintai, akan menang atau kalah. Berusahalah bersikap kritis sebagai warga negara. Pakailah hakmu untuk bersuara dan pastikan berjuang untuk mengusung calon politik yang kamu percayai.

4. Saking jujurnya kedua tokoh ini, opini blak-blakan mereka sering menyinggung banyak orang. Kehidupan pribadi yang sering jadi headline media pun, jadi daya tarik tersendiri

Kehidupan pribadi yang sering disorot media via www.kapanlagi.com

Pebisnis atau artis yang pindah jalur ke politik, bukan lagi anomali yang jarang ditemui. Lumrah saja, mereka punya modal dari kekuatan finansial dan popularitas publik. Nama dan branding Trump sudah terkenal di Amerika Serikat dan bahkan dunia, jauh sebelum masa kampanye-nya dimulai. Sosok flamboyan yang terkenal ceplas-ceplos mengomentari apapun tanpa peduli kode kesopanan atau persepsi sosial, ini memang sering menyinggung perasaan banyak orang.

Tapi pendukungnya justru mengapresiasi kegamblangannya tersebut sebagai hal spesial yang membedakan Trump dengan politisi kebanyakan, yang sering berbohong demi mendapatkan suara. Sebagaimana disuarakan pendukung fanatiknya, Donald Trump adalah tokoh politik revolusioner yang tidak peduli political correctness, atau dipandang baik secara politis. Anehnya, perjalanan karier Ahmad Dhani sebagai figur publik pun terbilang mirip dengan Trump. Lugas dan meyakini opininya sepenuh hati membuat Ahmad Dhani disegani, baik oleh mereka yang tidak menyukainya atau yang nge-fans dengan sosoknya.

5. Meski banyak dicela dan dinilai tak pantas, itulah inti demokrasi. Siapapun berhak mencalonkan diri sebagai wakil rakyat, termasuk kedua tokoh ini. Pilihan mayoritas warga-lah yang akan menentukan

Calon pemimpin pun berhak memilih diri sendiri, yang mau dipimpin juga harus bersuara via salon.com

Demokrasi mengandung makna sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Karenanya, siapapun bisa mengajukan diri untuk memimpin negeri bila memang merasa mampu dan memiliki kapasitas untuk itu. Pesta demokrasi di Amerika Serikat telah membawa sebuah perubahan yang tak bisa disangkal atau ditolak, Donald Trump adalah Presiden Terpilih AS. Mereka yang tidak puas dan mempertanyakan keabsahan pemilihan tersebut pun berhak menyuarakan opininya, sebagaimana serentetan demonstrasi yang merebak di berbagai kota di AS akhir-akhir ini.

Tapi kuasa rakyat untuk menentukan pemimpin sudah selesai, nyatanya mayoritas elektoral AS memilih Trump. Selama empat tahun ke depan, rakyat bisa terus jadi sistem check and balance untuk semua kebijakan-kebijakan Trump. Lalu, mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden selanjutnya supaya tidak kecolongan lagi. Maka dari itu, Ahmad Dhani pun sah-sah saja mencalonkan diri dalam pemilihan politik, baik sebagai gubernur, wakil bupati, atau presiden sekalipun. Karena sama halnya seperti Amerika Serikat, Indonesi juga menjujung tinggi proses demokrasi.

Kamu yang punya opini kuat terhadap pantas atau tidaknya Ahmad Dhani sebagai pejabat publik, juga sebenarnya punya andil langsung menentukan keberhasilan karier politiknya. Pastikan saja suaramu terdengar dan terhitung. Jangan hanya berkoar-koar menyebarkan kebencian di medsos, tapi lupa datang ke bilik pemilihan. Demokrasi itu kebebasan yang bertanggungjawab. Tiap orang harus sadar akan hak-hak dan kewajiban politiknya, supaya kita bisa memilih pemimpin terbaik untuk negeri ini.