Sejak dulu orang tuamu masih muda sampai sekarang, cewek selalu saja diberi kewajiban untuk bisa memasak. Saat ada acara bersama teman-teman cowok, kamu selalu diserahi urusan konsumsi hanya karena kamu-cewek-pasti-kamu-bisa-masak. Padahal mungkin kamu bisanya cuma goreng telur dan merebus mie instan. Dan kalau kamu mengaku nggak suka masak, orang-orang akan tercengang langsung melepas kata keramat:

“Kamu kan cewek!”

Seolah-olah kalau nggak bisa masak, otomatis kamu sudah gagal sebagai cewek. Seolah-olah kalau nggak suka masak, kamu sudah melenceng dari kodrat. Konon kalau nggak bisa masak kamu nggak bisa jadi calon istri idaman. Padahal bukan cuma kemampuan masak yang membuat kamu layak diandalkan…

1. Bisa masak itu nilai plus. Tapi nggak bisa masak nggak lantas bikin cewek nilainya minus

nggak bisa masak nggak berarti gagal via www.hipwee.com

Iya memang benar, kemampuan memasak itu nilai plus buat seorang cewek. Sama seperti cowok yang juga punya nilai plus kalau mengerti mesin. Tapi kalaupun tidak bisa memasak tidak otomatis membuat kamu lebih tidak berkualitas daripada cewek yang bisa masak. Apakah dia cewek yang berkualitas atau cewek tidak berkualitas, tentu tidak bisa dilihat hanya berdasarkan rasa masakannya. Apakah sudah layak menikah atau belum tidak bisa juga hanya dilihat dari bisa memasak atau tidak. Intinya memasak bukan standar yang mutlak untuk bisa disematkan pada perempuan.

2. Keahlianmu yang lain juga nggak kalah berguna. Beres-beres rumah, misalnya. Soal memasak, toh nanti bisa dipelajari pelan-pelan

Advertisement

kamu masih punya keahlian lainnya via www.kaskus.co.id

Setiap orang punya keahliannya masing-masing, dan karena itulah system pasar di dunia bisa bekerja. Kamu memang nggak bisa masak. Membedakan jahe dan lengkuas saja kamu tak paham. Tapi bukan berarti kamu nggak punya keahlian lain yang bisa dibanggakan. Kamu bisa beres-beres rumah, kamu bisa mengatur keuangan dengan baik, kamu bisa membetulkan genteng, kamu bisa menjahit, kamu bisa mendesain rumah, itu semua keahlian yang nggak kalah berguna.

3. Memasak itu seperti juga membaca, naik gunung, dan main musik, adalah hobi. Tak semua cewek harus punya hobi yang sama

Kalau memang hobi, anak-anak pun bisa jago masak via foodiegossip.blogspot.co.id

Di era modern ini, memasak tidak bisa lagi dianggap jadi satu keharusan. Selain sudah banyak warung-warung di jalanan, banyak juga orang yang memandang memasak sebagai salah satu hobi. Sama seperti membaca, nonton film, olahraga, main game, atau naik gunung. Karena setiap orang memang punya keunikan sendiri-sendiri, jadi tidak semua cewek harus punya hobi yang sama bukan? Tidak masalah juga kalau kamu lebih suka belajar bahasa asing atau membuat film daripada memasak.

4. Untuk jadi istri dan ibu yang baik, yang dibutuhkan bukan cuma kemampuan memasak. Kamu mau jadi istri atau sou chef sih?

Bisa masak belum tentu siap nikah via youngfreespirit.tumblr.com

“Kalau kamu nggak bisa masak, nanti suami dan anakmu mau dikasih makan apa?”

Bisa memasak tidak otomatis membuatmu langsung siap memasuki pernikahan. Dan sebaliknya, nggak bisa masak juga tidak otomatis membuatmu nggak siap nikah. Toh nantinya, rasa dari masakanmu nggak menjadi satu-satunya penentu kebahagiaan rumah tangga. Masih banyak hal-hal lain yang lebih dibutuhkan untuk memasuki kehidupan rumah tangga. Kematangan emosi, misalnya. Komitmen kuat untuk berbagi kehidupan dengan pasangan, contoh lainnya.

5. Kasih sayang pada keluarga bisa dilakukan melalui berbagai cara. Mengasihi lewat masakan hanyalah salah satunya

kasih sayang bisa diwujudkan dalam berbagai cara via vintageborn.tumblr.com

Ada pria yang mencari istri perempuan jago masak, karena dia ingin dirinya dan anak-anaknya kelak merasakan kasih sayang lewat masakan. Boleh-boleh saja. Tapi rasanya nggak adil kalau menilai seorang perempuan sebagai istri dan ibu yang baik atau bukan hanya berdasarkan kemampuan memasaknya. Toh kasih sayang itu bisa diwujudkan dengan berbagai cara. Memasakkan makanan lezat adalah salah satu cara. Menjadi ibu sekaligus teman yang selalu ada untuk anak adalah cara lainnya. Mendukung setiap usaha dan menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan adalah bentuk kasih sayang juga.

6. Keterampilan mengolah bumbu di dapur memang layak dikagumi. Tapi kemauan kerja keras untuk membantu perekonomian keluarga juga layak dihargai

ibu yang bekerja juga layak dihargai via thegirlsstuffcom.tumblr.com

Nggak bisa dipungkiri bahwa saat ini dunia luar sudah terbuka lebar untuk cewek. Sehingga nggak seperti dulu yang cuma bisa belajar masak saja, sekarang cewek punya kesempatan yang sama untuk belajar berbagai hal. Cewek yang punya kemampuan memasak ciamik juga menjadi langka. Karena itu cewek dengan kemampuan memasak memang mengagumkan. Tapi cewek yang mau kerja keras ikut banting tulang untuk membantu perekonomian keluarga juga nggak kalah hebat. Padahal stigma dalam masyarakat masih begitu kaku, mengatakan kalau mencari nafkah adalah tanggung jawab pria.

7. Katanya cowok akan tergila-gila kalau cewek bisa masak. Sebenarnya cewek pun sama, mudah tergila-gila pada cowok yang jago memasak ;p

cowok bisa masak juga lebih menarik lho! via magenta08.blogspot.co.id

Katanya cinta itu dari lidah turun ke hati. Karena itu cewek-cewek yang jago menggunakan alat-alat dapur dan meracik bumbu seperti Chef Marinka selalu membuat cowok tergila-gila. Hingga saat ini, kriteria bisa masak masih jadi salah satu kriteria rata-rata cowok dalam mencari pasangan. Padahal banyak juga cewek yang berpendapat bahwa cowok-cowok yang jago masak seperti Chef Juna atau Chef Arnold itu adalah calon suami idaman. Kemampuan memasak mereka yang nggak perlu diragukan membuat cewek tergila-gila. Jadi jangan santai saja ya, wahai pria, kami juga lebih suka cowok yang bisa bedain mana ketumbar dan mana merica!

8. Terakhir, sekarang nyari uang susah. Kalau semua cewek bisa masak, nanti siapa yang beli makan di warung nasi?

biar warung tetap ada pembelinya ;p via liandamarta.com

Kita tahu kalau sekarang ini mencari uang itu susah. Karena itu kita harus mendukung usaha-usaha rakyat kecil dengan cara bagi-bagi peran. Ada konsumen da nada produsen. Ada penjual da nada pembeli. Kalau semuanya bisa masak sendiri, kasihan nanti warung nasi nggak ada yang beli. Seenggaknya kalau kamu nggak bisa masak, kamu bisa membantu warung-warung nasi supaya tetap beroperasi. Haha

Memang menyebalkan kalau terus-terusan diingatkan bahwa kamu harus bisa memasak karena kamu perempuan. Tapi santai saja. Toh bila memang harus, kamu bisa mulai belajar nanti saat sudah berumah tangga. Nggak bisa memasak sekarang nggak berarti kamu perempuan yang gagal dan nggak punya keibuan. Karena membicarakan cewek, nggak terbatas hanya soal bisa masak atau enggak. Kayak Anisa Rahma yang katanya sih bisa masak, hihi cek aja di akun migmenya @anisarahmaadi.