Mungkin sedikit ironis kalau saya yang notabene bekerja di media kekinian semacam Hipwee sebenarnya tidak pernah aktif di media sosial. Tren medsos sudah silih berganti, tetap saja saya nggak pernah merasa ‘nyaman’ bernaung di medsos mana pun. Jika menghitung jumlah postingan, mungkin bisa dibilang saya paling banyak menggunakan Twitter. Itu pun dalam konteks lampau. Karena tweet terakhir saya adalah ketika mengucapkan selamat ulang tahun ke adik pada tahun 2015.

Dulu waktu sering menggunakan Twitter semasa kuliah, sebagian besar isi aktivitas saya juga hanya DM atau pesan ke teman saya yang sama ‘terbelakangnya’ dalam dunia medsos, kalau kita kehabisan pulsa sms. Kelihatan banget ya umurnya kalau ngomongin zaman sms. Facebook pun seingat saya dulu akhirnya buat karena ada tutor kuliah yang bersikeras hanya akan meng-update urusan perkuliahan lewat Facebook. Jarang sekali saya update foto atau menuliskan hal-hal yang sifatnya personal melalu medsos.

Gimana jadinya kalau orang yang nggak pernah aktif di medsos akhirnya kerja di Hipwee?

Penuh tantangan via www.hipwee.com

Bekerja di Hipwee jelas jadi tantangan sendiri bagi saya yang ‘kudet’ medsos. Berangkat dari kesenangan menulis, saya harus belajar banyak hal baru selama bekerja jadi penulis dan editor di Hipwee. Mungkin karena awalnya saya ditunjuk mengampu kanal Motivasi dan Sukses, update tren terbaru atau berita viral di medsos tidak terlalu jadi prioritas. Tapi saya mulai kelimpungan ketika suatu saat Hipwee mengadakan proyek bersama selebgram. Hampir semua nama selebgram tersebut baru pertamakali saya dengar hari itu. Waktu itu sih saya berpikir, gampang lah nanti googling. Ternyata di google tidak banyak membantu, harus ‘ngubek-ubek’ Instagram.

Begitulah awal saya mengikuti semua lambe-lambe-an dan segala akun populer di Instagram. Demi pekerjaan. Apalagi sekarang saya dipercayai mengelola kanal News & Feature, selalu update berita terbaru jelas jadi harga mati. Kalau berita tradisional dari koran atau media besar sih saya dari dulu suka mengikuti, tapi sensitivitas untuk tahu apa yang sedang ramai di medsos-lah yang harus diasah tiap harinya. Level KEPO saya memang sudah naik tingkat, tapi sampai saat ini saya masih merasa tidak nyaman untuk menggunakan medsos sebagai ruang ekspresi diri. Menulis status, memasang foto, atau mengomentari orang lain, mungkin jadi kejadian setahun sekali. Jangan ditanya kalau Instalive atau fitur kekinian yang lain, menyentuh pun tak pernah.

Advertisement

Dengan menulis #HipweeJurnal ini, sebenarnya saya sendiri juga ingin tahu kenapa sesusah itu buat saya untuk mengikuti perkembangan zaman dan berinteraksi lewat medsos. Sejujurnya suka ‘ngiri’ juga sih lihat bagaimana orang bisa semudah itu bertukar sapa atau berbagi momen di dunia maya. Apalagi kini banyak keluarga dan sahabat yang tinggal berjauhan. Kadang-kadang suka miris sendiri kalau orang lain jadi lebih tahu kabar atau update terbaru dari adik atau sahabat saya, karena intens berinteraksi di medsos. Orang-orang terdekat tahu bahwa metode paling efektif untuk menghubungi saya adalah lewat chat WA atau langsung telepon. Namun zaman sekarang, cara berinteraksi seperti itu sudah terasa seperti hidup di dunia lain.

Malas. Kalau ditanya, mungkin itu jawaban paling simpel saya. Entah bagaimana untuk orang lain, tapi untuk sekadar balas pesan WA saja, saya butuh berpikir panjang. Apalagi pasang status atau foto

‘Once you post something on the internet, it will last forever’ (Pict by Redd Angelo) via unsplash.com

Membalas pesan simpel chat WA saja seringkali terasa bagai tugas yang berat bagi saya. Mungkin karena takut akan terjadi salah paham atau orang bakal tidak mengerti maksud balasan, biasanya saya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jika bertemu langsung ‘kan bisa membaca raut muka atau bahasa tubuh, kalau-kalau orang salah mengartikan omongan kita. Lewat telepon, perubahan nada suara juga bisa jadi indikasi. Kalau membalas pesan WA sih jelas masih saya upayakan demi hubungan personal dan pekerjaan. Tapi ketika suatu waktu saya tiba-tiba ingin mengganti status medsos sampai butuh 30 menit lamanya dan terus kepikiran tentang status itu sampai keesokan paginya, i thought this —social media thingy–it’s just not for me. 

Mungkin banyak orang yang bakal bilang saya kebanyakan mikir atau terlalu peduli pendapat orang lain. Tapi ya begitu adanya, saya ingin sebisa meluruskan dan bertanggungjawab atas semua omongan saya. Apalagi memposting sesuatu online yang jelas-jelas akan terus ‘tercatat’ sebagai jejak digital kita selamanya. Pengen hati-hati meninggalkan jejak digital, alhasil jadi malas deh.

Dulu sebelum ada internet, buku dan tulisan itu bahkan disebut ‘jendela dunia’. Mungkin di zaman modern ini, saya ingin tulisan tetap punya reputasi tersebut

Kalau cara kita berkomunikasi jadi makin cepat dan instan, nilai sebuah tulisan akan terkikis via agoodmovietowatch.com

Sebagai penikmat buku yang juga hobi menulis, saya paham betul betapa hebatnya kekuatan sebuah tulisan. Meski tentunya banyak manfaat dari cepatnya berita dan informasi tersebar di zaman modern ini, saya tidak ingin orang melupakan betapa bagusnya tulisan yang membutuhkan proses dan banyak pertimbangan. Makanya, mungkin itulah yang membuat saya tidak pernah bisa 100% nyaman dengan konsep media sosial. Semuanya serba instan dan nggak tersaring.

Meskipun begitu, saya tetap ingin bisa lebih ‘rajin’ dan aktif di medsos supaya tetap terhubung dengan orang-orang terkasih. Mau bagaimana juga, beginilah cara orang berkomunikasi sekarang. Doakan saja guys, semoga saya tidak jadi kaum yang makin tertinggal…

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya