Sosok itu dulu begitu kamu banggakan. Kamu gadang-gadang sebagai calon pendamping di masa depan. Di titik ini, kamu tidak lagi mencari yang rupawan, ataupun yang berdompet tebal. Bagimu, kenyamanan adalah segalanya. Dan sosok yang mencuri hatimu itu, akan kamu pertahankan, apapun caranya.

Namun, toh dia pergi juga.

Kamu berharap bahwa dia adalah pemberhentian terakhirmu, namun ternyata kamu hanya singgah. Seperti yang sudah-sudah. Satu lagi kegagalan, satu lagi sakit hati. Entah bagaimana kamu menyembuhkan lukamu setelah ini. Sementara kamu ngos-ngosan dikejar usiamu, yang selalu dianggap sebagai tenggat waktu. Kamu pun bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyak percobaan, selalu menemui kegagalan?

Bukan maksud menghakimi, namun barangkali selama ini kamu lupa satu hal. Kesibukan mencintai seseorang membuatmu lupa untuk mencintai diri sendiri. Padahal dari situlah semuanya bermula. Cintai dirimu sendiri dulu, sebab sebuah hubungan juga perlu kendali untuk tetap bisa melaju di jalur yang tepat. Dan itu itu ada dalam dirimu.

Mencintai diri sendiri berarti tidak memberikan seluruh cinta yang kamu punya padanya. Sebab dalam hati itu, harus tetap ada yang jadi milikmu sendiri

Penting punya bagian hati untuk dirimu sendiri via unsplash.com

Advertisement

Mencintai dirimu sendiri berarti membagi hatimu menjadi sekat-sekat. Ibarat rumah, hatimu punya teras, ruang tamu, dan kamar pribadi. Dia yang datang hanya boleh sampai teras atau ruang tamu saja. Jangan melangkah lebih dalam, karena itu bisa berbahaya. Sebab yang namanya kamar pribadi seharusnya hanya dimiliki oleh diri sendiri.

Mencintai seseorang tidak berarti memberikan segalanya. Rem itu ada di tanganmu. Seberapa kuat kamu membangun pintu antara ruang tamu dan kamar pribadi itu? Sampai tiba waktu yang tepat, jangan berikan seluruh hati yang kamu punya. Agar kamu tidak ikut mati, bila suatu saat nanti dia yang sudah mengambil sebagian besar hatimu dengan kurang ajarnya pergi.

Tanpa kendali logika, cinta hanya akan membabi buta. Kamu bahkan tidak tahu hendak menuju ke mana

Cinta bisa membutakan jika tak punya pegangan diri via unsplash.com

Mencintai diri sendiri berarti membiarkan cinta tetap dalam kendali logika. Karena terkadang hati begitu licik dan mengelabuhi pemiliknya. Terbutakan oleh cinta tidak lagi peduli pada diri sendiri. Rasa sakit yang datang terus-terusan tidak dipikirkan, hubungan yang menggantung tanpa kejelasan dibiarkan. Atas nama cinta sejati, segalanya direlakan.

Ah, di sini kamu sudah kehilangan, baik dirinya ataupun dirimu sendiri.  Kamu yang mencintai diri sendiri tentu tak akan membiarkan dirimu terombang-ambing dalam asmara hingga akhirnya hilang. Kamu punya tujuan. kamu punya standar. Bila cinta mulai tak kenal arah, logika ini yang seharusnya bekerja memberi penerangan. Karena bila benar cinta itu buta, lalu bagaimana kamu tahu mau menuju ke mana?

Banyak yang menjalin hubungan untuk mengatasi kesepian. Tapi kesepian itu bisa hilang hanya bila kamu dan dirimu sendiri berkawan

Sendiri tak selalu sepi, karena sepi datangnya dari hati via raultovark.tumblr.com

Salah satu alasan seseorang mencari pasangan memang untuk menghalau kesepian. Adanya seseorang yang bisa diajak bertukar cerita, merancang mimpi, dan menghadapi dunia yang terkadang tak punya hati ini tentu membuat segalanya lebih mudah. Namun kesepian itu tidak sesederhana seperti punya teman ngobrol setiap malam. Kesepian muncul dari dalam diri, dan terkadang masih tetap terasa meskipun kamu sedang ditengah hingar bingar.

Kamu tak akan kenyang hanya dengan menonton acara memasak di televisi, seperti itulah gambaran dari mencari obat sepi dari kehadiran orang lain. Kesepian hanya akan hilang bila kamu bisa berteman dengan diri sendiri. Tanpa hal itu, meskipun kamu sedang riuh ngobrol dengan seseorang, tetap ada bagian dari dirimu yang melengos pergi. Inilah yang menciptakan sepi.

Kamu yang sedang patah hati, sembuhkan dulu luka dalam diri. Sebab jiwa yang masih koyak tak bisa mencintai orang lain dengan layak

Sembuhkan lukamu dulu sebelum membagi hati via mychemicalsecret.tumblr.com

Katanya obat paling mujarab untuk mengobati patah hati adalah jatuh cinta lagi. Namun bagaimana hati yang masih koyak dan compang-camping itu bisa mencintai dengan benar? Bila pengobatan tak berhasil, justru hatimu yang akan tumbang. Menyembuhkan diri sendiri itu perlu, sebelum kamu memutuskan untuk mencari orang yang baru.

Tentunya kamu ingin ketika orang bertamu, ruang tamumu sudah rapi dan bersih bukan? Tamu hatimu akan nyaman, kamu pun juga nyaman. Tak perlu memaksa untuk menjalin hubungan dengan orang lain hanya untuk membuktikan bahwa kamu baik-baik saja. Sebab kamu baik-baik saja atau tidak, itu hanya urusanmu dengan diri sendiri. Bukan dengan orang lain, apalagi dia yang sudah pergi.

Mengenali segala emosi dalam diri akan membawamu pada sosok yang tepat. Tidak menyerah kepada sembarang orang hanya karena harus cepat-cepat

Dengan mencintai diri sendiri, kamu bisa dapat pasangan terbaik via unsplash.com

Didorong oleh tenggat waktu, atau rasa cemburu karena yang lain sudah terlihat bahagia, lalu kamu lupa pada segala standar. Siapa saja yang datang diiyakan hanya agar kamu terlihat punya seseorang. Jangan heran, bila akhirnya berantakan sebab sebenarnya kamu sendiri tidak tahu apa yang diinginkan.

Mencintai diri sendiri artinya memperbanyak waktu untuk berdialog dengan diri sendiri. Memberi ruang kepada emosi dan belajar mengenali diri sendiri dengan mencari tahu apa yang sebenarnya kamu ingini. Dengan begitu, kamu akan tahu orang seperti apa yang cocok untuk dirimu sendiri. Pemahaman akan diri sendiri ini akan menuntunmu pada sosok yang tepat, yang kamu inginkan di masa depan kelak.

Sebab dalam hubungan, ada dua orang yang harus bahagia. Bukan hanya saling membahagiakan, tapi bahagia bersama

Kebahagiaanmu sama pentingnya dengan kebahagiannya via unsplash.com

Karena hubungan adalah antara dua orang, maka bahagianya juga harus mutual. Bukan hanya dia yang harus bahagia agar tetap tinggal, namun kamu juga harus bahagia. Tentang bahagia itu juga bukan semata saling membahagiakan yang bersifat transaksional. Artinya, karena dia sudah membuatmu bahagia, lantas kamu juga harus membuatmu bahagia.

Dalam hubungan yang dewasa, bahagia adalah bahagia bersama. Sebuah perjalanan bersama yang meskipun ada satu dua hal yang harus dikompromikan, tapi tidak sampai membuat salah satu hilang demi membuat yang lain tersenyum senang. Untuk bisa bahagia bersama, tentu kamu tidak hanya harus memahami dia, melainkan juga harus memahami dirimu sendiri.

Cintai diri sendiri dulu baru mencintai orang lain. Sebab cinta adalah dialog dua arah, tidak semata penyerahan tanpa syarat

Harus bisa punya posisi untuk bisa terlibat dialog berdua via unsplash.com

Selayaknya demokrasi, cinta adalah dialog dua arah. Setiap yang terlibat di dalamnya harus menyadari bahwa dirinya memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang lainnya. Cinta bukan penyerahan tanpa syarat, yang berarti pula dominasi, hierarki, sekaligus ketidakberdayaan. Cinta bukan penjajahan, di mana yang satu menang dan menghisap semua yang ada sementara yang lain tunduk, lemah, dan tak bisa membela dirinya.

Cintai dulu dirimu. Sadari bahwa dirimu adalah manusia yang sangat berharga, temukan mimpi-mimpimu, buatlah rencana dan kembangkan seluruh potensimu untuk meraihnya. Baru setelah itu, cari tahu mimpi-mimpi yang bisa diraih dengan orang lain.

Beri kesempatan pada dirimu sendiri untuk menunjukkan jati diri. Bukankah setiap orang seharusnya dicintai apa adanya?

Tak seharusnya menutupi dirimu sesungguhnya demi cinta via unsplash.com

Cinta yang buta terkadang memaksa kita untuk melakukan apa saja agar dia yang dipuja tidak pergi begitu saja. Bahkan bila kamu harus menjadi orang lain pun tak mengapa, asalkan dia selalu ada. Mengapa tidak membiarkan dirimu untuk menunjukkan jati dirinya? Bukankah membiarkan pasanganmu mencintai ‘orang lain’ yang kamu tampilkan dalam dirimu itu, adalah wujud dari ketidakpercayaanmu padanya?

Bukankah itu artinya, kamu tidak memberinya kesempatan untuk mencintaimu apa-adanya? Lantas inikah cinta yang katamu harus berlandaskan percaya? Mencintai diri sendiri artinya kamu menghargai dirimu sendiri. Dengan begitu kamu tak akan repot-repot menyembunyikannya hanya agar diterima. Toh, bila dia tidak bisa mencintai dirimu apa adanya itu berarti dia bukanlah orang yang tepat. Mudah bukan?

Mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain setengah mati adalah sebuah cara yang berfungsi ganda. Dengan memberikan kesempatan untuk dirimu menunjukkan jati dirimu sendiri, kamu juga sudah memberinya kesempatan untuk mencintaimu apa-adanya. Dengan menyadari bahwa dalam dirimu ada potensi yang tidak boleh hilang karena cinta yang membabi buta, itu juga berarti bahwa kamu akan menjadikan dirimu lebih baik setiap harinya. Hingga kelak, kamu dan dia akan bertemu dalam situasi ‘sudah sama-sama baik’.

Situasi penuh haru yang sudah kalian nantikan begitu lama.