Selama ini kita berpikir bahwa orang yang baik adalah orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain. Enggan melukai perasaan orang sekalipun tak disengaja, misalkan dalam bentuk kritikan atau penolakan, serta merta membuatmu takut dicap sebagai teman yang tidak setia atau orang yang tidak baik.

Padahal orang yang baik tidak sama dengan menjadi teman semua orang. Menjadi orang baik, tidak sama dengan mengiyakan semua omongan orang untuk membuat hatinya senang. Selain kamu tidak akan bisa menyenangkan semua orang, selalu berusaha menyenangkan orang lain justru akan membuatmu bersikap seperti contoh-contoh di bawah ini. Perilaku yang justru gagal membuatmu menjadi orang baik.

1. Selalu ingin menyenangkan orang lain bisa membuatmu belajar memelintir kenyataan. Bohong mulai kecil-kecilan bisa menjadi kebiasaan

Kalau kebohonganmu tambah panjang, akan makin sulit ditutupi via www.readersdigest.co.uk

“Eh, aku gaun ini cocok nggak? Cantik nggak?”
“Bagus kok. Kamu jadi kayak Agnes Mo.
“Haha apa sih, mana mungkin mirip Agnes Mo.”
“Iya kok, bener. Hehehe”

Awalnya mungkin hanya soal opini cocok tidaknya sebuah baju, namun apakah kamu memikirkan lama-lama kebohongan apa lagi yang harus kamu buat, hanya karena kamu tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya? Meskipun kenyataan terkadang lebih menyakitkan, namun bukankah itu lebih baik daripada kebohongan. Selain kebohongan yang dipercaya bisa menjadi bencana, lama-lama kamu bisa terbiasa untuk memelintir fakta-fakta hanya untuk membuat orang lain senang.

2. Selalu berusaha menyenangkan semua orang bisa membuatmu harus pandai bermuka dua. Di depannya bersikap baik di belakangnya menusuk dengan sadis

Advertisement

Punya banyak penyamaran via unsplash.com

Untuk bisa tetap tertawa dan menyetujui bahkan ketika dia melakukan hal-hal yang tak kamu suka, menuntutmu untuk menyembunyikan warna hatimu yang sebenarnya. Diawali dengan berbohong, semakin lama kamu akan terlatih untuk memasang dua wajah. Ketika di hadapannya, kamu menjadi orang paling baik sedunia, selalu tersenyum dan tidak pernah berkata tidak. Seolah-olah kamu adalah sahabat terbaik sedunia. Padahal di belakangnya, kamu sibuk menusuk dan mengumbar kejelekannya.

3. Menampilkan diri kita apa adanya berarti mempercayai orang lain untuk mencintai kita. Menyembunyikan diri dibalik tawa, sama artinya tak pernah memberi kesempatan mereka untuk mencintai apa-adanya

Menampilkan diri apa adanya berarti mempercayai orang lain via damaskwallpapers.blogspot.co.id

Demi menjaga perasaan orang lain, kamu terpaksa menyembunyikan perasaanmu. Kamu menyimpan isi pikiranmu sendiri, dan mengabaikan bahwa kamu punya hak untuk mengemukakan pendapat. Lama kelamaan, kamu terlalu sibuk berpura-pura menjadi orang lain dan menyembunyikan dirimu sendiri agar disukai semua orang. Di sisi ini, secara tidak sadar, kamu tidak mempercayai siapapun untuk melihat dirimu yang apa adanya. Kamu menaruh curiga kepada semua orang, sehingga kamu tidak mengizinkan mereka untuk mencintai dirimu sebagaimana dirimu yang sebenarnya.

4. Berusaha keras menyenangkan orang lain bisa membuatmu terbiasa melupakan emosi diri sendiri. Padahal emosi diri berguna untuk menciptakan simpati dan empati

Senyum dan uluran tangan terus dipaksakan, sampai tidak berasa via unsplash.com

Untuk bisa berempati dengan penderitaan orang lain, atau sekadar dapat memahami perasaan orang lain, kita harus memiliki emosi yang peka. Dengan hati yang sensitif, kita mudah tersentuh akan kesusahan yang dialami orang lain dan tergerak untuk melakukan sesuatu. Namun kamu yang terlalu sibuk menyenangkan orang lain, dengan cara mengabaikan perasaanmu sendiri, lama kelamaan bisa terbiasa mengesampingkan hati. Karena terlalu sering diingkari, emosi dalam diri jadi tidak berguna lagi. Padahal tanpa itu, bagaimana kamu bisa tergerak untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan?

5. Bersikap baik kepada orang lain tak sama dengan mengiyakan semua kata-katanya. Hal itu bisa jadi justru menjerumuskannya

Temanmu yang sebenarnya pasti berani bilang ‘tidak’ via unsplash.com

Barangkali ini yang terpenting, namun selalu mengiyakan orang lain hanya karena enggan mengatakan tidak dan membuat hatinya tak senang, bisa berakibat negatif karena kamu yang punya kesempatan untuk memperingatkannya justru diam dan iya-iya saja. Dalam dunia kerja, bersikap terlalu baik kepada rekan kerja dengan memback-up semua pekerjaannya berarti kamu mencegahnya untuk mengembangkan diri sendiri. Sementara kepada sahabatmu sendiri, mengatakan apa yang sejujurnya bisa membantunya untuk memperbaiki diri dan mengembangkan semua potensi. Karena terkadang manusia tidak sadar dengan kesalahannya, kita wajib saling mengingatkan, bukan?

6. Terlalu sibuk menyenangkan orang lain, kamu lupa untuk bersikap baik pada diri sendiri. Padahal sebelum bersikap baik pada orang lain, kita harus tahu bagaimana bersikap baik pada diri sendiri dulu

Berbaik hatilah pada dirimu sendiri dulu via unsplash.com

Kamu yang terlalu sibuk menyenangkan orang lain, apakah sudah berbuat baik pada dirimu sendiri hari ini? Ataukah kamu sudah terbiasa untuk mengesampingkan dan mengorbankan dirimu sendiri hanya agar orang lain merasa senang? Sekali waktu tidak apa-apa, namun bila dilakukan terus-terusan, itu artinya kamu tidak menghargai dirimu sendiri. Padahal untuk bisa menghargai orang lain, terlebih dahulu kita harus menghargai diri sendiri. Untuk bisa berbuat baik kepada orang lain, kita harus berbuat baik kepada diri sendiri dulu. Untuk bisa mencintai orang lain apa adanya, kita harus mencintai diri sendiri dulu.

Sekuat apapun kamu berusaha, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang. Meskipun kamu berusaha keras untuk menjaga sikap dan berbuat baik kepada semua orang, pasti ada saja yang tidak suka kepadamu. Tak mengapa, toh, kamu juga tak perlu menjadi teman semua orang. Terlalu sibuk berusaha membuat orang lain senang, justru akan membuatmu lupa pada diri sendiri. Membuat orang lain senang memang menyenangkan. Namun apa artinya bila itu berarti kamu lupa untuk menghargai dirimu sendiri?