Masa kanak-kanak dianggap tahapan awal dalam hidup manusia. Seiring bertambahnya usia, kamu diharuskan menanggalkan segala sifat anak-anak dalam dirimu. Sebab sudah bukan waktunya lagi bagimu untuk bersikap seperti anak-anak.

Padahal bila kamu perhatikan, anak-anak memiliki keunikan dalam caranya memandang dunia. Tidak heran bila mereka begitu mudah bahagia dengan hal-hal sederhana. Anak-anak selalu dipenuhi oleh energi positif yang menguntungkan. Beberapa hal di bawah ini akan membuatmu sadar, bahwa terkadang kamu harus memakai kacamata anak-anak untuk menghadapi dunia dengan segala lika-likunya.

1. Kamu tidak peduli dengan omongan orang. Yang penting senang, yang penting asyik

Kamu tidak peduli omongan orang via www.mishmish.org

Pernahkah kamu melihat anak-anak galau sampai berhari-hari karena memikirkan omongan orang lain? Pernahkah kamu melihat anak-anak berkaca selama berjam-jam memikirkan baju apa yang harus dikenakan agar orang lain terkesan? Pernahkah kamu melihat anak-anak tidak jadi main hujan-hujanan sambil telanjang, hanya karena orang lain bilang itu tidak sopan? Sementara kamu perlu usaha berat untuk bisa mengabaikan omongan orang, anak-anak dari sananya tidak pernah memperdulikan omongan orang. Mereka sibuk melakukan apapun yang mereka suka. Karena itu, mereka terus belajar dan berkembang.

2. Imajinasimu juga tidak terbatas, karena itu tidak ada yang tidak mungkin bagimu

Imajinasi yang tinggi via blmommymagazine.tumblr.com

Advertisement

Di kehidupan dewasamu, kamu dituntut menyajikan data ketika sedang bekerja. Apapun yang kamu katakan atau tulis harus didasari data-data yang bisa dipertanggungjawabkan. Bagus memang, tapi hal itu juga secara tidak sadar mengekang imajinasimu sendiri. Sementara waktu masih anak-anak dulu, kamu bebas membayangkan pergi ke pasar mengendarai elang raksasa, tanpa dianggap gila. Kamu juga bisa membayangkan negeri di atas awan yang bisa dicapai dengan memanjat pohon kacang, tanpa merasa aneh. Karena pada saat itu, kamu percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Sekarang? Membayangkan resign dari kantor sebelum mendapat pekerjaan baru saja sudah mustahil bagimu. Padahal kepercayaan bahwa tidak ada yang tidak mungkin, bisa membawamu menjadi apapun yang kamu mau.

3. Kamu tidak pernah berpikir panjang untuk melakukan sesuatu. Prinsipmu mudah: coba dulu!

Sekarang, sebelum melakukan suatu hal, kamu akan mengambil banyak waktu untuk memikirkannya. Apa alasanmu? Apakah hal itu cukup berharga untuk dilakukan? Bagaimana risikonya? Bagaimana bila gagal? Bagaimana kalau tidak usah saja? Banyak sekali yang kamu pikirkan dan takutkan, hingga akhirnya, kamu hanya berakhir duduk manis dengan rencana-rencana yang tidak pernah diwujudkan. Kamu harus belajar dari anak-anak, yang tidak pernah berpikir yang berat-berat. Intinya, coba saja dulu, gagal atau berhasil urusan nanti. Menggambar di dinding? Coba dulu, kalau kena marah ortu baru berhenti. Injak ekor kucing? Coba saja dulu, dan lihat reaksi kucingnya bagaimana.

4. Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau, dan tidak pernah merasa ragu pada kemampuan dirimu sendiri

Jadi dokter gigi via global.neocate.com

Kalau kamu menanyai anak kecil tentang cita-citanya setelah dewasa nanti, kamu akan mendapatkan jawaban yang super hebat. Mulai dari dokter, polisi, astronot, pilot, sampai presiden. Uniknya jawaban yang kamu dapat hari ini belum tentu sama dengan hari esok ketika kamu menanyakan hal yang sama. Berbeda dengan kamu yang seringnya merevisi cita-citamu, atau mempertanyakan kemampuanmu sendiri untuk mengejar cita-cita, anak-anak selalu percaya dirinya bisa menjadi astronot, dokter, polisi, pilot, dan presiden. Mereka tidak pernah berpikir mampu atau tidak, mereka hanya percaya saja. Tapi percaya, sudah satu tahap mengejar cita-cita, bukan?

5. Dalam situasi apapun, kamu selalu berpikir positif. Tidak seperti orang dewasa yang cenderung melihat sisi negatifnya dulu

Selalu berpikir positif via www.popsugar.com

Anak-anak tidak memikirkan hal-hal buruk ketika dipanggil orang tuanya. Mereka juga tidak memikirkan hal-hal jelek ketika menghadapi situasi yang baru. Berbeda denganmu yang sudah berpikir macam-macam ketika ada panggilan dari atasan. Berada di situasi yang baru, alih-alih menghadapi semua dengan penuh rasa ingin tahu, kamu justru sudah memikirkan hal yang jelek-jelek dulu. Pikiran negatifmu itu membelenggu dirimu sendiri, dan menghalangimu mengembangkan diri. Maka jadilah seperti anak-anak, yang rasa ingin tahunya tidak terbatas. Sifat yang selalu positif bisa membawamu pada pengalaman-pengalaman baru, termasuk sesuatu yang berbentuk tantangan sedari awal.

6. Bagi anak kecil, semua orang bisa menjadi teman. Beda dengan orang dewasa yang sukanya curigaan

Semua bisa menjadi teman via beatnomad.com

Seiring kamu dewasa, kamu mulai menyimpulkan bahwa dunia tidak seindah seperti saat kamu masih anak-anak. Kamu tahu bahwa tidak semua orang punya niat baik, dan beberapa di antaranya benar-benar jahat. Rasa waspada meningkat seiring bertambahnya usia. Rasa curiga ini sering membuatmu tersisih dari pergaulan sosial. Sekarang coba lihat adikmu yang masih TK. Meski awalnya takut ketika masuk sekolah hari pertama, mereka bisa menjalin pertemanan dengan mudahnya. Mereka juga bisa memaafkan dengan mudah. Pertengkaran dengan teman memang bisa membuatnya menangis dan mengadu pada ibu guru. Tapi ketika hari esok tiba, mereka sudah bermain dengan akurnya.

7. Rasa ingin tahu anak kecil yang besar bisa menjadi jalan kesuksesan. Mereka tidak takut kegagalan, karena segalanya adalah proses pembelajaran

Rasa ingin tahu yang tinggi via blog.tutorhub.com

Rasa ingin tahu yang sama seperti anak-anak adalah salah satu ciri orang sukses. Bagi anak-anak, segala yang ditemui dalam hidup adalah hal baru. Kamu lihat adikmu bisa begitu gembira mengejar-ngejar kucing, atau menangkapi ikan di kolam. Baginya, itu adalah hal yang baru dan menyenangkan. Dia penasaran pada kucing dan pada ikan, dan karena itu dia mengejarnya sekuat tenaga. Begitu pula untuk mengejar kesuksesan. Rasa ingin tahu adalah syarat pertama, sehingga dari situ kamu akan terus belajar. Kamu akan mencoba berbagai hal baru, menghadapi risikonya, dan akhirnya mengambil pelajaran dari situ.

Saat kamu dewasa, permasalahan terlihat semakin kompleks. Beban pikiran semakin banyak, dan permasalahan kehidupan terlihat jauh lebih berat. Tapi apakah kamu sadar bahwa sebenarnya yang berubah bukanlah dunia, melainkan dirimu? Dulu ketika masih kecil, kamu menghadapi masalah dengan segala kepolosan, kini kamu sudah dewasa, caramu menghadapi masalah pun jauh berbeda. Memandang dunia dari kacamata anak-anak, dengan segala sikap positif dan kepolosannya, akan membuat segala hal lebih mudah.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!