Meski berat, terkadang sebuah hubungan memang harus berada pada titik terendah. Titik di mana keduanya sudah tidak senyaman dan seindah dulu. Melepaskan mungkin jadi yang terbaik, karena ketidakmampuan mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan.

Walau aku tak inginkan ini berakhir, aku tak kuasa menahan kenyataan bahwa kamu tak bisa kumiliki. Tidak mungkin aku terus menggenggammu sementara kamu terus memberontak ingin dilepaskan.

Sudah sangat larut dalamnya rasa ini. Kali ini, benar-benar rasa cinta teramat besar yang ku rasakan padamu. Namun, aku tidak mengerti apa maksud Tuhan memberikan rasa ini, jika akhirnya kita pun tak bisa bersama. Kamu selalu saja muncul dipikiranku. Yang bisa ku lakukan hanya mendoakanmu dalam tiap kali sujudku.

Ah. Mata, senyum dan tawa itu. Bagaimana bisa aku melupakannya? Lembut genggaman tanganmu masih terasa di sini. Bahkan sampai saat ini, di setiap kali kita bertemu. Bagaimana bisa aku melupakannya?

Kini sudah menyerah, aku memutuskan untuk menjauh darimu. Aku ingin lepas, bebas, bahagia. Pun sebenarnya aku ingin kamu bahagia.

Advertisement

Berikan saja aku waktu satu jam untuk bisa memelukmu seerat mungkin. Jadikan aku milikmu, meski hanya satu jam saja. Singkat untukku ingat kembali semua manisnya dirimu. Menyimpan hangat aromamu dan melihat wajahmu sedekat mungkin.

Ini janjiku. Aku akan menghentikan langkah kakiku untukmu.

Aku tidak mengharap ibamu atas pengakuanku. Tetaplah berjalan seperti biasa. Buat harimu lebih menyenangkan tanpa bayang-bayangku lagi.

Dari aku, yang sampai saat ini masih terlelap bersama bayang-bayang rindu.