Baik? Apa itu Baik?

Bagiku, dinamika kehidupan atas masalah dan berkah saat aku masih kecil terlihat samar karena tertutup oleh bayang-bayang kebaikan dari orang-orang di sekitar ku. Padahal, aku terkadang menyadari bahwa perbuatan yang dilakukan oleh mereka itu keluar dari batas normal. Pikirku gundah dan gelisah. Kehadiran mereka, keluargaku di rumah setiap hari nya terasa semu. Kemandirian yang aku pegang teguh selama ini membawaku ke dimennsi yang rumit, yaitu pikiranku sendiri. Kendati demikian, hadirnya sosok Dian dihidupku entah bagaimana mendongkrak pikiranku untuk menjadi orang yang berguna kelak. Baik untuk diriku sendiri, maupun orang-orang yang aku kasihi.

“Dian, kenapa kau begitu sangat baik kepadaku?” Tanyaku kepada Dian seraya berjalan keluar kelas seusai jam sekolah. Dian pun diam. Bukan karena tidak mau menjawab, melainkan keliru akan pertanyaan janggal yang kuutarakan padanya.

“Mengapa kau bertanya seperti itu padaku?”

“Tidak apa, aku hanya butuh seseorang yang dapat menerimaku apa adanya.”

Advertisement

“Aku tidak mengerti Bena. Ada apa denganmu?” Tatapan matanya yang iba membuatku terdiam seribu bahasa. Sontak aku pun pergi meninggalkannya tanpa kata. Kenapa aku? Mengapa orang yang selama ini ada dengan ku di setiap harinya tidak memberikan respon seperti apa yang aku harapkan? Tanyaku dalam hati.

Kembali nya aku ke rumah, aku terkejut dengan banyak nya saudara dan kerabatku di rumah. Dan, menyambutku lembut dengan senyuman seraya menanyakan kabar. “Wah Bena sudah besar ya sekarang, kelas berapa kamu?” Tanya salah satu saudaraku. Perempuan dengan sanggul tinggi memakai kebaya merah dengan wajah Batak itu menatapku nyinyir. Aku pun hanya tersenyum sambil berjalan ke arah kamarku. Menutup mulutku bisu. Sampai-sampai ibuku pun menghampiriku dan bertanya dengan emosi, “Nak, gak boleh gitu dong ditanya sama Bude Ayu!”. Aku pun menghiraukan emosi ibuku dan terlelap tidur.

Apakah mereka hanya berbasa-basi karena kenal denganku? Apakah mereka tahu isi pikiran dan hatiku yang sebenarnya? Apa Dian serupa dengan mereka? Apakah salam dan silaturahmi yang dijalin benar-benar tulus diutarakan untukku? Apakah kebaikan seseorang hanya dinilai dari bagaimana mereka mengutarakan salam dan simpati? Dapatkah itu disimpulkan sebagai kebaikan? Menurutku tidak. Aku bingung dan tertidur larut dalam ironi dan kesedihan.

Aku terbangun dari tidur dengan bingung dan gelisah. Bertanya-tanya dengan sejumlah pertanyaan sulit akan kehidupan yang menghantui pikiranku setiap hari. Tanpa merisaukannya, aku pun beranjak bangun dari tempat tidur dan pergi keluar kamar. Didapati keluargaku hendak pergi dari silaturahminya. Dan, menghampiriku. “Eh sudah bangun anak manis, capek ya habis pulang sekolah? Bude pulang dulu ya.” Lantur Budeku seraya mengepalkan tangan yang berisikan sejumlah uang dan memberiku. Tersenyumlah ia. Dan begitupun aku.

“Terima kasih, Bude.” Jawabku dengan senyuman. Semakinku tergelak akan tanya dan asumsi. Aku rasa mereka benar-benar baik kepadaku. Sungguh, apakah materi dapat mendefinisikan seseorang itu baik? Bergegas kuhampiri tempat tidur dan sontak terkejut dengan notifikasi ponsel dalam jumlah banyak yang kudapati dari Dian. Ia menghubungiku 11 kali. Aku pun langsung menghubunginya melalui telepon rumah.

“Dian, maaf aku tadi tidur. Maaf juga akan sikap dan perilaku ku hari ini. Aku bingung. Sungguh sangat bingung dengan kehidupanku.”

“Tidak apa-apa Bena, aku mengerti. Apa yang ingin kau sampaikan padaku, sampaikan lah. Jika ingin bercerita, ceritakanlah. Aku ini temanmu. Teman yang baik.”

“Benarkah seperti itu?” Jawabku sindir. Kamipun terlena akan lantunan bunyi hujan di luar rumah dan dinginnya keadaan, baik dalam diriku maupun hubunganku dengan Dian. Percakapan kami melalui telepon berlangsung singkat. Kami memutuskan untuk bertemu dan memiliki waktu yang berkualitas di keesokan harinya. Bertatap muka dan bercerita adalah cara yang tepat untuk mengusir asumsi negatif.

Sesampainya aku di kelas, Dian dengan sigap menghampiriku dan duduk tepat disebelah kursiku. Ia menatapku dengan gembira. Tersenyum dengan bibirnya yang tipis. Parasnya yang cantik membuatku lupa akan kegelisahanku. Kamipun memulai percakapan di hari Jum’at pagi itu dengan antusias, mulai dari pelajaran-pelajaran, hingga masalahku yang hadir menghantui. Disela-sela waktu istirahat, Dian menggandeng tanganku saat hendak pergi mencari makan siang di kantin. Aku tersipu akan usahanya untuk membuatku tenang beberapa saat.

Sampai akhirnya ia melepaskan tanganku saat bertemu dengan laki-laki yang mungkinmenjadi pujaan hatinya selama ini. Kevin. Sosok kakak kelas idaman yang menjadi pujaan semua wanita di sekolahku. Tubuhnya yang atletis, dengan tinggi semampai menjatuhkan hati setiap perempuan di sekolah, termasuk Dian. Aku pun kembali bertanya-tanya. Apakah fisik dan materi yang lebih menjadi tolak ukur seseorang untuk bisa digemari? Apakah paras bagus pribadi orang berujung pada sifatnya yang baik?

Alih-alih aku bertanya pada diri sendiri, aku mulai menjajaki pengamatan langsung secara vital untuk semua lini. Termasuk kebaikan ini. Aku pun bergegas pulang ke rumah dan mengurungkan niatku untuk berbincang dengan Dian. Kenyataanpun mendukung keputusanku untuk menghindar. Dian pergi dengan Kevin tanpa memerhatikanku.

Kuamati dan kupelajari seluruh gerak-gerik dan unsur yang menjadi faktor kerisauan pikiranku selama ini akan apa arti kebaikan yang sebenarnya. Hingga aku mendapatkan akar permasalahan yang harus ditanam sebagai landasan perilaku setiap orang terkait kebaikan ini. Yaitu, cinta. Dan, dimulailah penjelajahan pikiranku secara nyata.