Tak pernah kuduga kita kan bertemu dengan keadaan yang tak pernah kuinginkan. Tak kusangka kau berdiri di depanku, aku melihat dirimu dan semua yang ada padamu dengan kedua mataku, menggenggam tanganmu, memelukmu dan mencium aroma tubuhmu, bersandar di bahumu, dan membelai wajahmu. Rasa yang tak bisa tergantikan dengan rasa apapun saat kau ada di depanku dan aku memelukmu. Rasa bahagia yang hampir sama saat kau mengatakan "i love you, will you marry me?" and i answer "yes! surely i will!" dengan mata berkaca-kaca aku menjawab dan walaupun kutahu itu tidak serius kau ucapkan dan hanya melalui telepon, dan rasa itu masih membekas hingga saat ini.

Waktu berlalu, aku selalu menikmati waktu bersamamu meski hanya by phone. Pribadimu yang lembut, penyayang, selalu membuatku merasa nyaman, dan selalu menyenangkan itu membuatku bertahan dengan keadaan seperti ini, keadaan yang jarang sekali wanita inginkan. Saat itu aku hanya ingin terus bersamamu meski jarak memisahkan dan meski hanya suaramu yang kudengar setiap hari. Aku bahagia dengan keadaan itu. Banyak hal dan impian yang sering kita bicarakan jika kita bertemu suatu saat nanti. Dan aku selalu menunggu waktu itu datang, meski belum ada kata "maukah kau menjadi pacarku?" darimu. Namun aku tetap menunggu waktu yang Tuhan tentukan untuk kita bertemu.

Kini waktu yang ditentukan telah tiba, aku telah meninggalkan semuanya dan datang mencari dia yang selama ini aku rindukan pelukannya. Tak percaya aku telah ada di sini melihat dia dan semua yang ingin kulihat dari dirinya. Sekali lagi aku merasakan bahagia yang tak bisa tergantikan. Rasa cinta ini semakin tumbuh besar dalam beberapa hari, beberapa hari berada di sisinya. Ah sayang dirimu lebih indah dari yang kubayangkan. Senyummu lebih menawan dari yang pernah kulihat di fotomu. Aku mengagumimu dan hmm seharusnya itu pujian untuk seorang wanita dari seorang pria, bukan sebaliknya, tapi itu tak menjadi masalah. Aku sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan indah ini. Menikmati waktu bersamamu dan merasakan bahagia berada di sisimu. Tak berhentinya aku bersyukur saat itu.

Jatuh cinta dan mencinatimu, entah itu bagian yang terindah dari hidupku ataukah itu kebodohanku. Bahagia dan rasa syukur saat itu seakan hilang perlahan. Seperti es yang meleleh karena terkena panasnya sinar matahari. Akulah es itu dan kenyataan yang ada adalah matahari. Bahagia itu lenyap ditelan kenyataan yang tidak ingin kutahu bahkan mendengarnyapun aku tidak ingin. Tapi, itulah kenyataan. Meski aku tak percaya dan tidak ingin berada pada kenyataan itu, tapi itulah kenyataannya. Aku harus berjalan dan hidup dengan kenyataan itu, bukan dengan impian-impian indah yang pernah kita impikan. Aku menyesal bukan karena kenyataan yang ada, aku menyesal karena ketidakjujuranmu. Kau memeberikanku harapan seakan-akan hanya aku wanita yang kau inginkan hidup bersamamu.

Aku terlanjur menaruh harapanku padamu dan itu kebodohanku. Aku terlanjur menginginkanmu itu harapanku. Dan aku terlanjur jatuh begitu dalam pada cintamu dan mencintaimu itu adalah kebahagiaanku.

Advertisement

Terkadang aku menangisi diriku dan bertanya, mengapa saat itu aku meresponi dan membalas say "hay" mu.. Jika saja aku tidak menanggapimu saat itu, pasti aku tidak akan merasakan sakit ini. Akupun bertanya pada Tuhan, mengapa bahagia ini hanya diizinkan hadir untuk sesaat? Aku ingin berteriak dan merobek wajahku karena sakit ini.

Malam itu aku tidur dengan berselimutkan lengan dan tubuhmu, kau memelukku erat, hujan turun dengan semangatnya di atas tanah, bunyinya menutupi suara kesibukan manusia, dinginnya angin saat itu membuatku ingin terus berada dalam pelukanmu. Wow! Bahagiaku saat itu tak ingin aku gantikan dengan apapun, aku ingin waktu berhenti. Namun itupun hanya sementara, karena saat pelukkanmu mulai membuatku ingin menghentikan waktu, kamu mengatakan sesuatu yang sebenarnya telah terjadi, kenyataan yang tidak ingin aku ketahui. Sesaat pelukan hangatmu menjadi begitu dingin, aku terdiam kaku, beku karena dinginnya angin mengalahkan hangat pelukanmu, darahku sperti berhenti mengalir, kurasakan seperti miliaran jarum yang masuk melalui pori-pori dan menusuk daging hingga tulangku, bernapaspun aku tak sanggup saat itu. Air mata jatuh perlahan membasahi wajah bahagiaku saat itu. Mengapa hampir semua kenyataan menyakitkan? Mengapa kenyataan yang terjadi tak seindah yang kuimpikan? Apa salahku hingga aku harus hidup dengan kenyataan ini?

Aku tak bisa menerima bahwa kamu telah bersama dia. Kau begitu meyakinkan cintamu padaku saat kita masih menjalin hubungan tanpa status dan long distance relationship. Aku percaya karena bagiku saat itu kamu type yang tidak mungkin membohongiku. Tapi semua telah terjadi, aku ingin mengembalikan waktu saat kau memintaku untuk datang menemuimu, saat itu dengan penuh harapan kau memintaku "sayang cepatlah datang ke sini, aku merindukanmu." Jika saja waktu itu aku memenuhi keinginanmu, kita akan terus bersama dan aku tidak akan ada pada kesakitan ini. Maafkan aku yang sempat tidak menanggapi perasaanmu. Bukan cinta ini yang terlambat, tapi aku yang terlambat. Aku menyesal pernah membuatmu menunggu.

Saat ini aku sedang bingung, seperti apa aku di matamu.. Kau anggap apa aku saat ini. Kekasih gelapmu kah? Ataukah hanya teman? Ataukah aku hanya menjadi seseorang yang hanya kau ingin saat kau butuh? Aku mungkin kekasih yang tak kau anggap. Maybe i'm your another love. Kau menyayangiku, tapi kau telah mencinta dia. Aku bingung dan hidup dengan rasa sakit yang menggila, membuatku ingin pergi jauh dan menghilang darimu. Tapi kenyataannya aku tak sanggup menjauh darimu, memikirkannya saja aku tak ingin. Aku ingat saat dulu, kita pernah dengar lagu bersama dan lagi-lagi by phone. Michael Learns To Rock, kita selalu mendengarkan lagu mereka. Aku selalu ingat kata-kata “I love you, I miss you, cepatlah kesini” yang sering kau ucapkan dulu padaku. Semua ingatan itu membuatku ingin kembali ke masa itu. Bahagianya aku menjadi wanitamu saat itu. Sekarang pun mungkin aku wanitamu, wanita keduamu.

Aku rela menjadi apapun yang kau inginkan, asalkan bisa bersamamu menghabiskan waktuku yang mungkin aku tidak tahu sampai kapan Tuhan memberikanku waktu untuk hidup. Kesedihanku saat ini semakin dalam ketika ku tahu kau sedang bersama dia. Kau pergi mungkin dengan bahagia karena mungkin akan bertemu dengan dia meninggalkanku dengan luka dan kesakitan. Wajarlah kau rela pergi untuk dia, karena dia mungkin lebih baik dariku. Dia lebih cantik, berasal dari keluarga berada, lebih berpendidikan, dia lebih sukses dariku saat ini. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswi yang berpenampilan apa adanya, yang sedang berusaha menyelesaikan kuliahku dan bekerja paruh waktu untuk kuliahku, berasal dari keluarga sederhana, dan mungkin tidak hebat seperti dia. Tapi meski dalam kesakitan aku bersyukur bisa bertemu denganmu, kesempatan untuk melihatmu akan menjadi hal terindah dalam hidupku.

Aku sedang bertanya pada diriku, apakah dia memikirkanku ketika bersama wanitanya? Apakah dia tidak mengingat masa-masa indah yang penuh romatisme bersamaku? Dan lagi-lagi hanya waktu yang bisa menjawab. Cintaku padamu saat ini, jika digambarkan dengan warna adalah warna hitam, warna yang bisa dipadukan dengan warna apapun dan akan tetap terlihat indah dan mencolok. Dan aku akan tetap terlihat indah dan bertahan dengan segala kesakitan yang kau berikan. Kenyataan ini memang membuatku jatuh dalam kesakitan yang begitu dalam hingga bernapaspun aku tak ingin. Namun kenyataan ini membuat aku sadar bahwa aku harus menjadi lebih baik lagi dari semua wanita di dunia ini. Kenyataan ini memotivasiku bahwa aku harus sukses, aku harus hidup lebih layak, aku harus membanggakan orang-orang disekitarku, aku harus menjadi wanita hebat, aku harus mendapatkan cintamu!

Satu hal yang selalu aku doakan adalah bersamamu. Kamu pernah berkata “aku menyayangimu dan aku sedang dalam proses mencintaimu.” Kata-katamu membuat aku sedikit kuat, dan memberiku sedikit harapan bahwa aku masih bisa mendapatkan cintamu, asalkan aku mau berusaha dan menjadi lebih baik lagi.

Love is like a rubber band held a both ends by two people, when one leaves it hurts the other. Now I’m hurt, I’m alone, I’m depressed, I cry myself to sleep and I hate myself because all of you. But I hope you are doing okay, because I LOVE YOU.”

Aku lebih dulu mencintaimu, dan aku telah memilih untuk mencintaimu, jadi apapun resiko karena telah mencintaimu akan aku tanggung meski sendiri dan terasa sakit. Asal kau tahu aku bukan tipe wanita yang hanya bisa menangis menerima kenyataan yang pahit. Aku adalah tipe wanita yang akan berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan namun dengan cara yang benar. Aku bukan tipe wanita yang betah hidup dalam kesedihan, aku bukan tipe wanita yang hanya mau menerima dan tidak bertindak. Aku wanita yang selalu menguatkan diriku sendiri dan itu selalu berhasil. Karena aku yakin, banyak hal yang indah dalam hidup bisa kita dapati asalkan kita memandangnya dengan cara pandang yang positif.

Aku hanya yakin aku bisa mendapatkamu. Keyakinanku itu bukan hanya keyakinan yang muncul begitu saja, keyakinanku berdasarkan fakta, bahwa ketika seseorang hidup dengan baik, berusaha dan berjuang dengan doa, apa yang diinginkan pasti Tuhan perhatikan. Mungkin juga, Tuhan akan memberikanku seseorang yang lebih baik darimu, tapi Tuhan tahu saat ini aku hanya menginginkan kamu. Kamu yang telah mengangkatku tinggi hingga ke awan dan menjatuhkan ku kembali ke tanah, dan mengangkatku lagi dengan kata-katamu “aku menyanyangimu dan sedang dalam proses mencintaimu. Aku hanya pergi untuk sementara, dan bukan maksud untuk bertemu dia, hanya kebetulan saja dia ada di sana, aku akan kembali, sayang kamu pasti kuat.” Well, aku masih bisa tersenyum dalam sakitku karena itu, dan jika aku mengingat kembali saat bersamamu terkadang kamu mengucapkan “aku mencintaimu” dan bodohnya aku tidak menyadari itu. Aku semakin bersemangat untuk hidup lebih baik lagi.

Ketika aku menanggapi semua yang telah terjadi dengan positif, kekuatan baru aku dapatkan, aku bisa tersenyum lepas dari rasa sakit, karena semua itu kujadikan motivasi bagiku, dia belum memilikimu dan aku masih punya kesempatan untuk memilikimu. Semoga saja belum terlambat. Amin. Terima kasih untuk luka ini, terima kasih untuk ketidakjujuranmu, terima kasih untuk semua yang kau berikan, untuk pelukan, senyuman, belaian, kata cintamu, untuk semua harapan dan impian yang pernah kita impikan. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Aku menunggu kedatanganmu, kembali ke pelukanku. Aku memilihmu dan selamanya kau akan tetap aku pilih untuk jadi cintaku, meski aku terlihat bodoh tapi aku akan tetap hidup dengan pilihanku. Dan pilihanku telah jatuh, dan mati padamu. Yah, cinta dan hubungan kita yang abu-abu ini membuatku ingin menjadikannya lebih berwarna lagi ketika kau memintaku untuk tetap kuat dan bertahan dalam hubungan ini dan memintaku untuk menunggumu kembali.

Untukmu,
yang telah menjadi bagian terindah selama aku hidup

Dariku,
seseorang yang memilihmu untuk menajdi cinta dalam hidup, seseorang yang akan selalu menerimamu apa adanya, seseorang yang akan selalu menunggumu kembali, seseorang yang akan selalu kuat dan mencitaimu. Seseorang yang telah kau jadikan wanitamu yang lain.