Aku duduk di Pantai Goa Cemara Bantul. Menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup dari arah selatan. Sesekali aku buka buku catatan harian perjalanan hidup yang memang sengaja aku tulis untuk mengenang kejadian dalam hidup. Berkat catatan inilah aku mulai merintis karir sebagai penulis lepas di sebuah komunitas.

Pena ditangan kanan dan buku ditangan kiri.

Aku sibuk membalas pesanmu, kawan sekaligus sosok yang pernah ada dalam doaku. Kali ini dia bercerita sedang di alam bebas menikmati acara pemuda atau pemudi. Supel dan pemikiran yang santai, i like it! Akhir-akhir ini memang komunikasiku banyak membahas tentang diri kami sendiri dan hal-hal yang biasa kami lalui.

Bukan apa-apa, rasanya enjoy saja membagi kisah pada orang yang bisa dipercayai bahkan kadang aku merasa comment-nya bikin aku tertawa. Ya, kami sering berbagi cerita konyol mulai dari mengenal pasangan hingga hobi. Kebetulan kami dalam satu komunitas grup news network. Sambil aku berjalan menyusuri ombak yang tidak habisnya aku menatap jauh.

Tiga bulan yang lalu tepatnya di bulan April dimana aku remuk redam setelah pengalaman hati. Akunku, Instagram sebelumnya memang dijahili seseorang karena bermain-main dengan dunia hitam dimana foto hilang tak berbekas. Obrolan bersambung dengan DM darinya yang menanyakan bagaimana kabarku dan lain-lainnya.

Advertisement

Komunikasi intens antara aku dan dia sejenak melupakan beban yang ada. Jikalau saja hiburan ini sejak dulu ada, entahlah. Lebih baik menyendiri untuk saat ini dan berkumpul bersama teman-teman seperjuangan. Muncul di dalam benakku, apakah iya banyak sahabat yang menghilang setelah punya pasangan dan kembali ketika sudah menutup kisah? Apakah iya aku dulu seperti itu? Bisa iya bisa tidak tapi yang aku pahami sahabat sejati sejauh apapun melangkah pasti akan kembali, pastinya membagi getirnya kisah.

Kawanku ini dulu seorang yang aku kenal sebagai konsultan kesehatan sebuah perusahaan. Skema yang dijalankan dengan memberikan bimbingan konsultasi dan periksa kesehatan, setelah itu akan berlanjut dengan rekomendasi obat. Nah, dia juga punya obat itu! Konsultasi, periksa dan beli obat. Skema ibarat orang jualan bakso atau mie ayam, kalau sudah kenyang dan haus pasti dia juga sedia minum.


Tuhan tahu kemana takdir membawa diri kita.. 


Pernah di dalam chat whatsapp dia menyebut kalau aku ini mirip dengan seseorang yang tak aku ketahui. Usut punya usut ternyata dia orang itu adalah teman ketika ia sekolah dulu. Sebab, cerita inilah beberapa kali aku menjadi bintang di hati, bukan sok ganteng atau apa tapi lebih karena aku mirip saja.

Hanya beberapa bulan setelah bertemu dan bertegur sapa dia pergi entah kemana aku tak tahu. Bagiku, memang tidak masalah jika pergi mengejar yang lebih baik, namun aku menyesalkan persahabatan yang baru berjalan terputus tanpa kabar. Tuhan berkata lain, aku ditakdirkan kembali bertemu dalam keadaan duka. Salah satu anggota keluarga dipanggil lebih cepat oleh Yang Maha Kuasa. Terpukul dengan berita ini, aku dan sahabat lainnya datang untuk melayat.

Kawan, aku tahu engkau kuat menghadapi cobaan ini. Semoga menjadi tanda bagi semua kehilangan seseorang dalam hidup adalah momen yang takkan bisa dilupakan. Aku tatap pasir di kaki, basah, bukan karena bekas ombak yang menyapu namun air mataku jatuh. Kawan, aku membayangkan betapa berat rasa kehilangan. Batu tempat dudukku ini tak lagi bersahabat ketika aku mengingat hari itu kawan.

Aku tutup buku catatanku, bukan untuk mengakhiri kisah ini tapi aku ingin membuka lembaran baru di halaman lain. Kawan, bagiku kau adalah wanita hebat yang pernah ku kenal. Kau juga punya kisah hati yang menggelikan tak ubahnya diriku. Kandas, kurasa memang lebih baik demikian karena akan jadi cerita anak cucu bahwa kita manusia biasa yang bisa gagal, termasuk dalam kisah cinta.