Tentang dia. Dia yang sebenarnya bukan siapa-siapa. Dia yang sebenarnya hanya teman biasa. Namun bersamanya membuatku ingin melukiskan angan di angkasa. Bersamanya hari-hariku terasa begitu berwarna. Siapa sangka, kebersamaan yang bermula dari canda tawa itu telah membuatku begitu nyaman.

Lalu dengan lancang datang sebuah perasaan yang tak bisa ku kendalikan. Aku merasa aku mulai membutuhkannya, aku ingin selalu ada disampingnya, aku ingin menjadi seseorang yang bisa leluasa menggenggam tangan nya, dan jujur saja aku begitu menginginkan dirinya. Entah dia mengerti atau tidak, yang jelas aku rindu saat dia tak memberi kabar kepadaku. Aku cemburu kala mengetahui dia pergi dengan teman-teman wanitanya.

Aku tau aku hanyalah seorang wanita dan sangat sulit bagiku untuk bicara kepadanya. Apalagi harus mengakui di hadapannya bahwa aku menyukainya, rasanya mustahil. Aku tak punya cukup keberanian untuk jujur kepadanya, aku pun tak punya nyali. Sekedar mengajaknya jalan saja aku takut. Memang selama ini aku hanya duduk manis menunggu dia mengajakku menjelajah kota tempat tinggalnya. Lalu dengan begitu aku bisa menghabiskan waktu berdua dengannya.

Diam, hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku ragu menunjukkan perasaanku kepadanya. Aku takut membuatnya tidak nyaman. Aku tidak ingin merusak keakraban yang sudah kami bangun begitu lamanya. Mungkin memang aku yang terlalu jauh berharap, sedangkan dia tak pernah menganggap. Lalu salahkah jika orang sepertiku jatuh cinta? Karena hakikatnya rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Aku pun tak pernah tau akan dengan siapa cinta itu tertuju. Begitu juga saat aku mencoba menghapuskannya, malah ia semakin kuat menancap didalam dada.

Telah berbagai cara kucoba untuk mengalihkan perhatian darinya, namun sungguh tak mudah. Bahkan bayangnya semakin liar menyebar di kepala. Sampai aku menemukan sebuah cara mencinta yang begitu mulia. Cinta dalam diam. Itulah satu-satunya cara yang menurutku istimewa. Di mana aku bisa mencintainya dalam diam dan mengekspresikannya lewat senyuman. Dengan suara yang tidak terjamah telinga namun untaian doa menggema di angkasa. Memeluknya dengan rangkaian kata dalam doa yang ku panjatkan kepada-Nya. Memohon kepada pencipta agar senantiasa menjaganya dimanapun ia berada. Meminta kepada-Nya untuk menuliskan namaku dan namanya di daun yang sama.