Hey kamu..
Kamu yang pernah begitu perhatian dan sedikit mengatur hidupku.

Nyatanya sama suku dan agama tak bisa membuat kita makin dekat ya? Sekarang aku dengar dan lihat bahwa kamu tak sendiri lagi, sudah ada dia di sampingmu. Sayang nya dia berbeda darimu, dari kita. Tapi agama yang berseberangan tak membuat kalian berjauhan seperti dua kutub magnet yang sama. Atau, apa mungkin karena kita berasal dari kutub yang sama maka kita tak bisa menyatu? Hahahha.

Kita pernah bercerita tentang dua agama yang berbeda dalam sebuah pernikahan. Akan sulit pastinya ketika cinta semakin kuat dan dua makhluk bernama manusia ini saling tak ingin kehilangan tapi ingin saling mempersatukan diri dalam sebuah ikatan permanen bernama pernikahan. Mereka bukan lagi menikahkan raga, jiwa, juga keluarga, tapi juga agama.

Agama, mungkin bagi sebagian orang agama tak lebih dari salah satu aliran kepercayaan yang mereka anut dan terpampang di KTP. Walau berhasil menikahkan raga, jiwa, keluarga, juga agama bagaimana dengan anak-anak yang akan dititipkan Tuhan kepada kalian?

Aku tau kamu masih mencari arti dari iman kita ini, dan kita sama-sama belajar. Kita sama-sama berada di lingkungan minoritas, dan terbiasa dengan saudara dari iman yang berbeda. Dan yaahhh, siapa yang tau hati akan jatuh pada siapa ? Bahkan jatuh cinta bisa melewati batas sosial.

Advertisement

Cinta bahkan tak mengenal kasta, jarak, warna kulit, jenis rambut, kewarganegaraan, bahasa bahkan agama 🙂

Semua bisa ditembus hanya dengan sekali tatapan mata atau bahkan hanya lewat dunia maya sekali pun.

Kalau kamu bisa membawanya, aku akan sangat bangga. Atau meski kamu nanti jadi imamnya, aku harap kamu bisa menuntunnya. Bagaimana pun kamu laki-laki, dan harus jadi panutan dalam keluarga apalagi soal agama. Atau mungkin jika kalian bersatu dengan mempertahankan agama masing-masing, aku harap kalian bisa mengarahkan anak-anak kalian dan juga jadi orang tua yang demokratis dan membantu anak-anak kalian nantinya.

Semua kata-kata di atas adalah isi hatiku di pertengahan tahun ini. Menjelang akhir tahun, kudapat kabar yang sangat luar biasa, kau dan agama barumu..

Tidak, aku tidak menyesal karena kau semakin dekat dengannya dan telah meningkatkan level hubunganmu dan merencanakan pernikahan. Aku sadar dan tau diri, aku tak sebaik dia di matamu.Dan pasti telah kau temukan sesuatu yang berharga, hingga kau rela menyerahkan semua termasuk imanmu itu. Aku bukan bermaksud untuk berkata bahwa tak ada agama yang benar selain agama kita, hanya saja aku merasa gagal.

Aku hanya sedikit merasa bersalah padamu, karena sebagai saudara seiman aku tak bisa turut menjaga imanmu. Tak bisa turut menguatkannya.

Kata-kata yang sederhana ini membantuku mengungkapkan, betapa dulu kau pernah sangat berarti untukku, betapa aku pernah berharap kau menjadi teman hidupku. Namun, betapa pun aku berharap, Tuhan telah menuliskan skenario-Nya.

Tuhan yang mana? Entahlah.