Mungkin artikel ini akan berisi curhatan-curhatan receh dariku, gadis biasa yang masih tergolong sarjana baru. Tapi, ketahuilah teman, kalian juga pasti akan mengalaminya setelah lulus kuliah nanti. Ya, hitung-hitung mempersiapkan diri dari sekarang 'kan?

31 Oktober 2016 lalu, aku lulus dan dinobatkan sebagai sarjana di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Tangerang. Setelah lulus tentu saja banyak harapan dan cita-cita yang datang dari dalam diri maupun dari orang-orang tercinta di rumah, yang selama ini ikut berjuang, serta menguatkan dalam setiap langkah.

Harapan setelah lulus adalah segera mendapat pekerjaan atau mencoba berwirausaha dengan mengembangkan keahlian di bidang salon dan spa yang dimiliki sebelumnya. Dua minggu setelah hari kelulusan, akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Lampung, menyusul mamak dan bapak yang sudah pulang lebih dulu setelah wisuda.

Hari demi hari berlalu, aku terus mencari peluang pekerjaan yang ku anggap cocok untuk lulusan baru. Hampir setiap hari aku berkutat di depan laptop mencari peluang pekerjaan lewat situs pencari kerja. Selain itu aku juga rajin bertanya pada saudara di kampung kalau-kalau ada lowongan kerja. Sudah banyak lamaran pekerjaan online yang aku masukkan ke beberapa perusahaan-perusahaan besar, baik di Lampung maupun di Jabodetabek. Dengan harapan semoga dapat tentunya.

Dua bulan berlalu, alhamdulillah ada panggilan kerja di salah satu perusahaan di Lampung dengan posisi management trainee. Artinya, nantinya aku akan menjabat sebagai supervisor penjualan. Meskipun menggunakan sistem kontrak penahanan ijazah, aku tergiur karena melihat gaji yang lumayan besar. Namun, rasanya Tuhan punya rencana lain. Setelah pulang dari wawancara kerja, aku mengobrol dengan mamakku dan ia mencerahkan pikiranku. Aku pikir restu orangtua adalah segalanya, maka aku urungkan niatku untuk bekerja di sana.

Advertisement

"Ijazah ditahan? Ya nanti kalau nggak hilang, kalau hilang, kamu yang susah. Belum lagi kalau kamu nggak kuat kerja di perusahaan itu. Sebelum setahun, siapa yang mau bayar denda? Coba cari kerja yang lain dulu, Nak. Nggak perlu nitip ijazahmu di situ."

Sesudah itu, aku terpaku diam dan bosan karena berdiam diri cukup lama di rumah. "Apa yang harus ku perbuat agar tidak bosan? Buka Spa lagi? Ah, kalau melihat pasar sepertinya tidak memungkinkan untuk buka disini, kecuali di Kota."

Rasanya pun aku tak tahan dengan cibiran tetangga yang mulai nyinyir bertanya, "Mbak, kan udah lulus, belum kerja juga, to?". Duh, Gusti. Aku cuma bisa nyengir sambil berasalan belum menemukan pekerjaan yang cocok. Aku bingung dengan apa yang ada di pikiran tetangga. Apa menurut mereka mendapat pekerjaan itu mudah? Ya, inilah dilema yang mungkin dialami oleh lulusan baru, ya.

Aku bertanya pada teman-temanku dan semuanya berpendapat sama. Cari pekerjaan itu sulit. Selain cibiran tetangga, yang menjadi kendala menurut teman-temanku adalah syarat nilai TOEFL minimal 500 bagi para pencari kerja. Sedangkan aku, yang nilai TOEFL-nya tidak sampai 500, cuma bisa pasrah sembari terus mencari peluang. Anggap saja waktu tidak bekerja yang cukup lama ini sebagai waktu untuk meningkatkan kualitas hubungan dengan keluarga. Waktu yang sempat hilang karena aku merantau.

Hidup terus bergulir. Aku mencoba peruntungan baru dengan membuka Spa panggilan yang dipasarkan lewat media online, jadi tidak perlu menyediakan tempat. Lebih hemat, serta waktu yang fleksibel tentunya. Meski harus memulai segalanya dari awal lagi, aku tidak takut. Bagiku orang yang berhasil adalah ia yang mampu menyesuaikan diri untuk terus bertahan hidup di tengah kondisi yang tidak memungkinkan. Paling tidak aku sudah berusaha untuk menyesuaikan diri. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan untuk tetap memiliki penghasilan yang halal. Lagipula, bukankah hujan batu di rumah sendiri jauh lebih baik daripada hujan emas di rumah orang lain? Kalau aku pernah berhasil dan sukses mandiri di Tangerang dengan bisnis ini, harusnya aku juga bisa sukses di Lampung, tanah kelahiranku.

Aku sempat merutuki nasibku sendiri yang tak kunjung mendapat pekerjaan karena ijazah juga belum terbit. Kampus hanya membekali surat keterangan lulus dan transkrip nilai sebagai bekal untuk mencari pekerjaan. Bersyukur sekali memiliki orangtua yang pengertian tidak menuntut macam-macam, jadi aku tidak terlalu tertekan. Mamak bilang mungkin memang belum waktunya kerja, jadi sabar saja.

Buat teman-teman, yang masih kuliah maupun menjelang kelulusan. Kalian harus tahu bahwa kehidupan sebenarnya baru dimulai lagi di sini, setelah lulus. Kita dijuji lagi untuk mendapatkan pekerjaan. Saat masih berstatus mahasiswa dapat mengelak, belum mendapat pekerjaan karena memang masih kuliah. Kali ini, tunjukkan saja kalau kamu bisa memiliki penghasilan meski tidak banyak.

Satu hal yang aku yakini saat ini adalah mungkin ini cara terbaik Allah untuk membuatku lebih dekat dengan-Nya maupun dengan keluargaku.

" Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Dan ingatlah Allah jua yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui" (Q.S Al-Baqarah : 216)

Semangat ya teman-teman semuanya!