Kau, harusnya tak perlu ku jelaskan pada dunia tentangmu. Tapi tanpa perlu banyak kata, mereka pun akhirnya memahami sebuah rasa, antara kita.

Rasa yang sering kuragukan untuk disebut dengan cinta. Bukan cinta, mungkin hanya bahagia.

1. Kau dulu membuatku menoleh hanya karena kesombonganmu

Aku sempat berpikir sesaat setelah melihatmu "Lelaki ngga tau diri, belum apa-apa aja songongnya selangit"

Iya. Pertama kali melihatmu justru pikiran negatif yang selalu menghantui. Pikiran yang sampai saat ini selalu kau artikan sebagai "trik" menjeratku. Ah iya, aku tidak terjerat. Kau salah. Aku hanya penasaran, memang.

Advertisement

2. Penasaranku menimbulkan banyak pertanyaan yang tak pernah ku sadari

Semakin membencimu, semakin berusaha menjauhimu, tanpa sadar justru semakin dekat denganmu. Ah hidup itu penuh dengan tanda tanya yang kadang kita sendiri tak pernah tau. Nyatanya, aku semakin dekat denganmu. Dan, kau berhasil membuatku nyaman. Hanya nyaman. Yang selalu ku tutupi.

3. Aku bahagia bersamamu, sayangnya kau bukan kekasihku

Masih teringat di ingatan ketika kau mengucapkan kata yang tak pernah ku tau darimana asalnya.

"Kau dan dia adalah jalan raya, biarlah aku menjadi trotoar yang selalu menemani jalanmu"

Dan bukan hanya itu saja, kau berhasil membuatku merasa menjadi satu-satunya. Kau memang ahli menjerat wanita, pikirku.

"Kau hanya perlu tau, kau punya space yang tak pernah ku bagi dengan siapapun"

Wanita mana yang tak terjerat dengan rayuan gombalmu, dan sayangnya kau melakukan semuanya itu untukku.

4. Bolehkah aku meminta untuk jangan meninggalkanku?

Sampai suatu hari dengan khilafnya, kita yang selalu komunikasi tanpa spasi menjelaskan hal yang dengan polosnya dilakukan oleh orang seumuran kita.

Aku "Kau dengan segala sibukmu sekarang membuatku merasa kau menghilang, dan kau berubah"

Kamu "Aku selalu ada sayang. Selalu ada untukmu."

Maafkan aku jika membuatmu terluka, aku hanya wanita biasa. Yang kau tau aku mempunyai dirimu dan dirinya.