Apapun yang terjadi dalam hidup tentu bukanlah hal yang disangka-sangka. Siapapun pasti akan setuju dengan hal itu. Kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi pada diri kita, seperti halnya ketika kita menyusun suatu rencana. Pasti ada saja yang melenceng dari yang direncanakan. Contohnya saja, ketika kita berencana untuk berwisata ke pantai. Kita berencana untuk berjemur di pantai, namun hal itu tidak jadi dilakukan karena ternyata pagi itu masyarakat setempat sedang melakukan acara keagamaan di sekitar pantai sehingga wisatawan tidak diperkenankan untuk beraktivitas di sekitar pantai sampai jam yang sudah ditentukan. Kalau sudah begitu apa boleh buat, rencana untuk bersantai menikmati matahari pagi di pantai harus pupus. Bukan masalah memang karena di lain waktu pasti bisa dicoba lagi. Satu contoh lagi yang semakin meyakinkanku pada ketidaksangkaan dalam hidup yakni pada suatu pertemuan. Yaa.. pertemuanku dan kamu. Pertemuan kita bukan sesuatu yang disengaja.

Sore ini, tepatnya di hari Sabtu sekitar pukul 16.00, aku sudah berencana untuk menghabiskan waktu luang di cafe langganganku. Seperti biasanya aku memesan secangkir kopi hangat dan sepotong brownis yang sengaja kupesan karena seperti biasanya kedua hal tersebut adalah barang ampuh buatku menghilangkan penat di kepala. Yaa.. sudah hampir sebulan ini aku dikejar deadline di kantor. Bahkan sudah beberapa kali weekend aku tak punya waktu untuk bersantai. Tapi sore ini aku bisa bersantai sejenak karena semua pekerjaan ku hampir selesai hanya tinggal menambahkan sedikit referensi saja. Makanya di Sabtu sore ini aku bisa melakukan treatment melepaskan penat.

Sesekali ku seruput kopi hangat ku dan memakan sedikit demi sedikit potongan brownisku kemudian ku nikmati kenikmatannya di lidahku dan ku lepaskan sedikit demi sedikit kepenantanku, lalu ku hela nafas panjang. Huuuuu…. Itulah ritual yang selalu ku lakukan untuk menenangkan hati dan pikiranku. Simpel saja bukan? Hal itu kulakukan beberapa kali hingga aku merasa sudah cukup normal hati dan pikiran ini. Tanpa terasa secangkir kopi ku sudah habis dan sepotong brownisku juga sudah lenyap. Itu tandanya aku harus segera kembali pada file-file deadlineku dan yang pastinya sekarang aku punya semangat yang baru untuk memulainya. Aku berencana akan menyelesaikan semua pekerjaanku di cafe karena aku meyakini suasana baru akan memberi semangat baru pula. Aku pun mulai mengambil laptopku dari dalam tas dan aku pun mulai mengetik dan fokus pada monitor laptopku.

Aku terlalu asik dengan pekerjaanku sehingga tak terasa aku hampir menyelesaikan semua pekerjaanku. Namun, sejak 5 menit lalu, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari satu sudut sebelah kanan ruangan di cafe. Aku mencoba untuk menepis pikiran-pikiran yang mulai menggangguku dan mencuri perhatianku itu karena aku memang sudah bertekad untuk menyelesaikan semua pekerjaanku sore ini. Aku pun berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaanku. Berusaha sekuat tenaga pun ternyata, aku manusia biasa yang mudah tergoda dan alhasil perhatianku kini beralih pada sesuatu di sudut kanan cafe. Yaa sudahlah.. Aku menyerah.. Perhatianku teralihkan.

“Ternyata aku tak mampu menepis pesonamu”

Advertisement

Kini mataku sudah tertuju pada objek yang berbeda. Tak lagi layar monitor laptop ku tetapi kini aku fokus pada sesosok yang duduk di sudut sana. Lagi-lagi sesuatu hal yang di luar dugaanku. Ternyata yang baru saja berhasil mencuri perhatianku adalah sesosok lelaki yang rupawan, bersenyum indah, dan tatapan matanya begitu hangat. Dia bicara begitu ramah pada seorang waiter yang melayani pesanannya. Seketika aku terkesima dengan pemandangan yang ada di hadapanku ini. Merasa ada yang memperhatikannya, lelaki tampan itu pun memandang ke arahku dan kami saling beradu pandang. Aku sungguh terpesona dengannya. Sadar akan hal itu, ia pun melontarkan senyum padaku. Indahnyaaa…

Siapa lelaki itu? Mengapa ia begitu memesona? Sudah hampir sejam aku duduk sambil mencuri-curi pandang padanya. Sedangkan dia asik dengan laptopnya. Aku pun mulai berspekulasi, mungkin dia sedang dikejar deadline sama sepertiku, ahhh belum tentu. Mungkin saja dia seorang penulis, atau dia seorang pengusaha yang sibuk dengan bisnisnya, atau dia seorang mahasiswa yang datang ke cafe untuk sekedar menikmati fasilitas wifi yang disediakan oleh pihak cafe, atau, atau, dan atau. Aku pun mulai sidbuk sendiri dengan spekulasiku dan aku mulai melupakan file-file kantorku. Ntahlah..Aku tak peduli. Aku mau fokus pada pemandangan indah yang satu ini. Tiba-tiba terbesit di pikiranku agar aku tetap bisa melihat sosok indah ini di lain waktu jangan hanya hari ini saja. Lalu bagaimana caranya? Apa aku harus menghampirinya kemudian meminta kontaknya agar kami bisa berbincang-bincang lebih banyak lagi? Tidakk.. Aku masih memegang prinsip wanita sejati. Tak mau memulai suatu perkenalan dengan seorang pria. Maluu..

“Aku menyerah karena pesonamu dan itu tak pernah ku duga sebelumnya”

Aku pun semakin sibuk dengan pria tampan bersenyum indah dan bertatapan hangat serta pikiran tentang prinsip wanita sejatiku. Aku tak tau harus berbuat apa. Hingga akhirnya, aku harus menghela nafas karena akhirnya ia pun pergi keluar dari cafe. Mataku tak lepas dari lelaki itu hingga akhirnya tembok depan cafe menghalangi pandanganku. Dalam hati aku berbisik, “lagi-lagi tak terduga.” Aku menghela nafas panjang dan mataku kembali tertuju pada laptop. Selanjutnya, aku pun memutuskan untuk kembali fokus pada layar laptopku dan menyelesaikan tugas kantorku karena deadline tetaplah deadline. Tapi.. eheemm..eheemm.. tenggorokanku kering. Ternyata , aku haus. Pesona pria tampan itu membuatku kehilangan ion di tubuh. Aku pun kembali memesan jus kueni kesukaanku.