Pertemuan dan perpisahan seperti dua sisi mata uang yang tak akan bisa dipisahkan, selalu mengikuti kemana pergi,setelah pertemuan, entah akan bersembunyi di lubang semut atau mencoba berlari sekuat tenaga mencoba menghindari perpisahan akan tetap ada, akan selalu ada jalan untuk setiap kejadian itu, entah karena keegoisan karena sama-sama haus ditengah gurun pasir untuk memperebutkan seteguk air, atau karena salah satu harus pergi tidur untuk selamanya, atau mungkin karena perbedaan simpang yang akan ditempuh ditengah perjalanan, atau bisa jadi karena kerikil-kerikil tajam yang tak bisa lagi di injak bersama, banyak atau, atau, dan atau lainnya, kisah manusia tak selalu sama.

Dan kita adalah sama..aku dan kamu, pertemuan yang selalu berakhir dengan perpisahan, mencintai tanpa dicintai lagi, ditinggalkan tanpa merasa ditinggalkan, menyayangi tanpa di sayangi lagi, begitukah kita?

Sebelum perpisahan menjadi ujung dari perjalan kita banyak sekali kenangan yang telah kau lukis di setiap kanvas hati ku, entah itu lukisan indah pemandangan, lukisan abstrak atau hanya coret-coret ketika kau malas untuk memainkan kuas mu di atas kanvas itu.

Kenangan itu tak pernah hilang sampai detik ini, bahkan aku tak pernah mencoba untuk membuang kenangan itu, entah itu bahagia atau menyakitkan aku hanya ingin lukisan itu tetap tergantung rapi dihati ku, aku tak ingin mengusiknya, sedikitpun aku tak ingin..

Aku masih ingin kembali kemasa itu, masih ingin mengenang setiap detik kenangan itu, apakah itu mungkin?

Advertisement

Kamu, pelukis handal yang sudah melukiskan setiap kenangan itu sudah pergi, berjalan berhadapan punggung dengan wanita pemilik kanvas itu, yang mungkin sudah menemukan pemilik kanvas baru yang akan kau coret-coret lagi, atau mungkin kau akan membuat lukisan yang lebih indah dari itu.

Dari setiap lukisan yang telah kau buat, aku menyadari kau lelaki pertama yang mengajarkan aku untuk mencintai dengan sebenarnya, mencintai dengan utuh, mencintai dengan apa adanya kamu dan mencintai dengan segala kekurangan mu.

Perpisahan baik-baik hanya lah kata-kata munafik semua orang, tak ada perpisahan yang baik-baik, jika memang baik-baik saja mengapa harus berpisah?, begitu juga dengan kita, perpisahan kita tak pernah baik-baik, ada guratan luka yang kau lukis kan, ada lukisan menakutkan yang kau buat, dan ada lukisan menyakitkan yang kau buat sebelum kau pergi, jika biasanya kau melukis dengan kuas dan di atas kanvas, sebelum kau pergi kau melukis dengan pisau tajam di dinding hati ku, yang membuat lukisan luka yang teramat sakit, dan tidak kah kau tau, aku belum pernah merasakan sakit seperti itu, dan bodohnya aku, setelah itu pun aku tak bisa membuang kenangan bersama mu.

Enam ratus hari lebih setelah kamu pergi, luka ku perlahan sembuh tapi aku sadar luka ku sembuh bukan karena aku mencoba melupakan mu, atau karena seseorang yang baru yang datang di hidup ku, aku sadar luka itu sembuh dengan sendirinya karena aku masih mencintai mu, dan meski kita tak bersama aku akan tetap mencintai mu, dan mungkin aku akan masih mencintai mu sampai seseorang datang dan berhasil membuang segala kenangan bersama mu, dan hati ku menerima dengan senyuman..

Dan, mencintai dalam diam adalah mencintai yang sebenar-benarnya…

Kenapa kita menutup mata ketika tidur?

Ketika kita menangis?

Ketika kita membayangkan?

Itu karena hal terindah di dunia ini tidak terlihat

Ketika kita menemukan sesorang yang keunikannya sejalan dengan kita,

Kita bergabung dengannya dan jatuh dalam suatu keanehan

Serupa yang di namakan cinta.

Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan

Sesorang yang tidak ingin kita tinggalkan

Tapi, melepaskan bukan akhir dari dunia

Melainkan suatu awal kehidupan baru,

Kebahagian ada untuk mereka yang tersakiti,

Mereka yang telah dan tengah mencari dan mereka yang telah mencoba

Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu menintikan air mata dan masih peduli terhadapnya, ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia.

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata “aku turut bahagia untukmu”

Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu, biarkan hatimu untuk kembali ke alam bebas.

Kau mungkin menyadari, bahwa kau menemukan cinta dan kehilangannya, ketika cinta itu mati kamu tidak perlu mati bersama cinta itu

Orang yang bahagia, bukanlah mereka yang selalu mendapatkan keinginannya, melainkan mereka yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah bagaimana dalam perjalan kehidupan.

Kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada, cintamu akan tetap dihatinya sebagai penghargaan abadi atas pilihan-pilihan hidup yang telah kubuat.

Teman sejati, menegrti ketika kamu berkata “aku lupa”

Menunggu selamanya ketika kamu berkata “tunggu sebentar”

Tetap tinggal ketika kamu berkata “tinggalkan aku sendiri”

Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan belum berkata “bolehkah saya masuk?”

Mencintai juga bukanlah bagaimana kamu melupakan dia bila ia berbuat kesalahan, meliankan kamu memafkan

Bukanlah bagaimana kamu mendengarakan, melainkan bagaiman kamu mengerti

Bukanlah bagaimana apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasa

Bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan bagaimana kamu bertahan.

Mungkin akan tiba di mana saatnya kamu harus mencinta sesorang, bukan karena orang itu berhenti mencintai kita, melainkan karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih bahagia apabila kita melepaskannya

Kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta kepadamu, karena takut kau berpaling dan memeberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari.

Puisi Karya (Kahlil Gibran)