Mencintai dan dicintai adalah hal ideal yang didambakan setiap orang. Bisa melihat, mendekat bahkan mampu menyentuh orang yang kita sukai adalah hal yang sangat membahagiakan. Orang dapat merasakan cinta, begitupun aku yang saat itu masih ada di bangku SMA. Kisah cinta SMA yang menyenangkan sekaligus menyedihkan yang selalu tak bisa dilupakan. Bermula dari ketertarikan, ingin dekat dan beralih pada rasa suka.

Kisah ini berawal dari seleksi panitia MOS yang diadakan setiap tahunnya, dan aku yang tak begitu populer di sekolah ingin mengecap rasanya jadi siswa yang dikenang dan ingin sekali berpartisipasi dalam kepanitiaan terbuka ini. Akupun bersama temanku akhirnya memberanikan diri ikut seleksi ini. Aku mendapat nomor peserta 12 waktu itu. Seleksi hari pertama dimulai dan ada beberapa sesi, berkelompok membuat inovasi dengan alat-alat sekitar dan PBB.

Hari kedua adalah seleksi studi kasus, seleksi kedua yang mengawaliku bertemu dengan seseorang. Kami dikumpulkan dalam satu ruangan yang berisi sebanyak sekitar 25 peserta. Aku tidak punya firasat apapun saat itu dan sangat santai saat masuk kelas. Aku duduk dibaris paling belakang, karena memang kosongnya di situ. Tiba saatnya seleksi dengan 2 orang penyeleksi, yang bodohnya, selama 2 tahun aku baru mengenalnya. Iitu mungkin karena aku anak IPS dan mereka anak IPA.

Bani dan Aurora itu nama mereka. Mereka mengawali dengan salam dan memberi aturan mengenai studi kasus dengan muka ala datar sangar yang jadi ciri khas penyeleksi. Tiba akhirnya mereka menunjuk satu orang untuk maju. Semua sangat terlihat takut untuk maju, kecuali aku yang sok nyantai tapi grogi juga. Karena saat itu, entah kenapa aku menatap ke depan dan tak sengaja melihat ke arah Bani, dan saat itu juga dia bilang, “Nomor 12, ayoo maju!!”

Dengan muka memerah dan terkejutnya bukan main, akhirnya aku maju. Aurora membacakan studi kasusnya dan aku ditunjuk untuk memecahkan masalahnya dan memberikan solusinya. Bani entah kenapa terus-terusan mencecarku dengan berbagai pertanyaan menjatuhkan dan akhirnya tak bisa kujawab. Benar-benar merasa begitu bodohnya aku saat itu. Sejak kejadian ini aku sangat penasaran dengan Bani, berawal dari rasa penasaran yang berubah jadi ketertarikan dan ingin tahu seperti apa dia.

Advertisement

Aku mencari tahu segala hal tentang Bani dan seperti apa dia. Aku memberanikan diri mencari nomor handphonenya dan memberanikan diri mulai mengirim sms pada Bani. Awalnya aku menyembunyikan identitasku, namun lama-lama Bani tahu siapa aku. Entah kenapa, sekalipun dia sudah tahu aku, justru aku yang merasa malu. Aku sama sekali tidak berani melihat apalagi mengajaknya ngobrol secara langsung.

Setiap hari, aku pura-pura lewat di depan kelasnya, bahkan aku suka melihatnya dari jauh. Aku sangat senang setiap kali aku berganti kelas dan bertemu kelasnya. Aku terlalu malu untuk sekadar menyapa untuk waktu yang sangat lama. Sampai pada akhirnya, aku baru tahu bahwa kami memiliki keyakinan yang berbeda. Selama ini, aku baru tahu bahwa dia beragama Nasrani dan aku beragama Islam. Aku juga baru tahu bahwa dia sudah berpacaran dengan adik kelasku, Nana.

Saat itu aku merasa cintaku tak akan berhasil, tapi teman-temanku justru menguatkanku. Mereka bilang itu tidak masalah, dan berusaha menghiburku. Atas dorongan dari mereka lah, aku tidak berhenti menimbun rasa suka yang sudah berubah jadi cinta padanya. Aku tetap mengirim sms padanya, sekalipun dia tidak pernah tahu perasaanku. Antara marah dan sedih, jika melihat mereka berdua bersama ataupun saat Bani mengantarkan Nana pulang karena rumahnya yang searah denganku.

Sekalipun mereka berpacaran, tapi aku tetap berusaha mendekati Bani. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana respons pacarnya atau sebenarnya dia tahu atau tidak. Bagiku, asal hanya Bani yang tahu perasaanku itu tidak masalah. Asal aku bisa dekat dengannya itu juga tidak masalah. Sampai suatu ketika saat ulang tahunku, tiba-tiba dia lewat di depan kelas dan mengatakan padaku, “Hey, selamat ulang tahun dan dia melihat ke arahku”.

Aku begitu senang saat itu, hari yang benar-benar menggembirakan dan tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Entah saat itu dia tahu atau tidak, tapi aku langsung memeluk temanku dan berteriak pada mereka. Aku senang sekali saat itu. Sejak saat itu, aku berniat untuk membuat kado ulang tahun untuknya. Aku membuat boneka The Simpson dengan kain flanel, karena katanya dia suka Bart The Simpson. Aku memberikan kado itu tentunya tidak secara langsung. Aku memberikannya lewat teman satu kelasnya yang sama-sama ikut ekskul PMR denganku.

Lama-lama aku mulai berpikir untuk mengungkapkan perasaanku, apalagi setelah aku tahu dia akhirnya putus dengan pacarnya. Akhirnya, setelah pengumuman kelulusan, aku mengatakan perasaanku padanya. Aku mengungkapkan perasaanku sejujurnya padanya lewat telepon. Aku berharap, dalam hatiku dia akan bilang iya dan mengajakku berpacaran walaupun aku tahu itu mustahil. Saat itu, aku hanya bilang padanya bahwa aku sudah lama memendam rasa suka dan cinta padanya.

Aku memang tidak meminta dia menjawab perasaanku dengan berpacaran. Aku bahkan tidak bertanya padanya tentang perasaan apa yang dia miliki untukku. Yang aku tahu, saat itu aku hanya ingin dia tahu bagaimana perasaanku. Aku akhirnya menyatakan perasaanku dan dia hanya bilang terima kasih. Saat itu aku lega sekaligus kecewa, aku terlalu bodoh untuk sadar, bahwa cintaku tak mungkin bukan karena kami berbeda tapi karena dia tidak memiliki perasaan yang sama.

Dia hanya menghargai perasaanku selama ini, bukan perasaan berbalas ataupun cinta. Aku bodoh karena berpura-pura tidak menyadari itu. Aku bodoh karena tidak tahu bahwa dia hanya mencintai satu orang saja. Aku bodoh karena berharap bahwa dia tiba-tiba mencintaiku, yang tidak pernah sekalipun mengajaknya berbicara. Saat itu, air mataku menetes setelah menutup telponnya. Aku patah hati sebelum aku merasakan bagaimana saling mencintai satu sama lain.

Sejak saat itu, aku sadar bahwa setiap cinta yang kita punya tidak selalu berakhir dengan balasan yang sama.

Aku sadar bahwa aku harus lebih dewasa lagi untuk mengerti dan menjaga cinta yang aku punya. Aku menjadikan ini sebagai awal dari kisah cintaku yang lebih baik. Aku akan selalu menganggap kisah cinta ini manis sekaligus pahit. Tapi aku sadar akan satu hal, bahwa aku berani mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sekalipun hal ini masih tabu untuk dilakukan seorang wanita. Tapi, bagiku mengungkapkan rasa ini menjadi hal yang melegakan dan memberi kepuasan tersendiri, untuk tahu perasaan orang yang kita cintai sekalipun tidak selalu berakhir dengan baik.