Beberapa kali aku memperhatikanmu. Seperti ada yang berbeda, antara kamu dengan yang lain. Kamu selalu menunjukkan sifatmu yang dingin ketika bertemu denganku. Jangankan menyapa, memberikan senyum saja sepertinya kamu tak mau. Hari terus berjalan, aku tak ada hentinya mencoba menarik perhatianmu. Tapi tak ada bedanya, kamu memang unik, mengagumkan. Kamu selalu bisa menarik perhatianku dengan sifatmu itu. Meski tanpa ekspresi yang berlebihan, tapi kamu sepertinya orang yang menyenangkan. Kamu akan jadi seseorang yang sulit dilupakan.

Semakin hari semakin aku mengenalmu. Beberapa kali sempat mata kita bertemu saat aku memperhatikanmu. Dan saat itu untuk pertama kalinya kamu memberikan senyummu untukku. Untukku? Ya, aku rasa itu untukku, karna saat itu memang tidak ada orang lain disana. Aku selalu melihat perbedaanmu dengan yang lain. Membuat hati ini semakin jatuh padamu.

Setelah mengenalku cukup lama, akhirnya kau jadi milikku. Hal yang selama ini aku inginkan, menjadi bagian dalam cerita hidupmu. Tetap tak berubah, kamu masih jadi kamu yang diam dengan segala ekspresi yang orang lain berikan. Kamu tetap jadi yang mengagumkan. Tak pernah sedikit pun aku mencoba untuk pergi meninggalkanmu. Bahkan di saat orang sebelumku, banyak yang akhirnya berpaling karena ketidaknyamanan yang kau buat. Ketidaknyamanan yang bermuara pada minimnya perhatian yang kau berikan. Ya, karna kau memang dingin, kamu bukanlah orang yang selalu manis dan memaniskanku. Kamu lebih sering jadi orang yang pendiam, tapi memperhatikanku dalam dalam dengan caramu sendiri.

Kamu sering menyebalkan. Sifat kita yang jauh berbeda kerap kali membuatku ingin menyerah untuk mempertahankanmu. Aku yang selalu percaya diri mengekspresikan perasaanku padamu dimanapun, dan kapanpun, dipertemukan denganmu, dengan sifat yang sama sekali tak ada dalam diriku. Pendiam, cuek, dingin, dan selalu tanpa ekspresi, membuatku kadang merasa iri dengan teman-temanku yang selalu mendapat "pengakuan". Tapi aku sangat bersyukur, karna ketika mereka yang selalu mendapat "pengakuan" itu sedang dihadapkan dengan masalah di hubungan mereka, mereka akan selalu mempublikasikannya. Bersyukurnya aku punya kamu, karena kamu tak pernah mengumbar apapun tentang hubungan kita di media sosial. Kamu cukup menyimpan kebahagiaan kita cukup untukmu dan aku saja yang merasakannya. Orang lain tak perlu tau.

Beberapa kali aku berusaha untuk mengimbangimu, dan walaupun nyatanya aku belum sepenuhnya berhasil, tapi aku selalu berusaha untuk tidak terlalu berlebihan dalam mengumbar dan mengekspresikan semua tentang kita.

Advertisement


Pada intinya, aku bersyukur karena Tuhan mempertemukanku denganmu. Dengan seseorang yang sangat sulit aku dapatkan, dan yang pasti tidak akan dengan mudah aku lepaskan. Aku mencintaimu, sungguh. Aku mencintai segala sifat dinginmu. Aku suka caramu mencintaiku. Diam, tapi dalam.