Satu kali dalam hidup, mungkin kamu akan terjatuh begitu keras sampai tak pernah ada rasa sakit yang bisa menyamainya. Kamu mungkin telah memberikan segalanya. dan kamu harus memberikan pengorbanan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Dan aku harus terjebak diantara dilema: dirimu atau perasaanku.

Kisah cinta ini sudah terlalu klise dan membosankan. Tapi aku juga tak bisa berkata apa-apa ketika salah satu daun terjatuh dan mengenai kepalaku. Ternyata aku menaruh hati padamu, laki-laki yang entah mengerti atau hanya sekedar gemar memuji.

"Setiap perhatian yang kamu berikan awalnya tak pernah ku hiraukan. Hingga satu hari aku merasa senyumanmu berbeda dan lebih manis dari biasanya."

Aku tak ingin berlebihan dalam menyikapi perasaanku sendiri. Aku berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa mungkin kamu hanya bersikap seperti biasanya dan sama sekali tak menaruh hati padaku. Sering aku menahan diri agar makin tak terjebak dalam permainan ini.

Tapi kamu tahu kan setiap perasaan yang terpendam pasti tak akan pernah bertahan terlalu lama.

Advertisement

Apresiasi yang kamu berikan untuk setiap perhatianku juga semakin menguatkan perasaan tak nyaman ini. Aku tau cinta bukan ilmu matematika yang bisa kita pelajari hasil akhirnya. Tapi tak perlulah kau bersusah payah, karena perasaan ini akan selamanya sepihak.

Ini lebih rumit dari apa yang aku kira sebelumnya. Apapun yang kamu lakukan nampaknya juga tak berpengaruh pada perasaanku yang semakin lama semakin berkembang.

Kuharap kamu tau dan tak perlu mengubah sikapmu padaku.

Kuharap kamu tau tanpa perlu aku memberi tahumu.

Kuharap kamu juga membalas perasaanku, meskipun aku tau itu hal yang tak mungkin berlaku.

Aku tak akan pernah memaksamu untuk mencintaiku, karena aku tau kamu tak memiliki perasaan yang sama untukku. Aku akan berhati-hati agar hubungan pertemanan ini tetap terjaga apa adanya tanpa harus salah satu dari kita memendam rasa terlalu lama.

Kumohon, Izinkan aku untuk mengaku padamu.

Aku menaruh perasaan padamu, tapi aku takut bahwa perasaan ini terlalu berat untuk ku bagi bersamamu. Aku terlalu takut untuk melihat reaksi mu begitu kamu tau bahwa aku selama ini memperhatikanmu, meskipun dari jauh.

Rasa takut ini terlalu berat untuk ku simpan sendirian maka biarkan aku bercerita lewat semilir angin dan deru hujan ditengah malam.

Aku sungguh tak mampu untuk memberi tahumu tentang apa yang selama ini aku rasakan. Tapi aku juga tak bisa selamanya memendam rasa.

Mungkin satu-satunya cara agar perasaanku lebih ringan adalah dengan berbisik pada angin dan tetes hujan. Aku percaya bahwa alam akan selalu mendengarkan meski dia tak pernah memberikan balasan.

Sama seperti perasaan ini, nampaknya aku tak perlu sebuah balasan. Cukup dengan mengungkapkannya pada Alam, aku tau bahwa cepat atau lambat dia akan sampai padamu.

Waktu akan memberikan apapun yang kita mau dalam kehidupan.

Aku akan menemukan seseorang yang nantinya jelas memiliki perasaan yang sama.

Terimakasih karena telah mendengarkan.

Dariku, yang dari dulu menyimpan rasa.