Hari demi hari telah berlalu begitu cepat seakan tak menghiraukan aku yang masih terjebak mengitari lembah hati yang jurang ini, tak pernah letih untuk selalu mencoba mencari jalan keluar dari lembah ini, dan bimbangnya hati kepada siapa lagi harus meminta pertolongan. Pemikiran sempitpun tak jauh dariku yang selalu menghantui pada setiap langkahku, dan hanya mampu menyembunyikan air mata yang tertahan pada lebamnya kelopak mata ini, lamunanku tak berapa lama bertahan seakan ada yang membisik ditelingaku bahwa masih ada Tuhan yang menemaniku dan keyakinan ini kembali terbangun dengan semangat baru meski aku telah lama tertahan dalam situasi ini.

Semua ini kesalahanku yang tidak mampu untuk segera bangkit dari keterpurukan jiwa, entah mengapa aku merasa berat untuk melepas kepergianmu dari lubuk hati meskipun engkau tak pernah ada hasrat untuk memberikan cintamu. Engkau yang selama ini menyiksa batinku apakah engkau tak pernah mencoba sedikit untuk mencintaiku, apa salahku sehingga enggan untuk menceritakan alasanmu sekalipun mata ini harus berkaca-kaca, untuk apa semua perhatian dan kenyamanan yang diberikan bila hanya berakhir pada sebuah kata itu adalah permainanmu yang selama ini engkau tutupi.

Suatu ketika aku berjalan sendiri mencoba mencari cahaya dimalam hari dengan bintang yang berkelap-kelip membentang jagat langit yang indah seakan mampu mendamaikan hati yang terasing dan aku mencoba menyapa bintang-bintang yang bertahan pada posisi terang namun tak ada sahutan sama sekali hingga kembali menahan air mata yang hampir terjatuh, apakah aku harus berlarut menyesali semua yang pernah terjadi di dalam kehidupan yang sementara ini. Terasa letih untuk mengingat semua itu dan pada akhirnya memilih untuk bersandar pada bangku lebar seorang diri, entah mengapa tak berapa lama seakan ada seorang perempuan yang berdiri dan seakan ragu untuk duduk disampingku.

Tak berapa lama dia memintaku untuk menceritakan semua permasalahan yang sedang aku alami sekarang dengan panjang lebar namun hasrat untuk menangis selalu aku tahan di dalam hati seakan aku malu untuk menangis secara terbuka, merasa berdosa atas semua penantian lama yang tak berujung indah, kecewa dengan semua perhatian yang pernah diberikan orang yang pernah menjadi kekasih lamaku.

Entah mengapa tiba-tiba aku tak mampu untuk menahan air mata yang deras terjatuh membasahi pipi ini dan perempuan tersebut hanya tersenyum dan memberikan selarik tisu dan menenangkan tangisanku. Tidak berapa lama saat perempuan itu memberikan tisunya untukku dia mulai beranjak dari bangku dan berjalan menengah di padang rumput sebelah dan mencoba untuk mengikuti langkahnya namun dia melarangku mengikuti langkahnya hingga aku kehilangan langkah terakhirnya tepat dibawah sinar rembulan ini.