Apa yang salah dengan jarak?

Mungkin rindu-rindu yang mulai kadaluarsa. Seperti obat yang diminum tidak tepat pada waktunya. Rindu-rindu yang ditunda untuk diselesaikan, rindu-rindu yang tidak genap karena pertemuan.

Apa yang salah dengan jarak?

Mungkin waktu yang mulai berlari tanpa kehadiranmu. Waktu yang memecah sepi dengan paksa, mengubah konsepsi romantika menjadi luka. Waktu yang dibalut dalam diam, waktu yang memaksa cinta turut bungkam. Waktu yang mencoba menua tanpa namamu, yang mengusang tanpa sentuhanmu.

Apa yang salah dengan jarak?

Advertisement

Mungkin celah. Celah kecil yang siap diisi oleh siapa saja. Celah yang mungkin melebar bersama kesepian. Celah yang memandui kesendirian.

Apa yang salah dengan jarak?

Setiap satu inci ketika bersamamu pun jarak, bukan? Lalu apa masalahnya? Ini hanya inci yang puluhan ribu dikali. Banyak. Namun tidak akan mengurangi apapun. Tidak akan memisahkan apapun, tidak akan menjauhkan apapun. Karena yang paling nyata dari cinta bukan kehadiran rupa, tapi apa yang masih kamu simpan rapi di dalam raga ini. Hati.

Ini kita, melawan waktu dan jarak yang tidak berhenti menjauhkan diri. Membarukan rindu-rindu yang kemarin sempat kadaluarsa, mengubah pertemuan menjadi doa. Menyelipkan tawa di setiap tangis haru karena harapan yang merapuh.

Mempelajari rasa sabar dari setiap penundaan. Memahami pengertian dari ketidakmungkinan. Merasakan cinta, pada bait-bait salam rindu dalam sujudku dan kamu.

Karena setiap kali lelah menghampiri, membayangkan kehidupanku tanpa kehadiranmu adalah semu.

Melepasmu sama seperti melepas satu bagian dari diriku, menarik satu nafas dari kehidupanku. Terluka, tidak sempurna.