Jangan pernah tanyakan, masih adakah pahlawan di masa modern seperti ini? Jangan pernah tanyakan masihkah ada yang pantas dijuluki pahlawan? Jangan pernah tanyakan! Karena sesungguhnya pahlawan-pahlawan itu begitu dekat dengan kita. Mereka bukanlah lagi yang berjuang dengan tombaknya, pedangnya, ataupun segala macam senjatanya untuk negeri ini. Mereka adalah yang mengambil bagian penting dalam kehidupan kita, bangsa kita, dan agama kita.

Mereka adalah ayah kita. Tanpa perlu banyak definisi, tanpa perlu banyak penjelasan, tanpa perlu banyak kata-kata berhamburan.

Sejatinya sosok ayah selalu ada di balik seluruh kisah dalam hidup kita. Di balik segala yang kita peroleh, ada andil besar ayah di sana, ada keikutsertaan ayah yang membukakan jalan kita.

Mungkin banyak dari kita gagal memahami jasa besar yang telah ayah berikan dalam hidup kita. Mungkin tak sedikit yang menganggap ayah tak memiliki cinta. Juga tak jarang yang beranggapan ayah egois karena terlalu banyak memberi batasan pada kita. Mungkin ayah tak memiliki kata-kata yang indah untuk kita. Ayah lebih memilih diam dan tidak banyak berbicara.

Lantas apakah itu berarti ayah tak punya cinta? Tidak. Sebenarnya, masalahnya hanya ada di kita. Kita yang seharusnya mencari dan mendefinisikan. Betapa banyak ayah sulit mengungkapkan perasaannya. Ia yang harus berdiri di balik jas kebesarannya sebagai seorang ayah. Ia yang selalu diburu waktu untuk tampil tegar. Ia yang harus selalu nampak bijaksana. Baginya banyak bicara merendahkan wibawanya. Ya, yang seringkali kita nilaikan pada tindakan ayah adalah wujud ketidakpeduliannya pada kita. Namun kita tetap harus percaya, ayah punya caranya sendiri dalam mencintai kita.

Advertisement

Semua ayah selalu tak ingin anaknya kecewa. Bisa memberi adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Melihat senyum terpias dari buah hatinya adalah sebuah kebanggaan bagi seorang ayah. Melihat keberhasilan anak-anaknya adalah sebuah prestasi yang tak tertandingi bagi ayah. Sungguh, betapapun kita tak mengerti kedalaman cintanya pada kita.

Mungkin kita lupa bagaimana ekspresi bahagia kita saat kita mendapatkan sebuah hadiah, saat terkabulnya permintaan, ketika kita membuka bingkisan. Ada selaksa kebahagiaan tersendiri yang tersemburat di dada ayah. Ayah akan selalu mengenang keceriaan kita.

Ada saat-saat dimana ayah merasakan pedih yang mendalam. Ada perih yang sangat ketika ayah gagal memenuhi permintaan anaknya. Bahkan tak jarang ayah merasa tak layak disebut seorang ayah karena tak mampu membahagiakan anaknya. Bagi ayah, menyanggupi permintaan anak menunjukkan keberartian dirinya. Ayah merasa berarti saat ia mampu terus melihat senyum yang terpatri di wajah anaknya, di antara peluh perjuangannya.

Diam adalah karakter yang sering dilekatkan pada diri para ayah. Tentu tidak semua ayah demikian adanya, tapi dalam asumsi umum kita, Ayah lebih banyak diam dan tidak banyak bicara. Itulah yang kadang, membuat anak merasa jauh dari ayahnya. Namun, diam bukan berarti tak punya cinta. Bukan pula sebuah ekspresi tak peduli. Sebab kita harus ingat kembali, ayah memiliki cara sendiri dalam mencintai kita.

Di balik diamnya ada cinta. Ya, cinta yang menyimpan banyak sekali makna.

Dan tugas kitalah yang mencari makna-makna itu, agar kita bisa menemukan bahwa diam itu benar-benar cinta. Bahkan cinta yang luar biasa tulus dan sangat dalam.

(Sulthan Hadi)

Karena cinta ayah tak perlu diceritakan dalam kata-kata yang terlalu maneuver dan bertukik tajam. Karena cinta ayah adalah sebuah tanggung jawab yang besar baginya. Karena cinta ayah adalah tindakan yang harus selalu mampu ia lakukan untuk kita. Karena cinta ayah adalah bukti-bukti nyata dalam kehidupan. Karena cinta ayah adalah kehidupan yang menghidupi.

Di antara kita mungkin ada yang memiliki ayah dengan pekerjaan yang sangat berat. Namun tanpa banyak cakap-cakap, ayah menjalani semua dengan sukacita. Pekerjaan berat bukanlah hal yang mampu menepis keteguhannya. Dia terus maju demi memperjuangkan kehidupan anak-anaknya. Dia lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi anaknya. Cintanya yang begitu besar kepada kita, mengalahkan segala rintangan yang menghadang. Iya, baginya anak adalah sebuah alasan dan motivasi terbesar dalam perjuangan hidupnya.

Mungkin juga tak sedikit yang lupa akan luasnya kedermaan hati ayah. Ayah selalu menyanggupi semua permintaan anaknya. Sebab keluasan cinta seorang ayah, ia memberikan seluruh hidupnya untuk kita. Ayah merelakan dirinya hanya demi mengantarkan anak-anaknya semakin dekat dengan cita-cita dan seluruh impian mereka. Ayah hanya ingin menyaksikan anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Ayah ingin anaknya mampu memberi manfaat untuk sesamanya. Pun saat anaknya melakukan kesalahan atau mengalami sebuah kegagalan, ayah akan menjadi orang pertama yang merasa gagal dalam mendidik anaknya.

Ayah adalah seorang pahlawan untuk negeri ini. Ayah adalah pencetak anak-anak bangsa. Ayah memang tak banyak berkata-kata. Ayah hanya memberikan ruang untuk kita belajar tegar. Tegak berani menghadapi pahitnya kehidupan melalui segala hal yang mampu ia lakukan. Ayah mempunyai cara tersendiri dalam mengapresiasi cintanya pada kita. Di ruang hati yang sangat luas, ada perasaan seorang ayah yang sangat lapang, yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh seorang ayah. Karena ayah adalah ayah.

Adakah lelaki lembut yang menyamaimu Ayah? Apakah suara keceriaan pantas diganti dengan isak hanya karena benda? Engkau yang mengajari sepasang kakiku untuk beranjak pulang, belajar kembali pada sisi ketenangan. Kini, aku lapang. Menggenapkan hati agar tak lagi meneteskan darah dan isak.