Kami ingin menceritakan perjalanan kami ke Osaka pada tanggal 25-26 Maret 2016 kemarin. Perjalanan ke Osaka ini sudah kami rencanakan bertahun-tahun lalu dalam penanggalan Jepang. Untuk lebih tahu tentang penanggalan jepang silahkan cari di google sendiri untuk menambah ilmu kalian, karena sebenarnya kami juga tidak tahu tentang penanggalan tersebut. Maafkan kami jika "guyonan" seperti ini "garing" atau tidak lucu di mata kalian.

Kembali ke topik, setelah direncanakan akhirnya kami berangkat ke Osaka dari Hamamatsu menggunakan kereta JR (Japan Railways). Tiket kereta yang kami belipun terbilang murah karena kami memanfaatkan "Jyuu Hachi Kippu" atau 18 tiket.

Tiket ini bukan berjumlah 18 tetapi hanya dapat dipergunakan bagi penumpang yang sudah cukup umur untuk melihat hal-hal dewasa alias tiket untuk BB18++. Tiket ini hanya ada di saat tertentu, mungkin ini untuk meramaikan bunga sakura yang sedang bermekaran di Jepang. Harga tiket ini hanya 11.500 untuk 5 orang, jadi lebih rame lebih asik ya lebih murah.

Perjalanan dimulai pada pagi hari pukul 06.00 WJ (Waktu Jepang). Lama perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam, karena kami juga harus berpindah-pindah kereta. Pada saat berpindah kereta pun kami juga harus berlarian mengejar kereta, karena anda tahu sendiri jadwal kereta di Jepang sangat ketat seperti pakaian wanita asli Jepang juga. Ouw, saya hampir lupa tujuan kami ke Osaka adalah menikmati bunga Sakura dengan situasi, kondisi, dan toleransi yang berbeda. Pantauan dan Jangkauanpun sudah kami perhitungkan.

Sesampainya di Osaka, kami membeli sebuah tiket sakti mandraguna bernama Osaka Pass. Tiket ini membuat kami kebal dari segala biaya masuk ke tempat wisata di Osaka dan segala tiket transportasi selain kereta JR. Setelah mendapatkan tiket tersebut kami berpisah untuk sementara waktu, manusia beragama muslim menuju masjid untuk melakukan kegiatan jumatan dan bersholat ria dan kami manusia non-muslim menuju hotel yang telah kami "booking" sebelumnya. Harga Tiket sakti ini 3000 per orang.

Advertisement

Akhirnya kami menyelesaikan urusan kami masing-masing dan menuju destinasi wisata pertama kami yaitu Osaka Castle. Beberapa dari kami sampai terlebih dahulu. Ternyata bersamaan dengan adanya konser sebuah Boy Band. Jika ada konser Boy Band maka pasti terdapat bunga sakura bertebaran di mana-mana. Para lelaki beringas sungguh menikmati sakura tersebut. Waktu berjalan cukup cepat sehingga tidak sadar kami dipertemukan kembali setelah perpisahan selama 4 jam.

Okay, rencana awal kami ingin merasakan hanami di taman Osaka Castle, tapi sayang sekali bunga sakura asli belum bermekaran. Hanya ada sakura yang ingin menonton boy band. Sedikit kecewa, karena kuli-kuli dapur sudah menyiapkan makanan untuk acara ini. Daripada makanan yang telah disiapkan dengan kantuk terbuang sia-sia, ya tetap kami makan walaupun tanpa ditemani bunga sakura asli.

Perut sudah kenyang dan membuncit, kami melanjutkan perjalanan ke "Doutonburi". Doutonburi adalah salah satu daerah dimana kita dapat naik kapal menikmati suasana kota Osaka. Yak, untuk kegiatan itu sangat pas dan banyak diminati oleh pasangan muda-mudi yang mencari keromantisan. Bagi para penikmat shopping vista di tempat ini tidak kalah menarik, banyak pertokoan yang menjual aneka macam barang.

Kami sendiripun tidak tahu barang seperti apa, karena kami hanya berfoto ria di depan papan reklame "glico" yang konon kabarnya kalau ke Osaka harus foto di tempat tersebut. Sebetulnya kami ingin naik kapal, tetapi karena kapal sudah di-booking oleh wisatawan lokal atau mancanegara dan mungkin lebih berduit, kami tidak kebagian kursi romantis tersebut.

Gagalnya dua rencana kami tidak menyurutkan semangat kami untuk jalan-jalan lagi. Kami beranjak ke Umeda Skybuilding. Seperti namanya di tempat ini kami ke atas sebuah bangunan untuk melihat keindahan kota Osaka di saat matahari sudah terbenam.

Di tempat tinggi, suasana kota yang indah, dan juga dingin-dingin empuk, ya suasana romantis kembali kami rasakan. Kami para pria-pria single dan wanita-wanita single hanya bisa berfoto, namun kesempatan ini mungkin dinikmati oleh pasangan muda di gerombolan kami berinitial kan Ms.I dan Mr.A.

Malam sudah semakin larut, kaki kami sudah meronta-ronta ingin diistirahatkan, kembalilah kami ke hotel. Beberapa dari kami ada yang menginap di sebuah permandian air panas modern. Saya ikut ke permandian tersebut. Untuk anda sekalian yang belum tahu, permandian air panas di Jepang adalah berbugil bersama. Ya sebuah pengalaman yang menarik bagi kami orang Indonesia berbugil bersama. Penginapan hotel pada umumnya bisa anda cari di beberapa situs reservasi hotel, tapi jika ingin berbugil bersama, satu malam hanya menghabiskan 2300 .

Keesokan harinya kami mendengar bahwa di hotel, kalau mau mandi harus membayar dulu. Betapa pelitnya saudara-saudari. Destinasi pertama di hari kedua kami menuju ke Osaka Tower. Malam sebelumnya kami menikmati Osaka saat malam, kali ini menikmati Osaka saat matahari sudah menampakkan sinarnya. Suasana tidak seromantis seperti di Umeda Skybuilding, tetapi tujuan utama tercapai. Apalagi kalau tidak "menjepret-jepret" Osaka.

Destinasi berikutnya adalah USJ. USJ disini bukan Umah Sakit Jiwa kawan-kawan, ini adalah Universal Studio Japan. Bagi yang belum tahu Universal Studio, mungkin kalian bukan anak gaul zaman sekarang. Bagi yang sudah tahu, di sini kami tidak menjadi pemain dalam salah satu film mereka, karena bayaran kami terbilang cukup mahal dan kami juga tidak punya skill dalam acting.

Yup, USJ adalah amusement park alias dufannya Jepang. Lebih bagus dari dufan lah pastinya, tetapi sayang sekali karena kami mahasiswa, yang artinya uang kami hanya cukup untuk sesuap nasi dan sebotol Sake. Kami hanya bisa melakukan photo shot di depan globe Universal Studio. Dengan berfoto saja ya di globe tersebut ya sudah membuktikan bahwa kami "pernah" ke Universal Studio.

Karena saya sudah menulis cukup banyak dan mungkin cukup membosankan, destinasi terakhir, kembali ke Doutonburi. Beberapa dari teman kami ingin bertemu dengan teman lamanya. Kemudian makan bersama dan kami akhirnya kembali ke Hamamatsu. Sekian tulisan dari saya, semoga terhibur dengan tulisan ini, yang tidak terhibur silahkan perbanyak membaca buku lagi. Mungkin ada kata-kata yang kurang berkenan, yang tidak tersinggung terima kasih, yang tersinggung emang kami maksudkan begitu.