Ketika senja mulai berarak mendekati semesta. Lalu lalang kendaraan jalanan mulai meramaikan kota. Sosok laki-laki renta mengais rezeki di dekat gerbang sebuah universitas yang ada di tengah hiruk pikuk kota yang kental akan pendidikan yang maju. Berbekal lentera kuno yang ia pasang dipojok gerobak dagangannya.

Tahu petis. Benar, jajanan tradisional ini yang menjadi titik tumpu seorang yang sudah mulai ditelan usia. Satu kantong plastik besar penuh dengan tahu yang siap untuk disantap para penikmatnya. Keramaian jalanan di malam hari ia jadikan peluang yang menguntungkan untuk berjualan di dekat kampus. Ditambah pula banyak mahasiswa yang membeli tahu petis untuk camilan sendiri atau bareng dengan teman di malam hari.

Ia adalah sosok yang gigih serta pantang menyerah. Walau rintik-rintik hujan menghujam bumi, ia tetap memperdagangkan tahu petisnya. Di usia yang sudah saatnya ia beristirahat, namun tetap bekerja untuk menutupi kebutuhan ekonominya. Waw! Sungguh seorang bapak yang luar biasa.

“Selalu berjuang dan pantang menyerah untuk memperoleh apa yang dicita-citakan”.

Dibalik harmoni gigihnya semangat seorang penjual tahu petis, terdapat kekuatan spiritual yang menemaninya. Apakah itu? Yah itu adalah selalu senantiasa bersyukur apapun yang didapat. Berlapang dada dalam menyikapi keadaan baik atau buruk di depan mata. Seorang penjual petis yang rela hingga larut malam berdagang untuk melanjutkan hidupnya. Melawan rasa kantuk dan capek dengan harapan nyata yang pasti akan terwujud kelak.

Advertisement

“Kobarkan semangat nyata dalam wujud raga tuk perbaiki masa depan bangsa menjadi luar biasa”.

Generasi muda bangsa sudah saatnya untuk peka terhadap keadaan sosial. Salah satunya yaitu bercermin dari sikap sahaja seorang penjual petis yang tak mengenal waktu untuk berusaha menawarkan dagangannya hingga pagi menyapa. Semangat Berenovasi! Mulai dari diri sendiri untuk masa depan yang istimewa di negeri tercinta.