Hati ini memang telah patah. Tapi siapa yang akan menyusun lagi patahannya kalau bukan aku sendiri? Mulai saat ini sudah tidak ada lagi cerita tentang KITA, tapi tentang AKU

Cerita ini berawal ketika aku mulai mengagumi senyum indah yang tercipta dari bibir mungilmu. Sejak saat itu aku menyebutmu sebagai "Mr. Sweet Smile". Waktupun terus berjalan, hingga aku menyadari bahwa ternyata aku tidak hanya mengagumi senyum indahmu, tapi aku juga mengagumi kebaikan hatimu. Layaknya pelangi, dirimu memberikan berbagai warna yang mampu menyempurnakan hidup ini.

Cerita ini terus kutulis untuk setiap waktu yang kita habiskan bersama. Rasa nyaman, bahagia, tertawa lepas selalu kucurahkan dalam tulisan-tulisan yang telah entah berapa banyaknya. Yah, semua kekaguman tentang dirimu hanya bisa kusampaikan lewat itu. Aku lebih memilih diam. Aku lebih memilih menyimpan semua gejolak dalam hati ini sendirian. Tidak untuk kamu atau mereka. Meskipun terkadang, aku ingin sekali mengungkapkan kepadamu, sebarapa sering aku merindukanmu, seberapa sering aku cemburu ketika kamu pergi jalan dengan sesorang, seberapa sering aku selalu berfikir positif ketika tak ada kabar sama sekali darimu, dan yang paling ingin aku ungkapkan adalah seberapa sering aku inginkan kamu ada disini.

Awalnya aku selalu berfikir jika cerita ini akan berakhir bahagia. Mengingat dirimu memberikan tanggapan positif kepada diriku. Tanggapan itu membuatku semakin berharap. Sepertinya, kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Tapi aku masih saja diam, aku masih saja mengelak setiap kali ada yang berusaha menguak informasi tentang perasaanku kepadamu.

Tapi, semua pemikiranku tentang akhir cerita ini salah. Sejak adanya seseorang baru yang kamu kenal, sikapmu kepadaku mulai berubah. Aku mulai merasa ada hal aneh yang terjadi pada dirimu. Aku berfikir apakah ada yang salah denganku? Apa aku telah melakukan kesalahan? Ataukah dia yang baru kamu temui itu memanglah sangat istimewa? Tak mudah memang untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan itu. Dan akupun mulai penasaran. Diam – diam aku cari tahu di dirimu.

Advertisement

Hingga akhirnya, aku tau jika dia yang baru kamu temui itu memanglah sangat istimewa di matamu. Kau begitu bahagia ketika menceritakan tentang dia kepadaku. Setiap kali kamu cerita tentang dia, aku menemukan sinar kebahagiaan di matamu. Mungkinkah kamu telah benar – benar jatuh cinta kepadanya? Kamu selalu meminta saran kepadaku tentang hubunganmu dengannya. Dan aku selalu memberikan saran terbaik kepadamu.

Waktupun bergulir, kamu semakin dekat dengannya. Aku yang awalnya biasa saja melihat kamu bersamanya mulai memberontak. Hati ini mulai merasakan sakit ketika tanpa sengaja aku bertemu denganmu ketika kamu sedang bercengkrama dengan dia. Masih tergambar jelas ketika saat itu kalian berdua sangatlah bahagia. Dan ketika kamu melihatku, tanpa sadar aku memberikan senyumku kepadamu. Ikhlaskah senyum itu? Mungkin tidak. Karena aku selalu berusaha menutupi kesedihanku di depanmu.

Semakin hari semakin tak kuasa ku menahan kesedihan ini. Dan kuputuskan untuk berkata jujur kepadamu. Ku ceritakan semua yang ku rasakan kepadamu. Berharap kamu bisa memberikan saran kepadaku. Dan benar, aku mendapatkan saran dari dirimu untuk berhenti memperjuangkanmu. Karena ternyata kamu pernah kecewa denganku. Kekecewaan itu yang membuatmu mulai menjauhiku. Tak ada hujan yang turun saat kau berkata itu, tapi di dalam hatiku hujan turun dengan begitu derasnya. Kekecewaan yang kamu rasakan, ku rasakan dua kali lebih kecewanya. Rasa sakit yang kamu rasakan, ku rasakan dua kali lebih sakitnya.Terlambatkah diri ini hingga baru sekarang menyadarinya? Dan apakah keputusan untuk berhenti berjuang memanglah yang terbaik?

Sejak ungkapan kejujuran itu, ku mulai perhatikan sikapmu. Dan tampaknya kamu benar – benar semakin menjauhiku. Dengan perasaan yang tak karuan, ku tekadkan niat untuk berhenti sampai disini. Aku memilih untuk menyerah. Aku memilih untuk membuang semua perasaanku kepadamu. Tak mudah memang, tapi ini yang memang harus ku lakukan.

Siapa yang bisa membuat diriku bahagia kalau bukan diriku sendiri? Bukankah kita harus lebih menyayangi diri sendiri terlebih dulu sebelum menyayangi orang lain? Bukankah dulu kamu pernah bilang kalau "bahagia itu datangnya dari hati, jangan cuma di luarnya aja"? Dan memilih untuk mundur, setidaknya bisa membuatku sedikit mengurangi rasa sakit karena harapanku sendiri atas dirimu

Aku sadar, jika setiap pertemuan memang akan selalu ada perpisahan. Begitupun juga dengan kita. Dulu, kita bertemu sebagai teman baik. Dan sekarang biarlah kita juga berpisah sebagai teman baik. Biarlah kini aku berusaha untuk mengahapus cerita tentang KAMU dari hidupku. Dan biarlah mulai sekarang, dia yang akan menulis tentang dirimu. Aku berharap ceritanya akan jauh lebih indah jika ditulis olehnya. Aku akan selalu menunggu cerita – cerita itu dan aku akan jadi orang paling setia yang akan membacanya.

Terimakasih untuk waktunya selama ini. Terimakasih telah memberikan kebahagiaan meski hanya sesaat. Semoga kamu bahagia dengannya. Semoga kamu bisa membalas semua perasaannya kepadamu. Tak perlu kamu khawatirkan aku disini, aku baik – baik saja. Aku akan berdamai dengan keadaan ini.

Aku akan pergi. Satu hal yang aku pinta, tetap ciptakan senyum indah itu dari bibir manismu agar aku bisa memastikan bahwa kamu selalu bahagia. Jika suatu saat kamu lelah dan tak tau kemana harus pulang, tengoklah disini. Aku masih ada untukmu.