Asrama, ah siapa yang tidak mengetahui betapa sulitnya hidup mengenyam beberapa liku kehidupan yang pelik. Tak sulit dalam artian buruk, hanya bagaimana kita dapat menjalani dengan hati yang berdamai. Kesempatan berada dalam sebuah gedung dengan pagar pembatas segala lingkungan luar membuat kita sadar, bahwa hidup tidak panjang. Tembok tinggi yang membatasi segala pertemuan dan rasa rindu tak membuat kita pantang untuk mengungkapkan isi hati. Hey ! kau yang disana, ya disana! Taukah kau berapa lama rindu menyesakkan dadaku di dalam pagar tembok yang membatasi kita ? aku telah menitipkan kesempatanku berasa dengan guratan takdir. Berada dalam lingkup yang memerintahkan aku untuk tetap kuat, tangguh, super. Bukankah itu rahasia seharusnya wanita?

Tapi sekali lagi, kita tahu dimanapun tempat indah itu maka selalu memiliki kesempatan. Ya kesempatan untuk menumpahkan segala sesuatunya. Menuangkan segalanya melalui berbagai cara. Kita tahu bahwa didalam sini kita pernah merasa lelah, lalu ingin berlari sekuat kaki melangkah, entah kemana tujuan yang kita kehendaki, biarkan terus melangkah hingga berhenti disatu titik dan takkan berharap kembali. Masuknya dalam lingkungan asrama membuat kita hal tersebut terjebak dalam satu lingkup yang sulit diterjmahkan. Hanya dengan masuk dan rasakan sendiri maka kita akan tahu.

Itulah cinta. Tumbuh meski dengan keterbatasan ruang, tumbuh meski dengan hanya dalam guratan takdir sama. Asrama. Saksi bisu mekarnya cinta. Ah manisnya hidup di dalam tembok tinggi yang membatasi antara kita. Kamar yang saling berderu ketika kita berusaha menghubungi satu dengan yang lain. Bahkan dengan jarak yang hanya dibatasi oleh ilalang. Kita bagai bunga mawar ketika mulai saling bersitatap, aku pernah mencoba menangkasnya, karena aku sadar dalam satu tembok denganmu semakin membuat kita terpisah. Karena mereka tumbuh dengan brutal. Cepat dan lebat. Dan aku tidak mampu menangkasnya yang mungkin hanya akan menyakiti bagian tubuhku yang lain. Akarnya begitu kokoh dan kuat seperti kita saat saling bersitatap memberi sinyal.

Hanya sebuah lagu dalam barisan yang mampu membatasi tatapan itu, sebuah gerakan maju jalan atau saat baris mampu mengurangi rasa itu. Aku harus menikam setiap detik saat perasaan itu tumbuh sebelum berkembang. Kepala yang memikirkan tentang cinta yang tak sampai atau tentang kisah yang belum usai meletup – letup seperti kembang api di tahun baru. Kamar asrama menjadi saksi berdernya hati untuk sekedar berbicara melalui pagar jendela. Dengan tirai yang menyiratkan bahwa kuatnya rindu.

Hanya ruang makan yang memiliki ketidakbatasan waktu untuk bertemu, bercengkrama dan saling menitip susu. Sakit? Ah lupakan sakitnya cinta yang tersembunyi. Menghabiskan waktu denganmu dalam ruang makan cukup. Cukup untuk menjawab bahwa kesempatan itu masih ada.

Advertisement

Pukul empat pagi.

Aku menyukai pagi. Bagaimana tidak? Tubuh yang mempetanyakan rindu sedang terbujur diatas dipan kayu, berdecit. Meminta jawab, terbangun dengan langkah pertemuan barisan.

Ah pagi. Selalu menjadi waktu ditunggu. Dan sabtu selalu menjadi hari yang dinanti. Bagaimana tidak? Aku baru tahu bahwa kenangan seminggu denganmu dengan bersitatap dalam luasnya hamparan ruang makan bisa dibawa pulang dan disimpan dalam bingkai.

Ada kenangan yang disimpan, dirawat dan disiram setiap libur.

Meski katamu, kamu menitipkan rindu pada sidik – sidik yang tertinggal di jendela kamar asramaku. Tapi kamu bohong. Nyatanya, aku tidak hanya melihat rindumu disana, tapi juga di pada dinding – dindingnya, pada sela jendela, di lemari, disela – sela meja. Bahkan aku menemukan rindumu di cermin, serta bayangan wajahmu ketika aku berwudhu. Padahal kamu hanya berjarak bermeter dari posisiku, padahal kamu hanya meninggalkan satu malam untuk berehat di luar asrama. Sesederhana itu.

Jika kau tahu kelak, ketahuilah bahwa kau harus menerima resiko besar bahwa aku hanya akan menjadi perempuan pagar bangsa dengan cinta yang besar, bukan dengan otak paling cerdas.