Buatku naik gunung bukan hal yang baru. Aku pernah naik gunung, walaupun hanya sebatas gunung Halimun. Maka dari itu,track gunung Halimun menjadi parameter kemampuanku mendaki. Temanku yang kebetulan leader di pendakian mengatakan track gunung Halimun dengan Gunung Prau di Dieng sama levelnya. Baiklah, percaya dengan perkataan temenku, aku memutuskan ikut pendakian gunung Prau saat malam demi mengejar SUNRISE. Awalnya, aku memilih tidur saja di homestay dibanding mendaki gunung tengah malam dengan cuaca yang rada mendung. Tapi, sahabatku yang pertama kali naik gunung sangat teramat ingin merasakan naik gunung dan lihat golden sunrise DIENG yang dibilang sangat keren oleh banyak pendaki.

Benar saja, baru memulai perjalanan buat mendaki, napasku sudah terengah-engah. Bahkan pos 1 pendakian aja belum sampai tapi napas ku makin terengah-engah. Satu pasang peserta pendakian yang suami-istri memilih untuk balik lagi ke homestay dan ternyata mereka memilih ke cikunir dengan track pendakian yang lebih pendek. “Tau gitu gue ikut, mereka”, pikir aku. Pendakian tetap berjalan, alhasil leader perjalanan, yang juga temanku mendelegasikan bapak penunjuk jalan (entahlah namanya siapa) buat nemenin aku dan sahabat ku dibelakang. Mungkin takut aku pulang, tidak ketahuan kali.

Di tengah perjalanan, aku sempat hampir menyerah, hingga sahabatku bilang “kita balik aja ke homestay, jika loe gak kuat”. Ah, kasian benar sahabatku ini jika harus balik lagi padahal dia ingin lihat golden sunrise. Aku pun meyakinkan diriku dan dia bahwa aku kuat, bisa sampai puncak. Sampai di suatu titik, aku benar tidak kuat buat jalan lagi dan alhasil mengeluarkan jackpot alias muntah. Sahabatku dan bapak penunjuk jalan ini menyuruhku istirahat dulu, tapi ada satu lagi laki-laki yang selama perjalanan hingga di titik sekarang berada di belakangku.

Saat istirahat ini, aku melihat keindahan luar biasa DIENG diwaktu malam di atas ketinggian pendakian gunung PRAU. Disaat aku menikmati keindahan ini, sahabatku lagi-lagi menanyakan kondisiku dan mungkin harus rela jika harus turun gunung, termasuk bapak penunjuk jalan yang sudah diperintahkan leader perjalanan buat kembalikan sajalah peserta satu ini ke homestay jika merepotkan (gak sejahat itu juga kali dia :D). Tapi, laki-laki ini tidak komentar apa-apa, tetap berada bersama kita (jangan-jangan dia setan yang menyerupai peserta pendakian lagi…). Sampai aku bertanya ke bapak penjaga ini, pos 1 berada dimana? Dan jawabannya seperti memberi angin segar, “sudah dekat, lihat patokan kayu di atas sana kan? (sambil menunjuk arah kayu), itu pos satu,mbak.” Baiklah, tidak terlalu jauh pikirku. Aku katakan ke sahabatku, “gue tunggu di Pos 1 aja kalo benar gak kuat, dan loe terusin pendakian loe”. Bayanganku di Pos 1 pendakian pasti ada orang yang buat tenda. Enteng banget pemikiran aku ini, tapi tidak seenteng track yang harus dilewati selanjutnya. Buat informasi saja, track gunung Prau baru di buka kembali karena kabut dan musim hujan. Saat aku ke sana pun sedang musim hujan. Terbayanglah bentuk jalanannya seperti apa.

Fokusku tidak lagi ke pos 1 tapi pada jalanan setapak, menanjak, becek, licin, dengan kanan kiri jurang buat menuju pos 1. Selama pendakian ini, perbekalan aku udah dipegang sama sahabatku dan jalan sudah diterangin bapak penjaga dan laki-laki itu. Antara gemes karena jalan aku yang lama atau kasian sama bapak penunjuk jalan dan sahabatku yang ribet dengan aku, laki-laki ini akhirnya me-take over tugas menjagaku diperjalanan. Sepanjang jalan menanjak, dia mengulurkan tangannya untuk jadi peganganku dan jika aku ragu buat milih pijakan, dia yang meyakinkan kalo itu aman. Baiklah, ini hanya masalah kepercayaan mungkin.

Advertisement

Aku ingat betul, sepanjang perjalanan yang menuntut dia mengulurkan tangannya, aku hanya menggenggam jari telunjuknya. Entah kenapa alasannya, aku hanya memegang jari telunjuknya. Hingga keluar pernyataan dia yang buat aku tidak nyaman sendiri, yaitu “keempat jari gue yang lain nggak cantengan kali”. Akhirnya, reflek aku genggam semua jemarinya. Kejadian ini sampai puncak Prau dan aku lupa telah melewati pos 1. Final destination is aku bisa menginjakkan kaki di puncak Prau bersama sahabatku.

Dan, puncak gunung Prau memang menawarkan pesona tersendiri. #ini plesirku untuk pertama kalinya, aku melihat merasakan suasana perkemahan di puncak gunung. Semua orang yang ada disini tampak punya satu tujuan, mereka menatap ke arah timur, menunggu si Golden Sunrise muncul dari peraduannya. Sayangnya, cuaca tidak mendukung karena sang mentari tertutup awan. Meskipun begitu, Dieng dan Gunung Prau punya cerita tersendiri buatku.

Beberapa waktu lalu, aku bertemu lagi dengan laki-laki tersebut. Dan sekarang aku tau kenapa dia selalu berada didekatku saat mendaki di Prau. Menurutnya, “kasian bapaknya kalo harus bolak-balik mengantar loe ke homestay”. What? Ternyata, aku aja yang baper saat itu. Wkwkwkwk..Setidaknya, terimakasih karena telah mengatar hingga puncak Negeri Di Atas Awan.

Tips buat cewek yang baru naik gunung “siapkan fisik agar kuat saat mendaki atau cukup siapkan hati agar kuat menerima perhatian dari seorang laki-laki

#IniPlesirku#DIENG#GunungPrau#Baper#Pendakipemula#ceweknaikgunung#opentrip#besttrip#bestfriend