Tembagapura, sebuah kota kecil, unik, dan cantik yang terletak di Kabupaten Mimika di Provinsi Papua, dibangun untuk mendukung operasi PT. Freeport Indonesia pada akhir tahun 1960an. Kota ini merupakan tempat tinggal bagi lebih dari 10 ribu orang, yang terdiri dari karyawan Freeport dan kontraktor serta keluarga mereka. Hanya sedikit orang yang memiliki kesempatan untuk tinggal atau menetap di sana.

Tembagapura berarti tembaga dan pura. Tembaga berarti tembaga dan pura berarti candi atau kota, jika digabungkan berarti Tembagapura memiliki arti kota tembaga. Kota ini dikelilingi oleh pegunungan, dengan tinggi lebih dari 6.200 kaki. Dengan ketinggian ini, Kota Tembagapura selalu tertutup oleh awan hampir setiap hari. Tembagapura yang mayoritas areanya digunakan sebagai area pertambangan memiliki view atau pemandangan yang tak kalah menariknya dengan tempat wisata lain, hutan hujan paling indah yang belum tersentuh tangan manusia ada di kota ini. Di Tembagapura, kita akan melihat banyak bangunan yang tersusun dengan rapi dan menikmati cuaca dingin yang berkisar antara 10°C – 20°C.

Di kota ini, anda akan melihat miniatur Indonesia, bahkan miniatur dunia. Orang Aceh, Batak, Jawa, Manado, dan orang Papua berbaur dengan harmonis di kota. Tidak hanya orang Indonesia saja, bahkan banyak orang asing yang berasal dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Filipina, Selandia Baru, Cile, dan banyak lagi. Total lebih dari 100 warga negara asing tinggal di sana bekerja di perusahaan Freeport, Redpath, Trakindo, Metso, dan perusahaan kontraktor lainnya. Penduduk asli Tembagapura terdiri dari tujuh suku atau etnis. Freeport mempekerjakan beberapa dari mereka dan mengembangkan tiga desa dari ke tujuh suku atau etnis tersebut untuk hidup lebih baik. Agama di Tembagapura didominasi oleh orang Kristen dan Muslim. Saya tidak tahu persis berapa persentase masing-masing, tapi yang pastinya mereka semua hidup rukun dan harmonis di kota tersebut tanpa mengesampingkan toleransi antar agama. Komunitas yang paling terkenal di kota ini adalah AGUTE (Anak Gunung Nemangkawi).

Setelah dikelola oleh PT. Freeport Indonesia, Kota Tembagapura tumbuh menjadi kota yang modern, maju dan asri. PT. Freeport menetapkan peraturan yang ketat bagi seluruh warga yang tinggal di kota ini. Setiap penduduk harus memiliki kartu identitas pribadi yang dikeluarkan oleh manajemen PT. Freeport Indonesia. Semua data warga di input dan dikontrol dalam database perusahaan. Dengan cara ini, tak seorang pun yang tidak berasal dari Tembagapura bisa tinggal dan memasuki kota dengan sembarangan. Pengunjung yang ingin berkunjung dan masuk ke Tembagapura harus memiliki ID atau ID Card pengunjung khusus yang hanya dapat digunakan dalam jangka waktu tertentu. ID ini sangat penting bagi setiap warga yang menetap di Tembagapura. ID ini bisa digunakan untuk masuk ke Supermarket (Shopping/Hero), Mess Hall, dan semua tempat yang memerlukan pemeriksaan di area kerja PT. Freeport Indonesia.

Ada beberapa jenis perumahan, seperti barak (untuk karyawan yang belum menikah), rumah sharing, dan rumah keluarga. Tembagapura memiliki beberapa fasilitas yang dapat digunakan oleh warganya secara cuma-cuma, seperti rumah sakit, supermarket, tempat olah raga, transportasi bus, pusat kebugaran, kabel TV, radio, masjid, gereja, dan lainnya. Fasilitas tersebut diatur oleh PT. Pangansari Utama, PT. Kuala Pelabuhan Indonesia, dan beberapa unit usaha yang masih berada di bawah wewenang PT. Freeport Indonesia. Tembagapura nampaknya menjadi salah satu kota teraman di Indonesia dengan tingkat kejahatan paling rendah. Terletak di daerah terpencil di tengah pegunungan Jayawijaya, hanya dua cara untuk mencapai Timika, ibu kota Kabupaten Mimika. Caranya adalah jalan darat (menggunakan bus dan kendaraan ringan) dan jalan udara (dengan helikopter). Dibutuhkan 3-4 jam untuk sampai ke Timika, dan hanya butuh 15 menit dengan helikopter.

Advertisement

Setiap orang yang pernah tinggal, berkunjung, dan bekerja di sana pasti akan mencintai kota ini, saya berani bertaruh dan menjaminnya. Karena saya juga sangat mencintai kota ini, meski pada akhirnya saya harus meninggalkannya, tapi kenangan selama 18 tahun akan selalu membekas dalam diri saya. Tembagapura adalah salah satu kota terindah yang pernah saya singgahi. (Charles Sitorus)