Aku masih mencoba mengerti kenapa dengan mudahnya kau melakukan hal yang kau tau itu sungguh menyakitiku berulang kali. Mungkin kau memang ingin pergi, tapi mengapa kau masih saja mengikatku ? yang terjadi kini adalah aku terseret dalam langkahmu dan bukannya mendampingimu seperti seharusnya. Mengertilah itu sangat menyakitkan untukku.

Perasaan seperti ini bukan yang pertama kalinya aku rasakan, dan satu-satunya orang yang memberikannya padaku adalah orang yang paling aku cintai. Kau orangnya. Sakit, itu yang aku rasa. Entah apa yang kau fikirkan ketika berulang melakukannya, berulang mendua, lalu berulang meminta maaf dan bersikap seperti kau menyesali semuanya, meyakinkan aku bahwa hal semacam ini tidak akan terjadi lagi. Kemudian yang terjadi adalah aku percaya semua yang kau katakan, bersedia memulai dari awal dan percaya lagi, tapi lagi-lagi tersakiti. Ah mungkin memang aku yang terlalu naif, menganggap kau pasti berubah demi aku.

Kini aku termenung sendiri, berdialog dengan batinku tentang perasaan macam apa yang telah kau berikan padaku hingga aku mampu bertahan tetap denganmu walau sakit yang aku rasakan. Perasaan macam apa yang mampu membuatku begitu terluka ketika tau bahwa kau tak seteguh itu memegang komitmen setia padaku. Perasaan macam apa yang mampu membuatku tak rela berpisah walau perih dalam perjalanan mengiringimu. Perasaan macam apa yang aku rasakan begitu kuat padamu. Perasaan macam apa ini ?

Ternyata yang begitu menyakitiku bukan tentang penghianatanmu selama ini, tapi karena rasa -yang entah macam apa ini tetap begitu kuat padamu. Tentang perasaan yang masih sama kuatnya meski berulang terbentur penghianatan. Mungkin hanya lelah atau logika yang akan menghentikanku nanti, atau entahlah.

Sekarang semua terserah kau, lakukan semua semaumu. Aku hanya akan berjalan mengiringi meski nyatanya aku bagai tak bernilai dimata semesta.