Jatuh cinta mungkin jadi salah satu titik terindah yang pernah dirasakan oleh setiap makhluk di muka bumi, begitu juga denganku serta cerita kita. Diperbolehkan untuk jadi bagian dari cerita hidupmu adalah salah satu hal yang pernah aku syukuri meski semuanya tak berlangsung lama.

Kau yang pernah kupercaya akan jadi pelindung yang baik ternyata bisa melongos pergi dengan dia wanita baru yang kini sudah bersanding denganmu. Kau adalah lelaki pertama yang benar-benar pernah aku sayangi setulus hati, bersamamu aku menemukan banyak hal yang tak pernah ketemui dari lelaki sebelumnya.

Pembawaanmu yang terlihat kalem selalu mampu menyihirku untuk beranggapan bahwa kau adalah benar-benar lelaki yang baik karena setidaknya semua kekhawatiranku terjawab tiap kali melihat semua sikap dan perlakuan baik yang kau lakukan padaku. Berkali-kali aku berterima kasih kepada Tuhan untuk lelaki yang kini sedang jadi pelindungku ini, karena waktu itu hati dan jiwaku sepertinya sudah mantap untuk selalu mengamini jika,

"Kau akan menjadi teman hidup yang baik untukku"

Sampai kita dipertemukan dengan keputusanmu yang menjadi titik awal dari semua kekhawatiran yang selama ini aku takutkan, "Aku mungkin akan tidak ada kabar untuk 7 bulan", kalimat itu kau ucapkan dengan wajah yang penuh harap dan mata yang seakan ingin berkata jika kau juga tak ingin semua ini terjadi. Aku belajar bersikap dewasa untuk menyikapi keputusanmu, "semoga kita mampu menjaga hati kita masing-masing'' kataku balik meyakinkanmu.

Advertisement

Hidupku berjalan seperti biasa, semuanya kulakoni sendiri meski tak ada kalimat penyemat darimu lagi. Hari yang biasanya aku habiskan denganmu terasa begitu cepat berganti dengan waktu yang berjalan dengan enggan, aku berusaha menyibukkan diri dan membuang jauh-jauh semua pikiran negatif yang slalu menghantuiku tentang keberadaan hatimu kini.

Benar saja sudah hampir 4 bulan kita dipecundangi jarak tapi kau tak juga memberi kabar, sempat aku berpikir jika kau sudah lupa atau mungkin sudah menemukan wanita baru yang jauh lebih baik dariku dan beribu kemungkinan buruk lainnya yang akan membuatku kehilanganmu. Tapi lagi-lagi hidup memberiku kejutan lelaki yang sedang dirindukan itu tiba-tiba sudah ada di ruang tamu dengan tampilan siap pergi seperti di awal-awal hubungan kita.

Apa ini kejutan, sayang? Ya, tentu saja.

Tak lama dari pertanyaanku itu, entah kenapa hatiku mendadak resah seperti ada sesuatu yang sedang menghantui pikiran tapi aku sendiri sulit mendeteksi apa itu sebenarnya yang menjadi penyebab aku resah. Aku ingin mencecarmu dengan pertanyaan-pertanyaan milikku seperti biasanya, tapi belum lagi aku memulainya kali ini kau memintaku untuik mendengarkanmu lebih dulu, "Wajahmu tampak serius?" kataku dengan nada bertanya dan benar saja ternyata kedatanganmu ini benar-benar jadi kejutan. Ya ini kejutan sayang, kejutan dengan isi "pemaparan pengkhianatan".

Dengan tenang kau bercerita tentang wanita baru yang sudah menggantikan posisiku di hatimu, bodohnya aku masih mau mendengarkan semua cerita yang sedang kau jelaskan. Alih-alih untuk menghargaimu, lelaki yang kemarin sangat aku sayangi itu aku diam tak bisa menuntut kejelasan di mana sebenarnya letak salahku.

Kau tau aku takkan bisa marah dan mungkin itu juga yang mendorongmu dengan beraninya datang dan menjelaskan semua itu di hadapaku, apapun itu alasanmu saat itu yang kutau hanyalah

kau telah berkhianat

Setelah itu setiap hari langit terasa mendung, hanya ada awan hitam di atas sana bahkan mentari juga sepertinya pergi bersamamu. Yang ada hanya ribuan rintik hujan dengan puluhan memori indah bersamamu yang selalu berhasil menyeretku masuk ke semua cerita indah yang pernah kita lalui.

Kumpulan air di ujung pelupuk mataku diam-diam pecah, aku berteriak bertanya kenapa Tuhan membiarkan aku tersakiti, bukankah kemarin dia yang membiarkanku jatuh cinta? Berbulan-bulan aku merenung untuk semua sakit itu, bahkan sering mengutuki diri sendiri dan menyalahkan keadaan.

Hingga suatu ketika ada orang baru yang menawarkan hatinya sebagai palipur lara yang kemarin masih jelas terasa, dia hadir tanpa kuminta dan bersedia membereskan semua isi hati yang kemarin porak-poranda. Membenahi semuanya dengan isi baru yang jauh lebih baik dan lagi-lagi aku berterimakasih kepada Tuhan untuk orang-orang baik yang selalu hadir di ujung sakit hati yang melanda.

Berbeda denganmu yang selalu tenang untuk segala situasi dia yang kini mencoba bersamaku lebih terbuka dan sedikit banyak biacara, pembawaannya menyeimbangiku yang notabennya sama seperti tidak terlalu suka banyak bicara. Tingkahnya yang lucu kadang jadi obat penenang dari semua keluh kesah yang terasa.

Dia selalu punya cara untuk membuatku kembali tersenyum, darinya aku menemukan sesuatu yang sempat hilang dari dalam diriku, kepercayaan dan tanggung jawab untuk diri sendiri . Aku melihat ketulusan dari dalam dirinya, sebagaimana aku melihatmu dulu di awal hubungan kita, semua yang dia lakukan tak pernah menuntut balas.

Darinya juga aku belajar untuk lebih menghargai hidupku sendiri, tidak lelap dalam bayang-bayang masa lalu yang bisa saja jadi musuh terberatku. Namun di balik semua hal baik yang dia ajarkan dan berikan padaku, dia tak pernah memaksaku untuk menerimanya masuk ke dalam hatiku, dia sangat memahami jika aku masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukaku dengan sendiri.

Hadirnya kemarin membuatku bangun dari galau akut yang sempat menguras fokus pikiran dan nelangsa hati yang menyiksa tapi dia tau jika aku bisa mencari semua yang hilang dari hatiku kemarin sendiri. Seakan mengerti untuk belum terbukanya hatiku dia pamit untuk pergi, menjajaki harinya kembali dan mencari orang yang mungkin tepat untuknya, bersamaan dengan itu entah kenapa lagi-lagi hatiku sakit. Sakit karena ditinggal orang yang sudah mulai aku sayangi.

''Tidak, hatimu belum untuk jadi milikmu", katanya lalu berlalu.

Mungkin benar katanya jika hatiku belum menjadi milikku seutuhnya, karena jujur dari dalam hati yang paling dalam sepotong hati milikku masih menjadi milikmu. Ini adalah titik pengakuan paling jujur yang pernah aku ucapkan, bukan ingin terlihat sebagai pengemis hati bagi lelaki yang jelas-jelas sudah melukai hati tapi setidaknya untuk mengobati hatiku aku ingin memulainya dengan jujur pada diri sendiri.

Luka-luka dari cinta yang sudah lalu mungkin pernah membuatku jatuh dan tak berdaya, tapi aku tau masih banyak cinta yang masih dunia tawarkan untuk bisa kunikmati. Saat ini aku sedang membenahi diriku, memperbaiki sikapku dan lebih bertanggung jawab untuk semua hal-hal yang aku putuskan jadi jalan hidupku.

Memang aku masih menutup hati untuk orang-orang baru yang ingin masuk ke dalam bilik hati milikku, bukan karena aku masih berharap padamu. Aku hanya tak ingin jatuh kepada hati yang salah untuk kesekian kalinya. Untuk itu aku memperbaiki diri sembari menunggu dia yang mungkin juga sedang memperbaiki diri untukku. Karena aku sadar untuk dapat bersanding dengan dia yang kuingini aku harus memulainya dari diriku sendiri,

"Karena teman hidup yang kelak kan kutemui adalah cerminan dari diriku sendiri"