Untukmu lelaki yang saat ini mewarnai hari-hariku, terima kasih atas kehadiranmu yang mampu melukiskan pelangi dengan keindahan warnanya. Akupun bahagia saat ini bisa menjadi satu bagian dalam perjalanan panjangmu. Menyadari bukan proses yang mudah hubungan yang saat ini sedang kita jalani, yah sebuah proses untuk saling mengenal, mengisi dan penyesuaian diri. Kepada lelaki yang saat ini berjuang bersamaku, terima kasih telah memilihku untuk mengarungi samudra kehidupan bersamamu.

Sebuah perjalanan yang tidak mudah dilalui, sebab belakangan aku tau ada satu bayangan yang seolah mengintai, awalnya terlihat samar-samar hingga lambat laut menjadi semakin jelas terlihat. Gurat senyumnya mengisyaratkan bahwa ada rindu yang terpendam, sapaan matanya yang tertuju padamu seolah memberikan sinyal bahwa ada sebentuk hati yang tertinggal.

Aku sadari ruang itu tidak lain adalah hatimu, hati yang kau tawarkan padaku untuk ku isi. Namun yang terjadi setelah aku singgah disana, kulihat masih ada bayangan yang bertahta disana. Bayangan yang lama-kelamaan terlihat nyata dan seringkali mengintaiku dari kejauhan. Untukmu lelaki yang masih menggenggam masa lalu, sampai kapankah kau akan terus menggengamnya secara erat hingga tak ada sedikitpun kesempatan untukku meraihnya.

Untukmu lelaki yang masih menggenggam masa lalu, sudahkah benar-benar kau kosongkan hatimu sebelum akhirnya kau memintaku untuk mengisinya. Untukmu lelaki yang masih menggenggam masa lalu, aku tau ragamu telah berhasil melepasnya pergi tapi hatimu yang penuh masa lalu seolah masih kau jaga keutuhannya, bahkan kau kunci erat agar tidak satupun dari masa lalumu yang terbuang begitu saja.

Untukmu lelaki yang masih menggenggam masa lalu, dengan berat hati terpaksa aku harus berhenti sampai disini, bukan karena aku kalah, bukan berarti aku menyerah. Aku hanya sedang memberikanmu kesempatan untuk mengosongkan hatimu, agar kelak jika hatimu telah kosong dan mulai sepi. Aku bisa hadir sebagai seseorang yang utuh dan benar-benar kau rindukan.