Disana aku pernah memelukmu, menahanmu agar tak pergi. Menabrak rasi-rasi bintang yang menertawai kenangan yang ku benci. Selanjutnya, matamu, adalah keindahan yang paling ku benci setelah langit-langit. Sebab, disana, kau pernah menaruh banyak tanda tanya, yang hanya bisa ku jawab tentu dengan menerka-nerka. Seperti juga mendung waktu itu; yang tak pernah, tak jadi hujan.

Kamu dan Hujan adalah dua hal berbeda yang aku cintai dengan segenap hatiku. Hujan membawamu kepadaku, meyakinkan hatiku untuk kujatuhkan padamu. Namun diakhir cerita, hujan juga yang menemanimu ketika punggungmu berlalu meninggalkanku.

Pernah aku bertanya pada senja yang tak lagi seindah dulu (saat bersamamu), apakah aku harus membenci hujan setelah menemani kamu yang dengan jelas meninggalkan luka dihatiku?

Aku masih sangat mengingat masa itu, masa dimana aku mencintai hujan yang selalu membawa serta kamu. Aku merindukanmu. Merindukan saat hujan, aku masih bisa mendengar suaramu, aku masih bisa bermimpi tentang kita. Aku merindukanmu. Merindukan saat hujan, kamu masih bersamaku, kamu masih denganku, kamu masih ada untukku. Aku merindukanmu. Merindukan saat hujan turun, karena setiap hujan turun, aku jatuh cinta padamu, jatuh lagi, lagi dan lagi.

Pernah disuatu senja yang sangat indah, aku berharap kau disampingku. Memelukku dengan secangkir kopi yang ada di masing-masing genggaman kita, sama-sama menikmati senja dan menantikan hujan turun. Atau disuatu senja dengan ditemani hujan gerimis, aku membuatkanmu secangkir kopi dan menemanimu bernyanyi dengan memainkan gitar kesayanganmu. Pernah aku berharap seperti itu.

Advertisement

Tadinya, aku ingin mengarang cerita yang menyenangkan tentang kamu dan hujan. Tapi, aku harus bagaimana? Adakah yang merasa senang ketika kita jatuh cinta dan dibuat percaya oleh seseorang, kemudian baru saja kita berkedip, seseorang itu memutuskan untuk pergi meninggalkan kita?

Masih ku cintai hujan, dalam sedih atau bahagiaku, baik atau buruk diriku. Serupa aku yang masih mencintaimu dengan segenap hatiku. Jika hujan yang membawamu kepadaku dan hujan yang menemanimu meninggalkanku, bolehkah aku untuk sekedar berharap hujan akan menuntunmu kembali padaku?

Dimanapun kamu berada, dengan siapa dan bagaimana keadaanmu sekarang, mimpi apa yang tengah kamu raih, aku memang tidak tahu. Namun yakinlah, percaya padaku, saat hujan turun aku merindukanmu. Itu cara semesta menyampaikan pedihnya rasa rinduku padamu, yang begitu hebat membuatku jatuh cinta namun juga begitu jahat memberikan perasaan semu yang kukira nyata.

Kala hujan, aku akan mengingatmu, aku akan menulis tentangmu, aku akan merindukanmu. Kala hujan juga, aku menemukan diriku begitu payah mengharapkan pelukan nyata darimu.

Saat masih denganmu, aku selalu ingin hujan turun menemani kebersamaan kita. Aku ingin hujan tahu bahwa aku menyayangimu dan berharap kau juga. Tapi sekarang, saat hujan turun, aku malah khawatir. Karena sudah dipastikan, aku hampir gila merindukanmu dan berharap kau merasakan hal yang sama.

Bangunkan aku dari dunia mimpiku, aku lelah banyak berharap. Aku hanya ingin memelukmu dan merasakan kau nyata, mengapa sesakit ini yang kurasa?

Kau ingat tidak? Di suatu malam menjelang pagi, di bagian selatan Jakarta sedang turun hujan, kamu memberi tahuku bahwa banyak orang yang jatuh cinta dan berharap pada Pelangi, memang benar pelangi datang saat hujan reda. Tapi menurutmu, mereka lupa bahwa pelangi hadir hanya beberapa saat, sebentar. Lalu aku kemudian tersadar, bahwa saat itu kau sedang membicarakan dirimu sendiri.

Kau seperti pelangi bagiku.

Indah, membuatku jatuh cinta dan membuatku banyak berharap.

Datang disaat yang tepat, namun pergi dengan begitu cepat.

Kau pelangiku. Jadi setiap hujan reda, kutunggu kau ada.

Tak apa meski hanya sesaat. Pokoknya, asal kau ada.

Tidak seperti sekarang.