Sudah cukup lama aku ingin menuliskan ini untukmu. Selalu tersenyum rasanya jika mengingat hubungan kita, dekat meski jarak memisah, ah landasan yang kita bangun juga bukan soal cinta, tapi nyatanya itu yang membuat kita tetap bersama. Aku masih ingat saat pertama malu malu namun kini nggak tahu malu. Aku tertawa melihat kepolosanmu, tapi juga bingung dengan sifat narsismu

Aku nggak begitu tau bagaimana keseharian Mamak, aku hanya tau masalah yg Mamak ceritakan, membaca lalu berkomentar. Jadi untuk beberapa perubahan yang terjadi pada mamak aku nggak begitu paham. Cuma satu hal, mamak akhir-akhir ini keseringan selfie dengan wajah yang terpampang jelas.

Hey, ternyata banyak hal yang kita lewati bersama, setidaknya dalam beberapa history chat yang masih tersimpang di ponselku, meski porsinya lebih banyak kamu yang bercerita dan aku yang menerima. Aku sangat berterimakasih saat beberapa saranku yang entahlah terkadang terkesan sok bijak kau terima dengan lapang terbuka.

Aku :

Ya terserah jika masih mau meributkan masa lalu. Kupikir memang masa lalu adalah di mana kita melihat diri kita sekarang. Tapi tak selalu begitu. Karena hati itu rapuh, dan doa yang mempengaruhi kekokohannya.

Yang membolak balik hati ada di atas. Dan yang meneguhkan hati juga ada di atas. Kenapa tidak meminta agar hatinya dan hatimu tetap teguh dan kokoh.

Malah justru memusingkan masa lalu yang bukan bagian dari kehendakmu?

Entah berapa kisah yang kau berikan, memberiku pandangan pandangan baru, aku sempat berkata aku yang dulu tetap sama, tapi nyatanya benar katamu aku berubah, banyak hal yang aku pertimbangkan dari membaca kisah kisahmu. Betapa lucunya hubungan ini, kamu selalu kembali padaku, dengan luka dan dan air mata hingga aku mirip plester yang siap kapan saja.

Advertisement

Akan ada masa kamu sadar dirimu hanyalah tempat pelarian tapi kamu merasa nyaman.

Mengetuk pintu ruang tamuku tanpa kenal waktu, hanya untuk menangis tersedu, atau terkadang membagikan senyum kecil kebahagiaanmu dengan pasangan-pasanganmu. Entah apa yang kau pikirkan saat itu yang jelas aku menerimamu kapanpun kamu butuh ulur tanganku.

Ah tidak, aku tidak memberikan apapun padamu selain bualan yang mencoba menenangkan batinmu yang terguncang.

Kamu:

Ah kamu benar. Aku bisa tidur sekarang dan berdoa nanti malam.

Kau sering merisaukan banyak hal, aku memperhatikan detil terlewat dari jangkaumu. Termasuk kadang tentang putri kecilmu, aku sering khawatir jika ia terabaikan olehmu. Sebab urusan percintaanmu dengan pasangan-pasanganmu itu, sebab yang kutahu dari tuturmu, ada beberapa lelaki yang sempat menjalin hubungan denganmu, meski pada akhirnya sering kandas dengan tragis lalu kamu menangis di "bahuku".

Kamu :

Baiklah, memang bukan karena aku. itu murni pilihannya. Tapi, apa aku jenis perempuan yang bisa menerima masa lalu?

Tidak hanya tentangmu saja, beberapa kali aku juga sempat membagikan kisah picisanku dan keabsurdan kehidupanku sebagai pria yang tak utuh. Sekali lagi aku merasa beruntung kamu tidak pernah mempermasalahkannya, aku senang kamu dengan segala kemaklumanmu yang luas.

Kamu :

Kita akan pakai istilah lain, bukan aib, tapi pelajaran hidup.

Selain belajar dan mengajar soal cinta cintaan dan berbagai hal picisannya, aku darimu banyak mendapatkan saran meskipun banyak pula yang hanya terlewat begitu saja. Ah iya kita juga sering nyinyir bersama ketika melihat hal janggal di dunia maya, entah dari sisi agama atau nalar yang kita punya. Kita bahkan sering menertawakan lelaki-lelaki maya dengan seribu satu jurus modus mereka.

Apa kamu masih sering iseng seperti dulu, nyap-nyap sana sini mengganggu lapak orang? Kebiasaan yang satu itu sering kita lakukan bersama saat kamu masih bersama si dia yang meninggalkanmu begitu saja. Lucunya apapun postingan yang dibawa pasti meleceng tanpa arah.

Saking banyaknya hal aku tak tahu lagi harus menuliskan apa. Katamu pernikahanmu sudah dekat. Bahkan kekasihmu yang sekarang akan melamarmu. Aku turut bahagia, semoga disegerakan.

Mungkin tulisan ini akan jadi kenangan untuk kita bahwa hubungan ini pernah ada. Hubungan antara lelaki dan wanita yang tak selalu tentang cinta. Tak ada yang tahu dari kita apakah nantinya kita bisa tetap bersama ataukah berakhir sampai di sini saja.

Yang jelas aku bahagia pernah ada di kehidupanmu, dan aku bersyukur dipertemukan Tuhan denganmu meski kita tak pernah benar benar bertatap muka.

Aku tak sedang membuatmu jatuh hati padaku, tanpa itu pun, Mamak bakal nyari-nyari aku.