COPY-PASTE DI KEHIDUPAN MAHASISWA

MAHASISWA, merupakan sekumpulan orang-orang atau kaum yang berkesempatan untuk mengeyam pendidikan di tingkat Perguruan Tinggi di Perguruan Tinggi yang terdiri atas Sekolah Tinggi, Akademi, dan yang paling umum adalah Universitas. Saat pertama mereka berada dalam dunia per-kampus-an, mahasiswa akan merasakan suasana belajar mengajar yang sangat berbeda dibanding saat mereka berada di tingkat Sekolah Menengah. Begitu pula dengan sistem dan aturan-aturan yang berlaku di kampus, pada saat pertama masuk mereka pasti akan merasa kaget.

Untuk memenuhi standar intelektualitas, mahasiswa akan diberi tugas oleh dosennya baik berupa makalah, esai, resume, sampai dengan presentasi. Hal itulah yang membedakan proses belajar mengajar di tingkat Perguruan Tinggi dengan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah. Para mahasiswa dituntut untuk bisa mengembangkan serta menyikapi suatu masalah dengan kritis, bukan untuk menghafal setiap pelajaran seperti pada saat SMP ataupun SMA.

Namun di zaman yang sudah modern seperti saat ini, dimana teknologi sudah bisa di konsumsi seperti halnya internet, PC (Personal Computer) sampai handphone oleh setiap orang termasuk mahasiswa, itu bukanlah jaminan bahwa setiap mahasiswa dapat mengembangkan intelektualitasnya. Banyak dari mahasiswa dalam pengerjaan tugasnya tidak lepas dari cara copy-paste atau sering disebut dengan copast. Biasanya mahasiswa lebih memilih mengunduh materi-materi dari internet lalu meng-copast-nya ke Microsoft Word untuk menyelesaikan tugasnya. Lalu dengan merubah sistematika yang telah disesuaikan dengan pesan dosennya, tugaspun selesai. Bukan hanya dari internet, terkadang tugas-tugas individu ataupun pekerjaan rumah yang diberikan oleh dosen dicopast dari teman sekelasnya.

Sekarang, copast sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu dalam lingkungan pendidikan, mungkin sudah menjadi hal yang sangat biasa dilakukan oleh mahasiswa. Menyalin sesuatu milik orang lain lalu dianggap menjadi milik sendiri adalah hal yang biasa. Ironisnya, tugas yang telah mereka selesaikan dengan cara copast dari internet seringkali tidak disertakan sumbernya, atau darimana tulisan itu diunduh.

Advertisement

Copast kini telah menjadi budaya di kalangan para mahasiswa. Dengan kecanggihan teknologi dan adanya internet ini memudahkan mahasiswa untuk mengerjakan tugasnya. Di internet telah di sediakan berbagai sumber dengan menggunakan mesin pencari ‘google’ untuk memenuhi tugas mereka. Dengan kepraktisan dan kemudahannya banyak pelajar yang menyalahgunakan hal tersebut dengan meng-copast tulisan dari berbagai sumber.

Biasanya hal itu mereka lakukan karena mereka merasa telah diberi tugas yang seabgreg dari dosen, dengan begitu mereka mencari jalan pintas dalam menyelesaikan tugasnya yaitu dengan cara copast dari berbagai sumber. Lagi pula, banyak mahasiswa yang berpikiran bahwa tugas yang mereka kerjakan tidak akan dibaca serius oleh dosennya. “Yang pentingkan ngumpulin tugas”, ujar sebagian dari mahasiswa.

Selain banyaknya tugas sebagai dalih para mahasiswa meng-copast suatu materi, biasanya malas juga dijadikan alasan utama. Rasa malas pada saat membuat tugas seperti menulis karya ilmiah maupun makalah timbul karena mereka menganggap bahwa menulis adalah hal yang susah. Satu-satunya cara menyelesaikannya yaitu dengan cara copast. Dengan cara seperti itu, mengerjakan tugas 5 menitpun selesai. Tak ayal, copast merupakan solusi termudah dalam menyelesaikan tanggung jawab yang diberikan para dosen kepada mereka.

Namun, jika cara ini terus menerus dilakukan oleh para mahasiswa, maka bukanlah timbul orang-orang intelektual yang dapat membangun negeri ini menuju kemajuan, tapi akan timbul orang-orang tanpa pemikiran. Karena dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar. Dalam pergerakan, mahasiswa diharapkan mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa. Namun, apabila semua orang menggunakan cara copast dalam menyelesaikan masalahnya, akan jadi apa negara ini? Bukankah ciri dari negara yang maju adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai budaya masyarakatnya?

Copast bukannya tidak diperbolehkan, asal mau menyertakan sumbernya dan juga tidak menyalin semuanya itu tidak apa-apa. Juga dengan disertai pemikiran sendiri, itu tidak akan dipermasalahkan. Dan juga menulis memanglah membutuhkan suatu kreatifitas yang tinggi, dan juga membutuhkan pengetahuan yang luas dari penulisnya. Sebelum menulis haruslah terlebih dahulu kita senang membaca, baik tulisan yang tercetak seperti buku, koran maupun tulisan elektronik yang ada di internet. Jika membacapun kita tidak suka, menulis adalah hal yang mustahil untuk dilakukan. Sebagai kaum yang nantinya akan ikut serta dalam pembangunan negara menuju kemajuan, hendaknya mulai saat ini budaya copy-paste sudah ditinggalkan. Oleh karena itu mulailah menyukai membaca, dan dalam pengerjaan tugas harus mulai serius tanpa cara menyalin milik orang.