Sudah 15 tahun Ara tinggal di desa. Ara lahir dari keluarga yang perekonomiannya sangat terbatas. Ara selalu bersyukur dengan keadaan seperti ini, karena Ara masih bisa bersekolah. Ya walaupun Ara sering dihina oleh orang-orang sekitar. Kini bangunan rumah Ara yang terbuat dari gubuk reot diisukan akan digusur oleh si pemilik lahan yang kaya raya. Padahal tanah ini sudah atas nama Ibu Ara. Tetapi apa daya Ara? Orang seperti Ara susah untuk menuntut sebuah keadilan. Lalu, Ara harus tinggal dimana dong nanti? Sedangkan uang untuk biaya hidup saja kini semakin berat. Misalnya Ara ke kota, lalu Ara tinggal di kolong jembatan. Pasti akan diusir kembali.

Suatu hari, kakak Ara sedang sakit keras dan orang-orang sekitar yang katanya memiliki uang berlimpah tak ada satupun yang memiliki hati nurani. Saat Ibu Ara meminta bantuan orang-orang sekitar, Ibu Ara malah dihina-hina. Sebenarnya apa yang salah dari keluarga Ara ? Karena miskin? Kalau karena faktor itu, mana ada sih yang berharap terlahir sebagai keluarga miskin?! Tak ada ! ya begitupun dengan Ara. Tetapi Ara tak menyesal dilahirkan dalam keluarga seperti ini..

Tetapi, kenapa sih, orang-orang seperti Ara selalu terbedakan? Ara kan juga manusia sama seperti kalian. Bedanya Ara sering makan singkong dan kalian makannya keju. Lalu, apa iya anak singkong seperti Ara selalu terabaikan? Ah entahlah. Ara saat ini sedang berjuang untuk membukakan mata kalian, bahwa anak singkong bisa menjadi seseorang yang menyokong taraf hidup keluarga. Ara sayang keluarga Ara, suatu hari nanti saat Ara sudah menjadi orang sukses. Ara tak akan melalaikan orang-orang seperti Ara saat ini.

Ara percaya kuasa Tuhan tiada kiranya dan Ara percaya roda kehidupan pasti berputar.

Ara ada pesan nih untuk kalian yang sering makan keju tetapi malah menghina yang tak mampu :

Advertisement

Kita, Ara dan kamu itu sama. Sama-sama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Bedanya tentang cobaan yang diberikan-Nya. Ara dicoba dengan hidup miskin dan kamu dicoba dengan hidup kaya. Tetapi ketahuilah roda kehidupan pastilah berputar. Segala harta, jabatan, kemewahan di dunia ini hanya titipan suatu hari akan diambil kembali sama yang punya, yaitu Tuhan Yang Maha Kaya.

Ara bingung kenapa hanya karena harta kamu jadi buta? Padahal suatu saat akhir kita di tanah, bersama cacing-cacing yang menjijikan. Orang kaya dan miskin sama-sama rumah terakhirnya di bawah gundukan tanah. Lalu, apa yang kamu sombongkan sebenarnya saat ini. Kamu pikir Ara langsung down karena kamu selalu menghina Ara? Kamu salah besar. Karena bagi Ara ini adalah cambukan agar Ara semakin giat belajarnya. Ara takkan menyerah !!

Sudah itu saja yang bisa Ara utarakan. Semoga tidak ada lagi orang-orang yang seperti Ara mencari sebuah keadilan. Ara tidak mengeluh di sini. Ara sedang bersyukur, karena sudah menjadi kuat dan sabar karena pelajaran kehidupan ini. Maafkan jika ada kata-kata Ara yang menyinggung, Ara di sini hanya bersuara untuk sebuah keadilan, kemanusiaan dan hanya ingin melihat Bangsa ini makmur dengan berisikan manusia-manusia bernurani yang tidak membedakan derajat dengan tingkatan materi. Terima kasih.