“ Tulisan ini mungkin akan berisi curhatan receh dariku, wanita yang selalu mencintaimu sepenuh hati meski tak pernah kau hiraukan. Entah akan berakhir denganmu atau tidak, tulisan ini akan menjadi saksi bahwa aku pernah jatuh hati padamu. Jika nanti tak kau temukan lagi cerita tentang dirimu pada setiap tulisanku, itu karena aku mulai berfikir keras mencari cara untuk melupakanmu."

Hei, apa kabar? seperti apa kau sekarang? Akankah sama dengan engkau yang dulu ku kenal? adakah kau rindu pada kenangan-kenangan kita? pernahkah teringat pada percakapan kita ketika hujan turun? apa arti hujan bagimu ? serupa kenangan? atau harapan akan masa depan? adakah kau ingat kebersamaan kita? Bagiku hujan selalu membawa kenangan tentang kita, sepeda, hujan, jalan raya dan senyum mu, hal-hal yang sulit untuk ku lupakan.

Aku rindu padamu, pada semua kenangan kita di masa lalu, tak peduli kau rindu padaku atau tidak, semua kenangan tentang kita seakan terbingkai sangat rapi dalam memoriku. Aku mengingat semua detail tentang mu, tentang apa yang kau suka, tentang bagaimana caramu menyikapi perbedaan, tentang bagaimana caramu menghormati wanita. Aku selalu kagum dengan caramu bercerita tentang ibumu,

Siang ini ketika hujan datang menyapa, seketika rindu itu datang menyita memoriku pada sepanjang jalan menuju sekolah, pada setiap sudut jalan yang kita lewati, pada setiap tempat-tempat yang kita bicarakan, aku rindu senyummu, rindu tawamu, rindu diskusi kita.

Apakah kau temukan teman lain sebaik aku sekarang? apakah dia menjadi pendengar setiamu seperti aku dulu ? apakah dia kritis seperti aku ketika kau ajak diskusi? apakah dia benar-benar membuatmu lupa padak ? hebat sekali dia yang bisa membuatmu lupa pada kenangan kita, hmm.. kata “kita” mungkin hanya aku yang merasa “kita” sedang kamu tidak.

Advertisement

Aku sadar, mungkin aku yang salah selalu menganggap kau milikku, bukan temanku, maafkan aku, aku memang keliru menganggap semua kebaikan dan perhatianmu adalah hal special. Aku sadar kau mulai menjauh ketika kau tau aku menganggapmu lebih dari teman. Tapi, tatapan itu, semua perhatian itu, serta hati dan pikiran kita yang saling mengerti satu sama lain, seperti itu kah teman?

“Sebagian wanita menganggap punya teman pria itu menyenangkan, tapi resiko terbesarnya adalah jatuh cinta”

Ya, aku jatuh cinta padamu, teman terbaikku. Maaf, hanya kata maaf yang dapat ku ucapkan, maaf karna aku mencintaimu hingga kini, ah, aku benci perasaan itu terbawa hingga kita sama-sama dewasa.

Percakapan tengah malam kita beberapa bulan lalu menyadarkan ku bahwa kita bukan lagi remaja belasan tahun, aku sadar kau mungkin saja berubah seiring berjalannya waktu, aku sadar waktu mungkin mengubah cara pandangmu tentang wanita, aku sadar kau mungkin saja canggung ketika aku bercerita tentang kehidupan pribadiku denganmu.

Andai waktu dapat ku putar, aku tak ingin tumbuh dewasa dan membiarkan waktu memisahkan kita, aku tak ingin waktu membuat cara pandangmu berubah, aku benci menjadi dewasa jika itu menjadi penghalang bagiku untuk berbagi semua suka duka ku denganmu.

“Waktu dan keadaan mungkin saja mengubah seseorang termasuk cara pandang terhadap suatu hal, begitu juga denganku, pria yang akan menjadi imam mu suatu saat nanti adalah prioritasmu, suka atau tidak prioritasmu adalah dia, dan aku, aku terus terang saja belum siap untuk menikah dari segi manapun”.

Seandainya kau tau, satu-satunya alasanku menolak lamaran dari pria lain adalah karena aku masih disini menunggu mu, masih berharap ada sedikit celah di hatimu yang masih bisa tuk ku singgahi. Bukankah kau tau, rasa itu ada, aku telah menyatakannya padamu

Pernahkah kau bertanya pada Nya, berapa kali namamu ku sebut dalam tiap do’a ku? terkadang aku benci harus berharap pada manusia. Aku benci mengapa waktu memisahkan kita, aku benci harus berkali-kali menabung rasa kecewa ketika aku sadar bahwa aku mencintaimu.

Aku sadar tak mungkin melawan takdir, sebab Allah tau apa yang terbaik bagiku, dan rencana Nya tentu lebih baik dari rencana ku, aku tidak harus bersama-sama denganmu, aku yakin suatu saat nanti, aku bisa mencintai orang lain sama seperti aku mencintaimu, sebab aku tak ingin lagi menabung rasa kecewa itu. Ku putuskan untuk tak lagi mengingatmu dan tidak lagi terkagum dengan segala hal tentangmu. Ku harap kau tidak menyesali sikap acuh mu jika suatu saat kau lihat aku dapat melupakanmu dengan sangat baik.

"Entah akan berakhir denganmu atau tidak, aku senang kita pernah dipertemukan, aku senang kau pernah jadi teman terbaikku, aku senang kita pernah berbagi suka dan duka satu sama lain."

"Jika kita tidak ditakdirkan bersama, aku percaya Allah telah mempersiapkan jodoh kita terbaik dari yang terbaik."

Terima kasih, darimu aku belajar bahwa mencintai tak harus memiliki. Terimakasih pernah berbagi tentang segala hal yang kau miliki di dunia ini. Semoga engkau bahagia selalu dalam kehidupanmu.

Dari aku yang pernah mencintaimu sepenuh hati.