Halo tuan! Sosok yang sampai saat ini masih selalu aku ceritakan dengan jutaan doa dan harap yang terlampir di hadapan Tuhan berharap bahwa aku dapat dengan sempurna mencintaimu dengan caraku. Aku memilih untuk mencintaimu dengan diam tanpa satu kata yang terucap seperti kata bait puisi indah yang berbunyi "aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada -Sapardi Djoko Damono, 1989-"

Aku bahkan tidak menyangka bahwa rasa ini masih bertahan hingga beberapa kali pergantian tahun, jika pada awalnya rasa yang tercipta sempat aku abaikan hingga sempat tertutup oleh cinta yang lain namun pada akhirnya aku harus menyerah dan mengakui bahwa rasa itu hadir kembali dengan kekuatan yang sama pada saat aku menatap dan bertemu kamu pertama kali. Tidak membutuhkan waktu yang lama dan cara rumit. Satu senyuman manis dengan lengkungan pipi khas yang kau miliki sudah dapat membuat hatiku berdegup kencang dan wajahmu memucat saat menatapmu. Namun waktupun aku pikir sudah tidak berpihak padaku disaat usiaku sudah mulai berkepala dua dan aku pikir hadirnya cinta bukan sesuatu yang main-main lagi seperti saatku remaja dulu.

Tuan, sosokmu sungguh layak dipuja, kepribadianmu yang luar biasa indah membuatku terus mengagumimu. Aku tau bahwa banyak sosok yang mengagumimu sepertiku atau bahkan melebihiku karena memang kau sangat pantas untuk dikagumi. Namun sayang aku tidak sanggup menyampaikan rasa ini. Dua alasan terbesar adalah aku wanita yang dicipta untuk bersabar menunggu dan yang kedua aku tau bahwa diriku jauh dari kata sempurna dan bukanlah sosok wanita yang pantas kau kagumi. Dengan segala kekurangan yang ada izinkan aku menyampaikan rasa melalui tulisan sederhana ini bahwa aku mengagumimu. Diujung perpisahanku denganmu karena kelulusan studi sempat aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa bahwa aku dapat menghabiskan liburan singkat denganmu dengan jarak yang cukup dekat, aku tahu itu semua atas kehendak Tuhan dengan sebuah keajaiban yang selalu aku syukuri setiap detiknya.

Bahkan dibenakku tidak terfikir sama sekali dapat bercengkrama denganmu bisa memperhatikanmu dari jarak sangat dekat dan dapat berbincang, karena sebelumnya setiap kali melihatmu saja aku merasa ragu merasa tidak sanggup menatap sosok pria terindah yang diciptakan Tuhan. Namun akupun tidak berharap lebih, bagiku semua itu sudah menjadi sebuah kenangan yang akan selalu aku kenang aku banggakan dan mungkin akan selalu aku ceritakan berulang kali.

Aku akan tetap memilih menjadi pemuja rahasiamu hingga suatu waktu nanti jika Tuhan mengizinkan kita bertemu kembali aku akan sanggup menyampaikannya, tenanglah akupun bukan sosok wanita yang ambisius untuk memilikimu bahkan dekat denganmu saja sudah menjadi anugerah terindah bagiku. Aku akan selalu mendoakan kebaikanmu dan menyebut namamu disetiap sujudku dan berharap kamu akan selalu diselimuti dengan kebahagiaan. Bahkan saat kau mulai memilih wanita yang terbaik menurutmu akupun selalu mendoakan agar kau mendapatkan sosok yang sebaik dirimu, aku hanya akan memperhatikannya dari jauh tanpa kata.

Advertisement

Untuk satu-satunya sosok pria yang menarik perhatianku di jurusan yang sama terimakasih sudah menjadi penyemangat kuliahku hingga aku berhasil menyelesaikannya dengan sangat baik, terimakasih sudah membuatku yakin bahwa menjadi pemuja rahasia adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Satu harap semoga bisa dipertemukan kembali suatu hari nanti, salam perpisahan dari pemuja rahasiamu.