Hai apa kabar? Kuharap kamu jauh lebih baik dari hari-hari kemarin yang kamu lalui bersamaku.

Aku menulis ini bukan untuk memintamu kembali, aku hanya menulis untuk meluapkan amarah dan rasa rindu yang tertahan. Kuharap suatu saat nanti kamu membaca tulisanku ini atau tidak perlu dibaca. Tulisan ini hanya luapan emosi rasa rindu yang berkecamuk dan mematikan akalku.

Subuh tadi, aku meraih handphone mencari contactmu lalu mengetik SMS “ Sayang, bangun sahur! “ lalu cepat-cepat ku hapus dan menyimpan handphoneku kembali. Ku benamkan wajahku ke bantal lalu terisak. Pikiran ku melayang kemana-mana . Berbagai macam pertanyaan menyeruak di otakku. Tergesa-gesa menuntut jawaban . “ Apakah yang salah dari diriku?, “ Mengapa harus ku alami patah yang teramat menyakitkan untuk kesekian kali? “ . “ Memang seperti inikah fase untuk mendapatkan yang lebih baik? “.

Aku bagaikan dipaksa meminum obat kapsul yang kulitnya dibiarkan terbuka. Bisa bayangkan rasanya? Luarbiasa PAHIT. Seperti diberikan perasan jeruk nipis di luka yang mengangga lebar. PERIH, hingga mengundang air mata berdesakkan keluar dari pelupuknya. Bagaikan datang ke sebuah jamuan makan yang sajiannya hanya Jus Nanas dan Keju yang akan mematikanku saat itu juga (karena aku membenci keduanya). Ingin kabur tetapi dituntut untuk tetap tinggal dan mencicipi. Rasanya seperti kamu di jatuhkan vonis hukum mati tetapi kamu harus di siksa terlebih dahulu.

Tiada kehilangan yang mudah. Aku tahu, akulah yang memintamu pergi. Tetapi, akulah yang paling sakit saat nanti melihat kakimu benar-benar melangkah menjauh. Ingatkah kamu saat ku bilang “ Jika kita benar berpisah, inilah patah yang lebih dari sekedar patah ?” Ya. Aku nyaris tak mampu berdiri tegap lagi.

Advertisement

Hari ini, awan hitam masih setia menggantung rendah di atasku, sinar mentari lenyap hari ini.Mungkinkah petanda semesta ikut berkabung atasku? Aku kembali terisak. Mengapa kehilangan begitu teramat menyakitkan? Mengapa rasanya begitu menggoyakkan dada? Mengapa hati ini terasa tersayat? Ku akui ini bukanlah patah hati pertamaku tapi inilah patah hati paling sakit yang ku alami. Hingga aku tak sanggup untuk bangkit sendiri. Aku terkulai lemas di kamarku hari ini, menatap nanar langit kamar menahan sesak yang paling dasyat yang ku alami hari ini.

Aku ingin mendengar suaramu, yang selalu menjadi sumber energy semangatku. Aku ingin melihat tawamu yang selalu membuat dadaku berdesir. Ya! Setiap melihat tawamu aku selalu jatuh cinta , selama ini aku tidak ingin mengakuinya. Karena aku ingin kamulah yang jatuh cinta pada senyumku setiap harinya. Sayangnya, akulah yang kalah telak ketika melihat tawamu.

Aku tahu hubungan kita cepat atau lambat akan berakhir juga. Tetapi, aku tak menyangka melepaskanmu sama saja mencabut paru-paruku sendiri membuatku tercekik kehabisan udara. Aku paham melepaskanmu bisa membuatmu bahagia. Kamu layak bahagia, tapi mengapa harus kamu? Bahagia yang kubiarkan pergi? Apakah aku juga tak layak bahagia? Mengapa keyakinan kita menjadi momok yang paling mengerikan untuk kita terjang? Aku sempat menuntut perjuanganmu, memaksamu memunculkan aku ke permukaan duniamu. Tapi? Apa yang terjadi? Masalah baru terjadi.

Aku tak mampu menyangkal bahwa memunculkanku adalah petaka bagimu. Semakin lama bersamaku malah membuat duniamu semakin rumit. Ah, hubungan macam apa ini? Aku ingin kau bahagia. Mengapa kau malah tersiksa begini? Sayang, aku tidak ingin menjadi egois seperti katamu. Maka dari itu, ku putuskan melepasmu.

Aku tak menjalani puasa ramadhan sepertimu, tahukah kau? aku selalu merasa sedih saat mengucapkan “ Selamat berbuka, Sayang!” dan selalu merasa perih ketika menggabarimu “ Aku prepare Gereja dulu ya sayang!” Tahukah setiap kali aku selesai mengirimkanmu pesan itu, aku menelan ludah. Mengapa masih bertahan jika bedanya terang-terangan begini?

Aku melepaskanmu bukan karena aku berhenti sayang. Aku melepaskanmu karena aku sangat menyayangimu. Aku ingin kau lebih bebas menjalani harimu, lebih normal, lebih lepas. Aku tahu sayang, ada seseorang yang menunggumu sendiri lagi. Ada seseorang diluar sana yang menunggu membahagiakanmu. Maka, ku mohon sayang! Berbahagialah saat sudah tak bersamaku lagi! Berjanjilah kau akan lebih bahagia agar melepasmu bukanlah usaha yang sia-sia.

Setiap malam yang sendu, aku selalu menyempatkan diri bercengkrama dengan Tuhan. Aku menceritakanmu panjang lebar. Namamu ku sebut berulang kali agar Tuhan tahu betapa spesialnya kamu bagiku. Hingga suatu kali, aku memohon untuk kebahagiaanmu. Aku setengah menjerit agar Tuhan lebih peka terhadap pintaku. Hingga hari ini aku sadar, aku lupa meminta kepada Tuhan perihal siapa yang memberi kebahagiaan itu sendiri. Jadi jika suatu hari nanti kau lebih bahagia dari hari-hari kemarin percayalah doaku telah memintanya jauh sebelum kita di pisahkan.

Saat nanti aku telah benar-benar pergi, siapa yang akan kamu marahi saat emosimu meletup karena tak sempat menonton PERSIB? Siapa yang akan membantumu mengingat karena penyakit lupamu saking banyaknya kerjaan yang kamu kerjakan dikantor? Siapa yang akan menceramahimu saat makan siangmu kamu tunda hingga sore menjelang? Siapa yang akan mengontrol saat sakit mulai menyergap tubuhmu lagi? Siapa yang akan menganggu harimu 24jam hanya untuk mengetahui kabarmu? Siapa yang akan menjadi tempat keluh kesahmu saat kekesalan akan kerjamu membakar emosimu? Siapa yang kamu akan telepon hanya untuk mendengar suaranya menemani kau tidur saat kalut menghampirimu? Siapa yang akan kamu video call hanya untuk memperlihatkan permainan skateboardmu?

Aku mencintaimu. Bahkan ketika menuliskan ini pun aku masih dalam keadaan mencintaimu setengah mati. Ada rasa sakit yang melekat entah mengapa membuatku kembali terisak. Aku bohong saat berkata ikhlas melepasmu. Aku hanya menyadari bahwa bersamaku lebih lama malah akan melukaimu lebih banyak.

Aku mencintaimu seperti detak dan detik pada jam dinding. Jika suatu saat aku berhenti, itu hanya karena aku mati.

Berbahagialah, sayang!

Aku bersyukur Tuhan pernah menghadirkan kamu di hidupku. Terimakasih untuk segala hal bahagia yang telah kamu ciptakan untukku. Untuk langit cerah dan awan merekah yang selalu menghadirkan ceria dalam senyumku.

Demi cinta yang pernah kita rajut bersama. Berbahagialah!

Dariku, Wanita yang sempat begitu bahagia karena bersamamu.

N C U