Sahabat, ketahuilah:

Kehidupan tanpa para TEMAN itu seperti kematian tanpa para saksi.

Coba deh kita renungi kalimat itu. Masihkah kita butuh teman?

Jawabnya, tentu. Karena teman atau sahabat itu orang-orang yang sama-sama berjuang, dalam situasi dan keadaan apapun. Kita sering sebut “teman seperjuangan” saat di sekolah, di kampus, saat mencari kerja, saat nongkrong dan saat-saat lainnya.

Hari ini, esok dan di masa tua nanti.

Advertisement

TEMAN atau PERTEMANAN pasti diperlukan, dibutuhkan oleh siapapun. Karena tiap manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, makhluk yang harus bersosialisasi. Pertemanan, di mana pun, tidak selalu dibangun atas dasar jalinan hubungan rasional semata. Berteman atas kepentingan sesaat, janji, atau subjektifitas itu salah, mudah bubar dan “dimakan waktu”.

TEMAN dan PERTEMANAN yang sesungguhnya berpijak atas dasar ikatan emosional, yang dilandasi oleh nilai-nilai ketulusan, kejujuran dan kasih sayang. Pertemanan itu tidak dibangun atas dasar EGO. Karena bagi kita, teman atau sahabat bukanlah RAGA tapi JIWA.

Lha, emang masih ada TEMAN atau PERTEMANAN atas dasar JIWA?

Nah, inilah saaatnya kita merenung, berpikir sejenak tentang arti pertemanan. Berapa banyak ikatan alumni atau komunitas tongkrongan yang “niatnya” tak lekang oleh waktu, tapi akhirnya hanya “seumur jagung”. Ikatan alumni atau komunitas, apalah namanya, banyak yang “mati suri” jika tidak mau dibilang “mati dengan sendirinya”.

Mengapa pertemanan kita bisa mati suri?

Jawabnya sederhana, kita menggunakan EGO dalam berteman. Banyak orang memakai “jaket” kekinian untuk mengenang masa lampau. Kita sering lupa, pangkat, jabatan, kedudukan atau status sosial yang kita miliki adalah hari ini, sedang pertemanan justru terjalin di masa lalu. Maka harusnya, Anda, Kamu, Saya seharusnya “melepas” jaket KEAKUAN dalam pertemanan. Berteman adalah KITA, Kamu dan Aku bersama-sama.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Kita ini alumni dari manapun, sekolah manapun, kampus apapun, organisasi apapun. Gak sedikit ikatan alumni yang ada dan berdiri. Ada yang mati suri, ada yang mati dengan sendirinya, atau ada yang gak bisa berbuat apa-apa. Semua itu terjadi karena ekspektasi yang berlebihan. Ikatan alumni atau alumninya sendiri tentu tidak bisa membangun hubungan pertemanan di atas “EGO” pribadi.

Maka pesan untuk ikatan alumni atau alumni, patut menjunjung tinggi spirit sederhana, yaitu DAKU KEKET alias DATANG KUMPUL KENANG KETAWA.

DATANG, jalinan hubungan yang lebih emosional untuk DATANG disaat ada undangan pertemuan. Angkatan 89 SMAN 30 sadar, pertemanan akan bisa langgeng bukan hanya untuk “merasa menjadi bagian” tapi butuh untuk “datang” ke dalam bagian, saat ada undangan yang belum tentu sering terjadi.

KUMPUL, jika sudah datang maka berkumpul, menjadi SATU menjadi KITA dalam nuansa kekompakan, kebersamaan dan saling pengertian. Seperti pepatah, “mangan ora mangan sing penting ngumpul”. Setiap kita akan menjadi kokoh dan solid bila mau KUMPUL. Jika tidak, maka kita akan tercerai berai.

KENANG, menjadi momentum untuk mengenang masa-masa di sekolah, masa-masa nakal pada era 89-nan. Mengenang ruang kelas, mengenang guru, mengenang cewek atau cowok yang disukai. KENANG, kata sederhana yang memiliki “kekuatan makna” pada jiwa kita masing-masing. Kenanglah pacar-pacarmu itu, walau akhirnya gak jadi jodoh hahaha

KETAWA, menjadi momen untuk membangkitkan rasa ruang gembira. Ketawa, tertawa mengenang perilaku, cerita lucu sewaktu sekolah. Dan ingat, KETAWA di zaman sekarang sulit padahal menyehatkan. Kesibukan kerja, stress atau keseharian masing-masing makin membuat kita susah tertawa. Maka, KETAWA-lah karena itu penting.

Spirit DAKU KEKET inilah yang menjadi landasan dalam membangun pertemanan. Pertemanan yang tanpa pamrih, pertemanan yang tulus dan komit untuk selalu DATANG KUMPUL KENANG KETAWA dimanapun, kapanpun.

Berteman, tidak perlu memaksakan ide, tidak perlu memaksa harus berbisnis (jika belum mungkin). Berteman yang tidak membawa “embel-embel” pangkat, jabatan atau status sosial. Maka, pertemanan itu akan langgeng dan gak rusak karena “tersakitinya” sebuah hubungan. Memang berteman di era sekarang, kita perlu cara yang BEDA, cara yang lebih kreatif untuk memeliharanya. Tidak sekadar kumpul lalu bubar.

Emangnya masih ada, cara berteman yang seperti itu?

Masih, salah satunya adalah Angkatan 89 SMA Negeri 30 Jakarta. Komunitas alumni SMA 30 yang lulus 26 tahun lalu. Hingga kini mereka masih bersama, bersatu menjalin silaturahim dan kekompakan atas dasar KITA, bukan AKU. Siapa elo hari ini tidak terlalu penting. Tapi yang penting adalah KITA pernah bersama satu sekolah, satu angkatan. Satu rasa, satu jiwa dalam berjuang belajar semasa di SMA.

Gaya bicara, gaya becanda hingga tampilan Angkatan 89 SMAN 30 ini tidak banyak berubah. Kecuali tampang dan body tubuh. Ada yang dulu jelek jadi cantik, ada yang dulu ganteng jadi jelak hehe, yang bener?

Lalu apa yang hendak dituju? Satu saja, tetap menjalin silaturahim. Sebagai simbol pertemanan dimanapun dan kapanpun. Karena mereka memang “dibesarkan’ di era yang gak mungkin terulang lagi. Era remaja, 26 tahun lalu, yang basisnya ikatan sekolah dan tongkrongan semasa SMA. Mereka sadar, 10 atau 20 tahun mendatang, mereka mulai “kesepian”.

Di saat itulah, pertemanan Angkatan 89 SMAN 30 akan lebih terasa, lebih dikangeni dan ingin selalu bisa diulang saat-saat REUNI atau pertemuan lainnya.Maka, pertemanan model begini harus terus dihidupkan. Bukan hanya untuk “napak tilas”, tapi juga bisa jadi “media” untuk merintis masa tua yang gak frustasi, yang gak kesepian.

Ibarat seperti “pohon bambu”, pohon yang tidak berbatang besar tapi selalu kokoh diterpa angin kencang sekalipun. Pohon bambu tidak pernah roboh walaupun diterjang angin puting beliung. Karena pertemanan yang kokoh dan kuat selalu dilandasi fleksibilitas yang luar biasa. Ingat, kita bukan siapa-siapa. Kita juga bukan apa-apa. Maka peliharalah TEMAN dan PERTEMANAN kita. Karena kita adalah HOMO HOMINI SOCIUS, manusia adalah kawan bagi sesama.

Teruslah berjuang para alumni, para ikatan alumni, Salam Ciamikkk !!