Dear my future husband…

Mungkin sekarang saya tidak tau anda dimana dan sedang apa atau mungkin saya tau anda dimana dan sedang apa. Mungkin juga saya tidak tau anda siapa atau mungkin saya tau anda adalah oranya. Bila anda sedang bersama orang lain diluar sana, cepatlah sadar bahwa bukan dia orangnya. Bila anda adalah yang sedang bersama dengan saya sekarang, bacalah ini baik-baik.

Saya hanya ingin memberitahu beberapa hal kepadamu. Saya akan jadi istri yang terbaik untukmu, saya akan memenuhi semua yang kamu mau dan yang kamu butuhkan. Tapi, izinkan saya mengejar karier saya yang sudah saya tekuni sebelum saya berada satu rumah bersama mu saat ini. Atau mungkin izinkan saya mengejar hal-hal yang belum sempat saya dapatkan. Namun, saya berjanji saya akan berangkat kerja atau mengurus pekerjaan saya setelah kamu pergi kekantor dan setelah saya membereskan pekerjaan rumah. Dan saya akan pulang sebelum kamu sampai dirumah. Tenang saja saya tidak akan menggunakan jasa pembantu yang akan mengorek dalam kantongmu. Ingat, saya bekerja bukan karena gajimu tidak cukup. My Future Husband, saya yakin bahwa nanti gajimu lebih dari cukup untuk menghidupi ku, tapi jangan paksa saya meninggalkan hal-hal yang sudah saya perjuangkan sebelum saya bersama mu.

Saya tipe orang yang tidak bisa tidur dalam keadaan terang, jadi jangan nyalakan lampunya. Peluk saya sebelum tidur dan jangan hanya berkutat denga hobimu atau bahkan pekerjaanmu. Saya akan membangunkan mu shalat subuh bersama setiap pagi, lalu saya akan memasak sarapan buatmu. Mungkin saya tidak pandai memasak. Namun, saya masih bisa membuka tutorial youtube, Saya akan belajar memasak sedikit demi sedikit.

Tenang aja, saya tidak akan selalu memesan delivery yang lagi lagi akan mengorek kantongmu. Jangan kaget bila suasana rumah dipagi hari sudah full music. Saya termasuk kategori orang yang senang mendengarkan musiK di pagi hari. Mungkin nanti ada saat dimana saya hanya stay at bed all the time and listen the music. Jangan suruh saya melakukan hal berat jika saya sedang ada di keadaan seperti itu. Mengertilah,lebih baik kau tetap menemani saya dan mendengarkan music bersama-sama.

Advertisement

Mungkin nanti saya akan keluar dari karier saya saat kandungan saya sudah sangat bersar dan semakin menyiksa saya. Tapi itu tidak menandakan bahwa saya akan diam saja dirumah menunggu gaji mu turun tiap bulan. Izinkan saya membuka usaha, biar orang lain yang mengurus dan saya yang memantau. Saya harap kita punya anak kembar 3 dan cowok semua. Maaf bila nanti saat hamil saya jarang membersihkan rumah, maaf bila nanti saya jarang memasak dan mengharuskan kamu mengorek kantongmu untuk beberapa makanan, Maaf bila saya nanti akan merepotkan mu dengan keinginan-keinginan aneh.

Dear my future husband, pernikahan bukan hanya perkara 1 bulan 2 atau 3 bulan tapi selamanya. Entahlah saya bukan tipe orang yang membenarkan akan perceraian dan saya tidak mau itu terjadi. Bila kita bertengkar, sampaikan apa yang kita ingin sampaikan, jangan menahan. Selesaikan dan memaafkan. Bila tiba-tiba saya diam terhadapmu, itu menandakan ada sikapmu yang membuat saya kecewa. Saya akan menjaga jarak dari mu, hanya untuk beberapa saat. Itu saya lakukan hanya untuk menahan mengeluarkan kata-kata tak berguna yang seharusnya tidak keluar. Bila emosi saya sudah tenang, tenang saja saya akan membicarakannya. Namun, jangan sekali-kali cuekin saya!

Jangan terlalu mengejar karirmu. Jangan membawa masalah kantor ke rumah dan jangan cuekin saya karena masalah kantor itu. Berkeluh kesahlah kepada saya. Saya termasuk orang yang setia mendengarkan cerita dan tidak akan bocor (karena saya orangnya pelupa.) Tapi saya akan memberimu saran terbaik, saya terkenal pandai memberi saran. Jangan sesekali membawa pekerjaan kantor mu kerumah. Rumah adalah tempatmu beristirahat bersama saya dan anak anak. Lagi pula kamu tidak digaji untuk lembur-di-rumah-mu itu.

Dan mari kita rencanakan pergi keluar seminngu sekali. Entah ke wahana rekreasi atau sekedar ke mall atau bahkan sekedar lari pagi. Jangan mentang-mentang kita sudah berada serumah dan kau berhenti mengajak ku jalan keluar. Tetaplah romantis karena saya menyukai pria yang manis. Berilah saya bunga dan kejutan yang buat kita semakin dekat.

Dear my future husband.. izinkan saya mengunjungi orang tua saya kapanpun saya mau. Karena saya adalah anak satu-satunya mereka, saya tidak akan mengizinkan mereka berteman dengan kesepian. Atau bahkan izinkanlah mereka beberapa kali bermain kerumah kita. Tenang saja, saya pun akan mengurus kedua orang tua mu. Saya pun akan mengunjugi mereka bersama cucu cucu mereka.

Dear my future husband.. marilah kita rajin menuntut ilmu, menghasilkan uang yang banyak nantinya agar bisa membelikan apa yang anak kita minta dan menyekolahkan dimanapun yang anak kita mau. Jangan biarkan anak kita terhambat karena biaya.

Berhati-hatilah dan rawatlah dirimu saat ini.