Ramadhan yang paling berbeda dan istimewa diantara 21 tahun yang pernah terlewati. Keluar dari sangkar bernama rumah kemudian menghabiskan Ramadhan penuh berkah di kota rantau, oh ya desa rantau juga. Lintasan takdir membawaku ke sebuah desa penghasil susu sapi perah yang terletak sekitar satu jam dari pusat kota rantauku, Malang.

Kusebut istimewa karena 25 dari 30 hari Ramadhan ku habiskan diratusan kilometer dari kampung halaman dengan lingkungan baru dan teman yang random. Adaptasi panjang tentu saja diperlukan demi merengkuh apa itu kenyamanan. Tak apa peluh dan air mata turut serta berperan asal senyum manis akan menjadi penutup dongeng empat puluh lima hari ini.

Sentuhan tangan bunda yang kerapkali membangunkanku dari nyenyaknya tidur malam tentu tak lagi ada. Tapi jangan khawatir karena Tuhan selalu memberikan suratan terbaik untuk hambanya. Tangan bunda berganti dengan seruan warga yang membangunkan aku dan tim tiap kali jarum jam menunjukkan pukul 03.00 pagi. Tak seperti dirumah yang ketika satu sentuhan bisa memfinishkan mimpi yang berjalan. Disini butuh beberapa kali teriakan yang beradu dengan sentuhan teman sekamar untuk menyelamatkanku dari tertinggalnya makan sahur.

Menu sahur yang biasanya sudah tertata rapi di meja makan sekarang harus beralih dengan buatan tangan – tangan wanita satu tim yang meracik se-enak mungkin bahan ala kadarnya untuk dijadikan menu sahur. Ya. Makan sahur beberapa hari ini membuatku keluar sangkar dan kabur dari kenyamanan sahur di rumah bersama keluarga.

Tak hanya sahur, berbuka pun selalu berbeda dari rumah. Bersyukur saja karena tidak ada menu wajib yang harus dikonsumsi seperti dirumah –kurma. Justru makanan yang seringkali ku hindari menjadi takjil andalan di posko –gorengan. Tapi rupanya hampir tak ada bedanya. Gorengan yang setiap hari kami makan gurih dan manisnya bertambah karena berbumbu kehangatan dan canda tawa.

Advertisement

Jangan kuatir karena tak akan ada lagi pagi dan siang hanya menatap televisi dan pasrah mengais dingin dari lantai. Karena banyak sekali agenda – agenda yang bisa dikerjakan untuk membunuh waktu dan menanti waktu sholat. Dan Aku tidak perlu lagi mengais dingin pada lantai karena kami tidur beralaskan tanah yang ditumpuk dengan karpet. Kalau gerah ya tinggal mandi, dijamin segernya melebihi dinginnya lantai.

Pemandangan wajib yang selalu melekat dibenak adalah lalu lalang ibu – ibu yang tiap pagi dan sore membawa botol alumunium jumbo berisi susu perah sapi yang diletakkan diatas kepala. Kok bisa ya nggak jatuh? Kehebatan ini tak akan bisa kami tiru karena rutinitas dan kebiasaan memang tak akan bisa dibeli oleh siapapun.

Kini menjelang tidur banyak sekali suara – suara pendukung. Bukan lagi hanya sekedar lantunan ayat suci al Quran dari langgar sebelah posko tapi juga suara sapi dan tokek yang tak mau kalah. Tapi bersyukurlah bahwa Tuhan masih mengizinkan kami untuk senantiasa belajar, bukan lagi belajar melalui buku – buku mahal bak masayarakat kota. Tetapi sejengkal lebih dekat dengan aura desa yang serba sederhana.

Mari lupakan sejenak kasur empuknya rumah dan nikmati lantai tanah beralaskan karpet. Hilangkan manja – manja sama mama untuk urusan perut, Karena menu dan semua reribetnya harus kita siapkan sendiri. Tak ada acara pulang malam karena seolah – olah pesona desa tidak mengijinkan untuk itu. Justru berbaur dengan tetangga dan perangkat desa menjadi makanan utama. Tuntutan untuk peka dan peduli terhadap lingkungan sekitar menjadi point tersendiri. Tujuh hari lagi genap sudah empat puluh lima hari kebersamaan. Pertanda buku dongeng harus ditutup paksa. Semoga setelah keluar dari godokan panci panas bernama takdir , banyak pelajaran hidup yang melekat pada diri sehingga kami kembali tak lagi menjadi orang yang acuh terhadap lingkungan, tetapi malah peduli dan memajukan kesosialan diri. Karena nikmat Tuhan selalu cukup, lebih dari cukup. Kenapa kita masih enggan bersyukur ? sedang hanya syukur yang menambah kebermaknaan denyut nadi kita setiap harinya.